Ringkasan Berita:
- Member Komisi X DPR RI Muhamad Nur Purnamasidi menolak wacana penghapusan prodi non industri.
- Ia menyebut kebijakan tersebut sepihak dan Bukan pernah dibahas dalam rapat kerja DPR.
- Purnamasidi menilai pendidikan Bukan boleh hanya berorientasi industri dan STEM.
- Menurutnya, pendidikan Kepribadian dan penguatan tenaga pendidik tetap harus menjadi prioritas nasional.
Jember (Liputanindo.id) – Muhamad Nur Purnamasidi, Member DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Jember-Lumajang, Jawa Timur, menyesalkan munculnya wacana penghapusan program studi yang dianggap Bukan relevan dengan industri.
Rencana ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis, 23 April 2026. Kemendikti mencatat setiap tahun kampus meluluskan hingga 1,9 juta sarjana yang kesulitan mencari pekerjaan, karena kebutuhan di lapangan Bukan cocok dengan latar belakang pendidikan mereka.
“Kami di Komisi X juga kaget, karena itu enggak pernah dibahas di dalam rapat-rapat kerja. Jadi itu sepihak dari Kementerian. Tentu prinsipnya Bukan perlu Terdapat penutupan,” kata Purnamasidi, ditulis Selasa (12/5/2026).
Menurut Purnamasidi, belum Terdapat analisis mendalam terhadap terpenuhinya ketersediaan tenaga guru dan dosen di Indonesia. “Kedua, ke depan kita juga Tetap mau upskilling para tenaga pendidik kita. Proses mereka menjadi pendidik bukan hanya empat tahun,” katanya.
Komisi X sedang mempersiapkan keputusan Buat mendukung calon pendidik harus berasal dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). LPTK adalah perguruan tinggi negeri maupun swasta, yang ditunjuk pemerintah Buat menyelenggarakan program pengadaan, pendidikan, dan pelatihan guru serta Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang bertujuan mencetak tenaga pendidik profesional di berbagai jenjang pendidikan.
“Kalau kebijakan ini dilaksanakan tentu ini berdampak ke depan Buat upaya kita meng-upskilling para tenaga-tenaga pendidik yang tersedia sekarang. Makanya menurut saya (pernyataan Kemendiktisaintek) ini ceroboh. Kebijakan ini enggak dibicarakan langsung dilontarkan begitu saja,” kata Purnamasidi.
Puirnamasidi Bukan keberatan Apabila pemerintah berkonsentrasi pada STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics), yang mempersiapkan siswa Buat menghadapi dunia kerja modern.
“Tapi jangan kemudian yang non STEM dikalahkan. Masing-masing saling menguatkan. Bukan ini dikuatkan, itu kemudian dihancurkan, enggak boleh. Itu bukan kebijakan namanya. Itu namanya pemusnahan,” kata Purnamasidi.
Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia menilai Malah Begitu ini pendidikan Kepribadian di Indonesia Bukan berjalan. “Pendidikan karakternya Bukan Terdapat, karena orientasinya matematis banget, satu tambah satu sama dengan dua. Sangat industrialis,” katanya.
“Pendidikan bukan mencetak orang Buat Pandai bekerja saja. Tapi bagaimana orang Pandai punya Kepribadian yang Bagus, yang Pandai mengembangkan nilai-nilai luhur di negeri kita,” kata Purnamasidi. [wir/beq]
