Ringkasan Berita:
- Kementan menyalurkan Sokongan sumur bor dan irigasi Kepada petani Banyuwangi.
- Sumur bor di Desa Kaotan Pandai mengairi lebih dari 50 hektare sawah.
- Produktivitas petani meningkat dari dua kali menjadi tiga kali panen per tahun.
- Program ini menjadi langkah strategis menghadapi musim kemarau.
Banyuwangi (Liputanindo.id) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapat dukungan strategis dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian melalui Sokongan sumur bor dan jaringan irigasi.
Sokongan tersebut menjadi bagian dari Program Optimasi Lahan (Oplah) yang bertujuan memperkuat ketahanan air pertanian sekaligus meningkatkan indeks pertanaman di tengah ancaman kekeringan musim kemarau.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, meresmikan rumah pompa di areal persawahan Grup Tani Keji Beling, Desa Kaotan, Kecamatan Blimbingsari, Jumat (8/5/2026).
Menurut Ipuk, sumur bor tersebut Pandai mengairi lahan pertanian seluas 50,63 hektare yang dikelola oleh 63 petani.
“Adanya sumur bor ini memberikan kepastian ketersediaan air bagi petani sepanjang tahun. Sehingga dapat mendorong produktivitas pertanian sekaligus juga sebagai upaya antisipasi kekeringan jelang musim kemarau yang segera tiba,” kata Ipuk.
Keberadaan rumah pompa dan sumur bor dinilai Tak hanya menjaga stabilitas pasokan air, tetapi juga meningkatkan efisiensi distribusi irigasi sehingga petani Tak Kembali harus bergantian memperoleh Jenis air.
Dengan sistem pengairan yang lebih Kukuh, petani kini Pandai meningkatkan intensitas tanam, mempercepat masa produksi, dan menekan risiko gagal panen Demi musim kemarau.
“Mari kita jaga Berbarengan-sama fasilitas yang sudah tersedia ini supaya Dapat digunakan secara jangka panjang Kepada kesejahteraan Segala,” ujar Ipuk.
Program Optimasi Lahan 2025 di Banyuwangi mencakup total 1.008 hektare lahan pertanian di Kecamatan Rogojampi, Blimbingsari, dan Srono.
Program ini meliputi pembangunan 29 unit sumur bor, tiga unit jaringan irigasi tersier sepanjang 300 meter, serta Sokongan benih Kepada 1.001 hektare sawah sebanyak 25.025 kilogram.
Ketua Grup Tani Keji Beling Desa Kaotan, Isa Ansori, mengaku Sokongan tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan hasil pertanian.
“Sebelum Terdapat sumur bor, petani harus bergantian Kepada dapat air, sekarang Tak Kembali. Masa tanam dan panen juga bertambah yang tadinya dua kali setahun Dapat tiga kali setahun,” ujarnya.
Selain meningkatkan hasil pertanian, fasilitas sumur bor juga membuka Kesempatan ekonomi baru melalui budidaya ikan dan wahana kolam renang anak yang dikelola Grup tani.
Pendapatan tambahan tersebut dimanfaatkan Kepada mendukung operasional sumur bor dan kebutuhan Grup tani secara berkelanjutan.
Langkah ini mempertegas Banyuwangi sebagai daerah yang agresif memperkuat sektor pertanian modern berbasis infrastruktur air, sekaligus mendukung agenda nasional dalam menjaga ketahanan pangan berkelanjutan. [alr/beq]
