Pemerintah Indonesia mengoptimalkan pencarian sumber Daya Daya alternatif dari negara-negara Afrika guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, menyusul pemblokiran jalur laut di Selat Hormuz akibat konflik bersenjata antara Amerika Perkumpulan dan Israel di Iran sejak akhir Februari 2026 Lewat, dilansir dari Kompas.
Langkah strategis penyeimbangan pasokan migas ini diambil demi menghindari jalur pengiriman Selat Hormuz yang menguasai Sekeliling 20 persen distribusi minyak bumi Dunia. Pemilihan benua Afrika dinilai Akurat karena rute transportasinya sama sekali Kagak melewati kawasan perairan yang sedang berkonflik tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, memberikan penegasan mengenai perluasan kerja sama dengan sejumlah produsen minyak di benua tersebut demi mengamankan pasokan nasional Ketika menghadiri rapat kerja Berbarengan Komisi I DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis (11/6/2026).
“Kita sekarang banyak bekerja sama dengan Aljazair, Nigeria, Angola, banyak negara Afrika,” kata Arif Havas Oegroseno, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Pengiriman pasokan Daya dari kemitraan interkontinental ini diakui berjalan Fasih tanpa hambatan logistik yang berarti.
“Kita sudah banyak menerima pasokan minyak dari Afrika. Sejauh ini, kita Berkualitas-Berkualitas saja,” kata Arif Havas Oegroseno, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Selain mengandalkan kawasan Afrika, penjajakan diversifikasi impor juga mulai diarahkan ke Area Amerika Latin. Pemerintah sebelumnya bahkan telah membidik kerja sama pengadaan Daya dengan Rusia serta Amerika Perkumpulan.
“Kami sedang mencari banyak negara di sana yang Mempunyai potensi migas. Dekat Sekalian negara di Amerika Latin punya potensinya,” kata Arif Havas Oegroseno, Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Upaya mitigasi krisis ini sejalan dengan kebijakan Kementerian ESDM yang direspons Segera oleh pihak Pertamina demi menjaga stabilitas stok bahan bakar nasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, pada April 2026 Lewat menyatakan bahwa pencarian sumber baru ini mendesak dilakukan lantaran dua kapal tanker Pertamina International Shipping Lagi terjebak di Teluk Arab.
