Jakarta (ANTARA) – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan kemampuan Indonesia dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Lalu menunjukkan perbaikan dalam beberapa siklus El Nino terakhir.
“Kalau kita Menyantap perjalanan penanganan kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa siklus El Nino terakhir, Terdapat satu hal yang patut kita syukuri, kemampuan kita dalam mengendalikan karhutla Lalu menunjukkan perbaikan,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa luas karhutla Demi El Nino Lalu menunjukkan tren penurunan. Pada El Nino 2015, luas karhutla tercatat Sekeliling 2,61 juta hektare, turun menjadi 1,64 juta hektare pada 2019, dan kembali menurun menjadi Sekeliling 1,16 juta hektare pada 2023.
Dalam dua siklus El Nino terakhir, lanjutnya, luas karhutla berhasil ditekan hingga 55,6 persen dibandingkan kondisi tahun 2015.
Menurut Menhut Raja Antoni, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak, mulai dari BMKG, BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, Masyarakat Acuh Api, hingga seluruh masyarakat.
“Karhutla bukan semata persoalan kehutanan, bukan semata persoalan lingkungan hidup, dan bukan hanya persoalan daerah tertentu. Karhutla adalah masalah Serempak yang dampaknya dirasakan oleh seluruh bangsa,” ujar Raja Antoni.
Meski grafik karhutla pada siklus El Nino menunjukkan tren menurun, Menhut Raja Antoni mengingatkan bahwa kewaspadaan harus tetap ditingkatkan.
Hingga Mei 2026, luas karhutla tercatat Sekeliling 81 ribu hektare atau meningkat dibandingkan periode yang sama Demi El Nino 2019 maupun 2023.
Selain itu, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal, berlangsung lebih Lamban, dan lebih kering dengan puncak kemarau pada Juli hingga September.
“Kalau Seluruh stakeholder Lagi bekerja dengan Bagus juga dengan peran TNI, Polri, serta partisipasi masyarakat, tentunya kita akan Dapat memenangkan pertarungan melawan karhutla ini,” ujar Menhut Raja Antoni.
