Rupiah Naik 67 Poin ke Level Rp18.061/USD di Jumat Pagi, 10 Juli 2026

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.


Jakarta: Nilai Salin (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini akhirnya mengalami penguatan setelah dalam beberapa hari terakhir Lalu turun.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 10 Juli 2026, rupiah hingga pukul 09.28 WIB berada di level Rp18.061 per USD. Mata Duit Garuda tersebut naik 67 poin atau setara 0,37 persen dari Rp18.128 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.085 per USD. Analis pasar Duit Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

“Kepada perdagangan hari ini, mata Duit rupiah fluktuatif Tetapi ditutup melemah di rentang  Rp18.120 per USD hingga Rp18.180 per USD,” Jernih Ibrahim.

 

 

Trump ancam serangan baru ke Iran

Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran segera setelah serangan Rabu malam.

Serangan baru terhadap Iran yang bertujuan Kepada menjaga Selat Hormuz yang Krusial tetap terbuka Kepada Lewat lintas, beberapa jam setelah Trump menyatakan kesepakatan sementara Kepada mengakhiri perang telah berakhir.

AS mengatakan serangan terbarunya merupakan tanggapan terhadap serangan pada Selasa terhadap tiga kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Serangan AS mengguncang beberapa kota di sepanjang pantai selatan Iran dan menyebabkan beberapa daerah tanpa Aliran listrik.

Iran mengatakan mereka menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai tanggapan atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur.

Beberapa perusahaan asuransi perang telah menyarankan perusahaan pelayaran Kepada menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz, dan yang lainnya sedang meninjau ketentuan polis mereka setelah serangan kapal Iran yang diperbarui.

Risalah rapat Fed Juni kurang lunak daripada yang dikhawatirkan pasar, dengan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan Etnis Kembang tahun ini.

“Tetapi, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi yang kaku, sebuah tren yang dapat memicu kenaikan Etnis Kembang di akhir tahun, terutama Kalau tekanan harga menunjukkan sedikit tanda-tanda pendinginan,” papar Ibrahim.

Di sisi lain, inflasi AS telah meningkat tajam sejak dimulainya perang AS-Iran pada akhir Februari, dengan pertumbuhan harga tetap jauh di atas Sasaran tahunan The Fed sebesar dua persen. Ketua The Fed Kevin Warsh telah menegaskan kembali komitmen bank Kepada memenuhi Sasaran tersebut selama pidato baru-baru ini.



(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)

 

Laporan APBN semester I jadi sentimen negatif pasar

Penyelenggaraan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang lebih Segera pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar, dimana APBN Tahun 2026 tetap dirancang Kepada menjadi instrumen Primer dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung Penyelenggaraan delapan agenda prioritas nasional, Yakni penguatan ketahanan pangan; penguatan ketahanan Daya; Penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kemudian, peningkatan kualitas sektor pendidikan, penguatan program layanan kesehatan; pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan sistem pertahanan semesta, dan percepatan investasi serta peningkatan perdagangan Dunia. APBN juga tetap menjalankan fungsi strategis sebagai instrumen fiskal Kepada menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, sentimen konsumen merosot Kepada bulan kedua berturut-turut pada Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September Lewat. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional.

“Koreksi ini terlihat dari tren pelemahan indeks Primer maupun seluruh komponen penyusunnya yang kompak bergerak melandai menjelang penutupan semester pertama tahun ini,” terang Ibrahim.

Berdasarkan data makro yang dirilis bank sentral, Nomor Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 bertengger di level 117,8. Realisasi tersebut menunjukkan penurunan yang konsisten Kalau dibandingkan dengan pencapaian pada Mei 2026 yang sempat berada di level 120,9, atau posisi awal tahun pada Januari 2026 yang sempat perkasa di level 127,0.

Meskipun mengalami penurunan berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir, BI menegaskan kondisi psikologis ekonomi masyarakat secara Standar Tetap berada di Area Terjamin. Keyakinan konsumen dinyatakan tetap terjaga pada area optimistis karena perolehan agregat Nomor IKK nasional terpantau konsisten berada di atas ambang batas parameter dasar sebesar 100.