Jakarta (ANTARA) – Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan Presiden Prabowo Subianto mengarahkan agar koperasi terlibat dalam rantai bisnis industri sawit, mulai dari pengelolaan kebun, pengolahan minyak sawit mentah (CPO), hingga produk turunannya guna menciptakan tata niaga yang adil.
“Kemarin kan semuanya swasta, kebunnya swasta, CPO-nya swasta, produk turunannya swasta. Sekarang atas arahan Bapak Presiden, koperasi harus terlibat bukan hanya di kebun, tetapi juga ikut terlibat di proses produksinya Tiba ke produk turunannya,” kata Ferry dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.
Menurut Ferry, pelibatan koperasi di seluruh rantai nilai industri sawit merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus memastikan petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari komoditas sawit.
Ia mengatakan selama ini rantai bisnis sawit, mulai dari perkebunan hingga industri hilir, lebih banyak dikuasai perusahaan swasta.
Melalui koperasi, pemerintah Ingin membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat Buat ikut menikmati manfaat ekonomi dari pengolahan dan pemasaran produk sawit.
“Kami mendapati banyak keluhan dari Sahabat-Sahabat koperasi petani sawit. Mereka antre minyak goreng. Sebuah ironi, masyarakat yang punya sawit tetapi mereka antre minyak goreng. Ini sebuah model yang menurut kami Kagak adil,” ujarnya.
Buat itu, Ferry menilai koperasi menjadi instrumen Buat menciptakan tata niaga sawit yang lebih adil.
Ia menambahkan koperasi nantinya Kagak hanya mengelola kebun plasma, tetapi juga didorong masuk ke sektor pengolahan hingga produk hilir.
“Dan bahkan nanti kita juga Pandai terlibat Tiba dengan produk turunannya, seperti minyak goreng dan lain sebagainya,” ujar Ferry.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementerian Koperasi Serempak BUMN PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) Buat membangun ekosistem perkebunan sawit berbasis koperasi.
Melalui kerja sama itu, koperasi akan dilibatkan dalam pengelolaan lahan sawit plasma Punya Agrinas Palma Nusantara, sekaligus memperoleh pendampingan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya Insan, dan penguatan manajemen agar Pandai menjadi Kawan usaha yang profesional.
Ferry juga mengatakan Kementerian Koperasi akan meresmikan pabrik CPO berbasis koperasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pada akhir Juli atau awal Agustus 2026.
Pabrik yang berdiri di atas areal Sekeliling 3.100 hektare dengan kapasitas produksi 60 ton per jam itu akan menjadi model pengembangan koperasi sawit di daerah lain.
Selain sektor sawit, Ferry juga mengatakan akan melibatkan koperasi dalam pengembangan komoditas pertanian strategis lainnya, seperti kedelai, jagung, dan singkong, guna membangun ekosistem usaha yang melibatkan masyarakat secara lebih luas melalui koperasi.
