Bahlil: Program B50 Berpotensi Irit Devisa Rp170 Triliun dan Serap 2,1 Juta Tenaga Kerja

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Tangkapan layar YouTube Liputanindo.


Karawang: Menteri Daya dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan implementasi program biodiesel B50 diproyeksikan meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di dalam negeri. Peningkatan konsumsi tersebut dinilai dapat memperkuat kepastian pasar bagi petani sawit.

Bahlil mengatakan kebutuhan CPO Kepada mendukung program B50 diperkirakan naik dari 15,2 juta ton menjadi Sekeliling 16,3 juta hingga 17 juta ton.

“Program B50 ini meningkatkan kebutuhan CPO kita dari 15,2 juta menjadi 16,3 juta Tiba dengan 17 juta ton. Sehingga dapat membantu memberikan kepastian pasar bagi petani sawit,” kata Bahlil dalam Peresmian dan Peluncuran Bahan Bakar Biodiesel B50 di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.

Menurut Bahlil, peningkatan pemanfaatan CPO di pasar domestik menjadi langkah strategis ketika harga ekspor melemah atau permintaan dari negara lain menurun. Dalam kondisi tersebut, sebagian produksi CPO dapat dialihkan Kepada mendukung program hilirisasi melalui implementasi B50.

“Kalau pengusaha-pengusaha kita, Pak, katakanlah CPO harganya di luar rendah dan negara lain Kagak mau, ya sudah Pak kita sebagian kita sisihkan saja Kepada kita bangun hilirisasi B50 supaya harga petani naik, industri naik, negara sejahtera,” tutur dia.

 


(Ilustrasi B50. Foto: Gapki.id)
 

Irit devisa hingga Rp170 triliun

Selain memperluas penyerapan CPO di dalam negeri, program B50 diperkirakan meningkatkan efisiensi devisa negara. Bahlil menyebut program B40 Demi ini Pandai menghemat devisa Sekeliling Rp133 triliun. Dengan implementasi B50, nilai penghematan diproyeksikan meningkat menjadi Rp170 triliun.

“Nah dengan implementasi B50, kita Irit devisa hingga Rp170 triliun. Jadi dari B40 ke B50 kita Pandai menahan devisa kita Rp170 triliun, jadi ini semakin impor kita berkurang,” kata dia.

Bahlil memaparkan, implementasi B50 juga diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri CPO dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.

Di sisi ketenagakerjaan, program tersebut diproyeksikan Meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari Sekeliling 1,8 juta orang pada implementasi B40 menjadi Sekeliling 2,1 juta orang melalui B50.

Selain manfaat ekonomi, B50 diperkirakan memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Bahlil menyebut penurunan emisi meningkat dari 39,66 juta ton karbon dioksida (CO2) menjadi Sekeliling 44,56 juta ton CO2.

“Lebih dari itu dalam rangka menjaga bumi kita adalah meningkatkan penurunan emisi gas rumah kaca dari 39,66 juta ton CO2 menjadi Sekeliling 44,56 juta ton CO2,” tutur Bahlil.