Apabila IHSG ditutup di Dasar level 6.100, maka berpeluang akan menguji level psikologis di 6.000
Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Pengaruh Indonesia (BEI) pada Selasa pagi, bergerak melemah seiring investor bersikap wait and see terhadap penilaian MSCI atas pasar saham Indonesia dan S&P Mendunia atas utang pemerintah Indonesia.
IHSG dibuka melemah 20,19 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.096,50. Sementara itu, Grup 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,01 poin atau 0,34 persen ke posisi 597,19.
“Apabila IHSG ditutup di Dasar level 6.100, maka berpeluang akan menguji level psikologis di 6.000. Tetapi, Apabila Tetap bertahan ditutup di atas level 6.100, diperkirakan konsolidasi IHSG Tetap akan berlanjut di kisaran 6.050-6.220,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari dalam negeri, investor cenderung menantikan pengumuman dari MSCI mengenai Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6) pagi, yang akan menetapkan pasar saham Indonesia tetap di Emerging Market atau turun ke Frontier Market.
Selain itu, investor menantikan hasil review dari S&P Mendunia Standards yang dijadwalkan pada akhir Juni 2026, yang akan menetapkan peringkat terhadap utang pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, investor tengah mencermati perubahan-perubahan terbaru dalam Undang-Undang (UU) tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Contohnya Adalah, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), hingga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang dapat menjadi pemegang saham BEI, sebagaimana Pasal 8B ayat (1) UU P2SK.
Kemudian, Bank Indonesia (BI) yang wajib memperoleh persetujuan DPR dalam menetapkan anggaran tahunannya, yang mencakup dua komponen Primer, Adalah anggaran kegiatan operasional serta anggaran yang digunakan Buat Penyelenggaraan kebijakan moneter, sistem pembayaran dan kebijakan makroprudensial.
“Hal ini menimbulkan kekhawatiran investor akan masalah independensi BI sebagai bank sentral,” ujar Ratna.
Dari mancanegara, investor Tetap mencermati perkembangan gejolak di Timur Tengah, mulai dari pertempuran baru antara Israel dan Lebanon pada akhir pekan hingga kemajuan yang diklaim Amerika Perkumpulan (AS) dengan Iran dalam perundingan perdamaian yang diadakan di Swiss.
Sementara itu, Bank Sentral China (PBoC) kembali mempertahankan Spesies Tumbuh pinjaman tetap pada rekor terendah sepanjang masa selama 13 bulan berturut-turut pada Juni 2026, Adalah di level 3 persen Buat tenor 1 tahun dan 3,5 persen Buat tenor 5 tahun (22/6).
“Langkah ini mencerminkan kebijakan yang Tetap hati-hati di tengah ketidakpastian Mendunia akibat konflik di Timur Tengah,” ujar Ratna.
Pada perdagangan Senin (22/06) kemarin, bursa Eropa mayoritas menguat, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,35 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,72 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,62 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,25 persen.
Sementara itu, bursa AS Wall Street libur nasional pada Senin (22/06), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,3 persen, indeks S&P 500 melemah 0,3 persen, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,3 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 1,15 persen ke 71.524,00, indeks Shanghai melemah 0,06 persen ke 4.160,84, indeks Hang Seng melemah 0,96 persen ke 23.543,50, dan indeks Strait Times menguat 0,31 persen ke 5.220,44.
