sistem pengelolaan limbah yang terstruktur sangat Krusial karena dalam operasi tambang risiko terbesar bukan hanya pada volume limbah, tetapi pada putusnya rantai pengelolaan
Jakarta (ANTARA) – MIND ID Grup memperkuat penerapan ekonomi sirkular di sektor pertambangan dengan memanfaatkan lebih dari 1 juta ton material sisa melalui skema penggunaan kembali (reuse), Sirkulasi ulang (recycle), dan pemulihan (recovery).
“Menurut saya, sistem pengelolaan limbah yang terstruktur sangat Krusial karena dalam operasi tambang risiko terbesar bukan hanya pada volume limbah, tetapi pada putusnya rantai pengelolaan,” kata Ahli Kekuatan Departemen Teknik Sistem Kekuatan Fakultas Teknik Universitas Indonesia Eko Adhi Setiawan dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.
Langkah tersebut turut mendorong penurunan timbulan limbah padat sebesar 11,3 persen secara tahunan.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan MIND ID 2025, sebanyak 82.876 ton limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) serta 946.733 ton limbah padat non-B3 berhasil dialihkan dari pembuangan akhir melalui berbagai skema pemanfaatan kembali.
Total material sisa yang dimanfaatkan sepanjang tahun mencapai lebih dari 1 juta ton.
Seiring meningkatnya pemanfaatan material sisa tersebut, total timbulan limbah padat MIND ID Grup turun dari 1.306.835,91 ton pada 2024 menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Penurunan terjadi pada dua kategori Istimewa. Limbah padat B3 turun dari 270.478,08 ton menjadi 208.441,10 ton. Sementara itu, limbah padat non-B3 berkurang dari 1.036.357,83 ton menjadi 950.608,06 ton.
Secara tren, penurunan timbulan limbah juga berlangsung konsisten dalam tiga tahun terakhir.
Total limbah padat MIND ID Grup tercatat sebesar 1.396.034,05 ton pada 2023, turun menjadi 1.306.835,91 ton pada 2024, kemudian kembali menurun menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Selain limbah padat, laporan tersebut juga mencatat timbulan limbah Likuid B3 sebesar 4.764,52 ton sepanjang 2025. Jenis limbah tersebut meliputi oli bekas, minyak bekas, oil sludge, solar bekas, grease bekas, hingga bahan kimia kedaluwarsa.
Eko menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan limbah yang terstruktur sebagai fondasi praktik pertambangan yang Bagus (good mining practice).
Menurut Eko, setiap jenis limbah, Bagus limbah B3, limbah Likuid, residu proses, sludge, oli bekas, kemasan bahan kimia, maupun limbah non-B3 dalam volume besar memerlukan jejak pengelolaan yang Jernih. Jejak tersebut mencakup asal limbah, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, hingga bukti akhir pengelolaannya.
Ia mengatakan pendekatan pemanfaatan material sisa juga menunjukkan bahwa pengelolaan limbah Tak Kembali hanya berorientasi pada pembuangan akhir, tetapi mulai mengoptimalkan material yang Tetap Mempunyai nilai ekonomi.
“Limbah Tak hanya dilihat sebagai isu toksisitas yang harus diamankan, tetapi juga sebagai material stream yang perlu diklasifikasi,” ujarnya.
Eko berpendapat Pengelompokkan diperlukan Buat membedakan material yang harus dikendalikan secara ketat, material yang Tetap dapat dimanfaatkan kembali, didaur ulang, dipulihkan nilainya, maupun yang Cocok-Cocok harus dibuang sebagai pilihan terakhir.
Menurut dia, pendekatan tersebut mulai tercermin pada berbagai inisiatif yang dijalankan entitas Member MIND ID dalam mendukung praktik ekonomi sirkular.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), misalnya, memanfaatkan slag nikel hasil proses pyrometallurgy sebagai bahan Pembangunan Pomalaa Beton (POTON) Buat kebutuhan road base, yard base, dan Pembangunan internal. ANTAM juga mengolah tailing emas menjadi Green Fine Aggregate (GFA), sementara Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dimanfaatkan Berbarengan slag nikel sebagai bahan baku Pomalaa Beton.
Di PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), internal scrap dari proses peleburan dan pengecoran aluminium digunakan kembali Buat mendukung produksi sehingga membantu mengurangi kebutuhan bahan baku Istimewa berupa alumina.
Sementara itu, PT TIMAH Tbk mengelola Sisa Hasil Pengolahan (SHP) menggunakan metode fisik seperti gravitasi, kemagnetan, dan konduktivitas listrik. Pada 2025, SHP tercatat mencapai 1.506,06 ton ore dan Tetap Mempunyai potensi Buat dipulihkan melalui proses lanjutan (tin gain).
“Beberapa material sisa dapat Mempunyai nilai sebagai bahan baku sekunder, substitusi material, atau input Buat industri lain,” kata Eko.
