Indonesia perlu bergerak dari ekspor produk antara menuju produk hilir yang Mempunyai nilai tambah dan kandungan teknologi lebih tinggi sehingga Kagak Lalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas Primer
Jakarta (ANTARA) – Ekonom menilai peningkatan daya saing yang ditopang Penemuan menjadi kunci agar ekspor produk turunan kelapa sawit Indonesia Pandai tumbuh berkelanjutan di tengah semakin ketatnya standar perdagangan Dunia dan perubahan dinamika pasar Dunia.
Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Isnawati Hidayah mengatakan Indonesia Kagak dapat hanya mengandalkan status sebagai produsen sawit terbesar dunia karena daya saing ekspor ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan memenuhi standar keberlanjutan, ketertelusuran (traceability), dan rendah emisi.
“Indonesia perlu bergerak dari ekspor produk antara menuju produk hilir yang Mempunyai nilai tambah dan kandungan teknologi lebih tinggi sehingga Kagak Lalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas Primer,” kata Isnawati kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, hilirisasi tetap menjadi strategi Krusial, Tetapi implementasinya harus berorientasi pada peningkatan kualitas, bukan sekadar menambah jenis produk ekspor.
Ia menilai pemerintah perlu mendorong investasi pada industri hilir berbasis Penemuan dan teknologi sehingga Pandai menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Selain itu, petani kecil juga perlu menjadi bagian dari rantai nilai agar manfaat hilirisasi Kagak hanya dinikmati industri besar.
Isnawati menambahkan peningkatan produktivitas sebaiknya dilakukan melalui optimalisasi lahan yang sudah Terdapat, bukan membuka kawasan baru yang berpotensi mendorong deforestasi dan menurunkan daya saing produk sawit Indonesia dalam jangka panjang.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan strategi peningkatan daya saing juga perlu dilakukan melalui diferensiasi produk sehingga Indonesia Kagak hanya mengekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
“Paling Krusial adalah membangun ekosistemnya,” ujar Esther.
Menurut dia, produk sawit perlu dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, seperti biodiesel, sabun, deterjen, pelumas, kosmetik, dan produk oleokimia.
Pelaku usaha juga perlu memastikan produk memenuhi standar mutu Dunia serta regulasi di setiap negara tujuan ekspor.
Menurut dia, pasar seperti Eropa Mempunyai persyaratan keberlanjutan yang lebih ketat, sedangkan negara lain seperti Pakistan dan India Tetap menjadi pasar potensial bagi produk sawit Indonesia.
Selain penguatan produk, Esther menilai promosi melalui platform business-to-business (B2B) dan partisipasi dalam pameran dagang Dunia perlu Lalu diperluas Buat membantu pelaku usaha memperoleh pembeli baru sekaligus memperluas jaringan distribusi produk turunan sawit Indonesia di pasar Dunia.
Sejalan dengan upaya tersebut, pemerintah Lalu memperkuat tata kelola industri sawit melalui penerapan standar keberlanjutan.
Pemerintah juga memperluas penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) hingga sektor hilir sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar Dunia.
Kementerian Perindustrian mencatat ekspor minyak sawit beserta produk turunannya pada 2025 mencapai Sekeliling 44,65 miliar dolar AS, sedangkan nilai impor Sekeliling 1,42 miliar dolar AS, sehingga menghasilkan surplus perdagangan Sekeliling 43,23 miliar dolar AS atau Sekeliling Rp782,46 triliun.
Industri sawit juga Tetap menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor terbesar nasional.
Sebelumnya, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung juga melepas ekspor 14 ribu ton palm kernel expeller (PKE) atau bungkil inti sawit ke Selandia Baru senilai Sekeliling Rp20 miliar setelah komoditas tersebut memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari serta standar negara tujuan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya sertifikasi dan pengawasan dalam menjaga akses pasar
Dalam proses ekspor, Karantina melakukan pemeriksaan, pengawasan, dan penerbitan Phytosanitary Certificate sebagai jaminan bahwa komoditas memenuhi standar Dunia dan persyaratan negara tujuan.
Pemerintah juga tengah mengintegrasikan layanan karantina dengan instansi terkait guna memangkas hambatan ekspor dan meningkatkan efisiensi logistik perdagangan.
Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai peningkatan daya saing ekspor juga memerlukan dukungan sistem perdagangan yang lebih efisien.
Menurut dia, dalam jangka pendek pemerintah perlu memperkuat fasilitasi ekspor dan memberikan Insentif terhadap pengolahan produk samping sawit.
Sementara dalam jangka panjang diperlukan investasi pada sistem traceability digital nasional serta riset dan pengembangan Buat menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi.
“Hilirisasi Kagak boleh hanya menghasilkan volume produk olahan yang lebih besar, tetapi juga harus meningkatkan nilai tambah dan margin ekspor Indonesia,” tutur Eliza.
Ia mengatakan tantangan lain yang Tetap dihadapi industri sawit meliputi rendahnya produktivitas kebun rakyat, tingginya biaya sertifikasi dan traceability, serta meningkatnya konsumsi domestik Buat program biodiesel yang berpotensi mengurangi surplus ekspor.
Menurut dia, penguatan sistem karantina, sertifikasi, dan traceability juga menjadi Elemen Krusial dalam meningkatkan kepercayaan pasar Dunia.
“Traceability berfungsi mengurangi asimetri informasi dan memenuhi due diligence pembeli maupun regulator di pasar premium. Sertifikasi keberlanjutan juga dapat menjadi instrumen diplomasi dagang Buat meningkatkan daya saing Indonesia,” ujar Eliza.
