Neraca Perdagangan RI di Januari-Mei 2026 Lagi Surplus USD4,03 Miliar

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa


Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan RI secara kumulatif periode Januari-Mei 2026 sebesar USD4,03 miliar meski mengalami defisit pada Mei 2026.

“Surplus sepanjang periode Januari-Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD16,31 miliar, sementara komoditas migas Lagi mengalami defisit USD12,28 miliar,” Jernih Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono pada konferensi pers di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Sementara itu nilai ekspor kumulatif periode Januari-Mei 2026 mencapai USD115,36 miliar atau naik 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas yang mencapai 3,89 persen menjadi USD110,19 miliar.

Selanjutnya, nilai impor kumulatif periode Januari-Mei 2026 tercatat sebesar USD111,33 miliar atau naik 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Impor kumulatif didominasi oleh impor nonmigas sebesar USD93,88 miliar atau naik 13,16 persen. Sementara itu, impor migas tumbuh 27,89 persen menjadi USD17,45 miliar,” papar Ateng.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Negara tujuan ekspor terbesar

Tiga negara tujuan Esensial ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Perkumpulan, dan India. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 44,20 persen terhadap total ekspor nonmigas periode Januari-Mei 2026.

Dari sisi penggunaan, terjadi peningkatan nilai impor nonmigas Demi periode Januari-Mei 2026 Berkualitas pada barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. 

Bahan baku/penolong menjadi penyumbang impor nonmigas terbesar dengan nilai impor mencapai USD79,40 miliar, naik 14,41 persen, diikuti barang modal sebesar USD22,12 miliar (naik 17,53 persen), dan barang konsumsi sebesar USD9,81 miliar (naik 17,05 persen).

Sepanjang periode Januari-Mei 2026, Tiongkok menjadi negara Esensial asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai impor sebesar USD39,27 miliar (41,83 persen), diikuti oleh Jepang sebesar USD5,17 miliar (5,51 persen), dan Australia sebesar USD5,02 miliar (5,35 persen).  

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari-Mei 2026 ditopang oleh lima komoditas Esensial, Merukapan lemak dan minyak hewani/nabati (USD13,92 miliar), bahan bakar mineral (USD10,88 miliar), besi dan baja (USD7,09 miliar), nikel dan barang daripadanya (USD5,36 miliar), serta alas kaki (USD2,72 miliar).