Tumpeng Sewu Kemiren Kembali Digelar, Bupati Ipuk: Simbol Kekuatan Gotong Royong dan Budaya Penduduk Banyuwangi

Foto BeritaJatim.com

Ringkasan Siaran:

  • Tradisi Tumpeng Sewu kembali digelar di Desa Kemiren Banyuwangi.
  • Ribuan Penduduk dan wisatawan memadati kawasan desa Buat makan Berbarengan.
  • Bupati Ipuk menyebut tradisi tersebut menjadi simbol kekuatan gotong royong masyarakat Osing.
  • Desa Kemiren juga meraih berbagai penghargaan wisata tingkat nasional dan Global.

Banyuwangi (Liputanindo.id) – Ribuan Penduduk hingga wisatawan domestik maupun mancanegara memadati sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Buat menikmati makan Berbarengan dalam tradisi Tumpeng Sewu, Kamis malam (21/5/2026).

Suasana guyub dan penuh kebersamaan terasa sepanjang Penyelenggaraan tradisi masyarakat Osing tersebut.

Pelestarian budaya yang dilakukan secara konsisten Membikin Desa Kemiren meraih berbagai penghargaan nasional hingga Global.

Pada tahun 2025, Desa Kemiren berhasil meraih The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang ASEAN Tourism Award di Malaysia.

Di tahun yang sama, Desa Kemiren juga masuk jaringan desa wisata terbaik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain itu, desa tersebut meraih Pemenang II Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 kategori Kelembagaan dan SDM dari Kementerian Pariwisata RI.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir menikmati tumpeng Berbarengan masyarakat mengatakan tradisi tersebut menjadi simbol kekuatan budaya lokal Banyuwangi.

Menurutnya, tradisi masyarakat Osing mencerminkan kuatnya nilai gotong royong yang tetap terjaga hingga Begitu ini.

“Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan Lalu kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini Tak dimiliki Sekalian daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus Lalu dilestarikan,” ujar Ipuk.

Ia juga mengapresiasi komitmen masyarakat Osing Kemiren yang tetap menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan Era.

Menurut Ipuk, keterlibatan Penduduk yang secara sukarela menyiapkan ribuan tumpeng menjadi bukti kuatnya solidaritas sosial masyarakat setempat.

Tumpeng Sewu merupakan ritual turun-temurun masyarakat Osing sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Tradisi tersebut rutin digelar setiap tahun Sekeliling sepekan menjelang Hari Raya Iduladha.

Dalam pelaksanaannya, Penduduk menyajikan ribuan tumpeng lengkap dengan lauk khas Osing berupa pecel pitik dan lalapan.

Pecel pitik sendiri merupakan olahan ayam kampung panggang dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing yang menjadi menu wajib dalam tradisi tersebut.

Tak hanya Penduduk lokal, wisatawan juga ikut menikmati suasana kebersamaan selama acara berlangsung.

“Berhasil saya Dapat menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya Nikmat, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang Dapat ke sini,” kata Adam, wisatawan asal Republik Ceko.

Pengunjung asal Semarang, Ati, juga mengaku terkesan dengan kerukunan masyarakat Desa Kemiren.

“Warganya rukun dan guyub. Masakannya juga lezat. Tadi Tiba nambah dua kali,” ujarnya.

Sebelum prosesi makan Berbarengan dimulai, Penduduk terlebih dahulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa.

Barong diberangkatkan dari dua arah berbeda, timur dan barat, Lampau Berjumpa di depan Balai Desa Kemiren.

Penduduk kemudian menggelar doa Berbarengan Buat memohon keselamatan serta dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Rangkaian tradisi juga diisi ritual mepe kasur dan Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk.

Tradisi pembacaan naskah Klasik tentang kisah Nabi Yusuf tersebut diyakini sebagai bentuk selamatan dan tolak bala.

“Ini merupakan Figur syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” Terang Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin. [dya/beq]