Dengan minuman keras gratis dan jersey terlarang: Sudut-sudut tersembunyi ini menjadi berkah besar bagi suasana Piala Dunia di AS

Goal.com

“Saya sangat bersemangat,” kata Jean Michel, salah satu pendiri dan presiden “Houston Haitians United”, yang juga merupakan salah satu penyelenggara acara nonton bareng ini. “Ini adalah momen yang luar Lumrah dalam sejarah kami di Houston. Kami Ingin merayakan Piala Dunia.” Letak acara ini adalah sebuah tempat pembuatan bir kecil dengan taman bir, yang hari ini dihiasi bendera Haiti, balon biru dan merah, serta taplak meja. 50 penggemar pertama akan mendapatkan paket hadiah berisi minuman keras gratis, peluit, permen lolipop, dan biskuit. 

Tersedia makanan jalanan khas Haiti, bir, dan koktail. Spanduk-spanduk mempromosikan sebuah supermarket dan salon rambut Haiti. Pada babak istirahat dan setelah pertandingan, seorang DJ akan memutar musik Haiti. Klub sepak bola “Haitian Soccer United” juga turut hadir sebagai salah satu penyelenggara acara ini. Banyak orang di sini dengan bangga mengenakan seragam nasional Haiti yang dilarang oleh FIFA. Di bagian Dasar tepinya terdapat motif kecil Pertempuran Vertiers tahun 1803, yang memungkinkan kemerdekaan Haiti dari Prancis. Karena pesan politiknya, FIFA melarang asosiasi sepak bola Haiti menggunakan seragam tersebut dalam pertandingan Piala Dunia. 

Melalui kemerdekaannya pada tahun 1804, Haiti menjadi negara pertama di dunia yang dipimpin oleh mantan budak. Dalam beberapa Dasa warsa terakhir, Haiti mengalami kemunduran yang tak tertandingi akibat bencana alam, kelaparan, korupsi, dan perang geng. Sejak pembunuhan Presiden terpilih Jovenel Moise pada tahun 2021, keadaan di negara tersebut sebagian besar berada dalam kekacauan. Ratusan ribu orang mengungsi, banyak di antaranya ke AS. Akibat pertempuran, stadion di ibu kota Port-au-Prince pun mengalami kerusakan parah. Tim nasional terpaksa menggelar Segala pertandingan kandang di pulau-pulau tetangga, yang Membikin kualifikasi Piala Dunia kedua ini—setelah tahun 1974 ketika Haiti tersingkir tanpa meraih satu poin pun di babak penyisihan—menjadi semakin luar Lumrah.

Instruktur tim nasional Prancis, Sebastien Migne, belum pernah menginjakkan kaki di tanah Haiti. Para pemainnya tersebar di seluruh dunia. Seorang bermain di Iran, seorang Kembali di Ekuador, sedangkan kiper ketiga, Josue Duverger, bermain Buat klub divisi kelima Jerman, Cosmos Koblenz. Selain Curacao, Haiti dianggap sebagai tim yang paling Tak diunggulkan dalam turnamen ini.