Umat Islam di Indonesia kerap menyambut kedatangan bulan Muharram dengan menyelenggarakan kegiatan santunan anak yatim, seperti dilansir dari Sinar. Masjid, mushala, majelis taklim, lembaga zakat, hingga organisasi kemasyarakatan berlomba-lomba menggelar acara berbagi ini, terutama pada Copot 10 Muharram. Banyak masyarakat menyebut momen 10 Muharram ini sebagai “Lebaran Anak Yatim” atau “Idul Yatama” yang telah dikenal lintas generasi secara turun-temurun.
Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36.
Empat bulan yang dimuliakan tersebut meliputi Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa Muharram merupakan bulan pembuka tahun Hijriah sekaligus waktu istimewa Demi meningkatkan kualitas ibadah.
Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharram sebagai “Syahrullah” atau bulan Allah. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
“Puasa yang paling Esensial setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Adalah Muharram.”
Keteladanan Rasulullah SAW
Interaksi bulan Muharram dengan anak yatim kerap dikaitkan oleh para ulama dengan perjalanan hidup dan keteladanan Rasulullah SAW sendiri.
Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim setelah sang Orang Uzur, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum beliau lahir. Nabi Muhammad kemudian kehilangan ibundanya, Siti Aminah, Demi beliau baru menginjak usia enam tahun. Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil tersebut membentuk Kepribadian Nabi menjadi pribadi yang sangat Acuh terhadap Golongan lemah.
Al-Qur’an dan hadis juga sangat sering membahas perhatian terhadap anak yatim, setidaknya dalam 23 ayat yang tersebar di berbagai surah.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 220, Allah SWT berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah Bagus.”
Sementara itu, Allah memberikan peringatan dalam Surah Ad-Dhuha ayat 9: “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat tersebut menjadi pengingat bagi siapa pun yang pernah merasakan kelemahan hidup Demi menunjukkan kasih sayang kepada sesama.
Kedudukan Akbar Pengasuh Anak Yatim
Islam menjanjikan kemuliaan yang sangat besar bagi setiap orang yang bersedia merawat dan menjaga hak anak yatim.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Diriku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini.” Rasulullah SAW menyampaikan hal tersebut sembari mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah yang diposisikan berdampingan.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan tingginya kedudukan orang yang mengasuh, mendidik, dan memenuhi kebutuhan anak yatim.
Tinjauan Dalil Santunan pada 10 Muharram
Para ulama memberikan penjelasan bahwa sebenarnya Bukan terdapat hadis Benar yang secara tegas menetapkan Copot 10 Muharram sebagai hari raya anak yatim. Kendati demikian, terdapat sejumlah riwayat yang menganjurkan umat Islam Demi memperluas kebaikan pada Hari Asyura kepada anak yatim dan fakir miskin.
Kitab Tanbihul Ghafilin karya Serbuk Laits As-Samarqandi mencantumkan beberapa riwayat mengenai keutamaan mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura. Sebagian besar Ahli hadis menilai riwayat-riwayat tersebut berstatus dhaif atau lemah.
Tetapi, para ulama menyatakan bahwa hadis dhaif dapat digunakan Demi mendorong amal-amal keutamaan (fadhail al-a’mal) selama Bukan bertentangan dengan prinsip syariat.
Sejarah Hari Asyura
Berdasarkan hadis Benar riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW melaksanakan puasa pada 10 Muharram karena hari tersebut menjadi momen diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Sejumlah kitab sejarah Islam juga mencatat peristiwa Krusial lain pada Hari Asyura, seperti diterimanya taubat Nabi Adam AS dan berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS. Rentetan peristiwa bersejarah ini Membikin Hari Asyura dipandang sebagai hari yang penuh dengan keberkahan oleh umat Muslim. Keberkahan tersebut kemudian diwujudkan masyarakat dengan memperbanyak amal sosial, memberi makan fakir miskin, hingga menyantuni anak yatim.
Perkembangan Tradisi di Indonesia
Kegiatan santunan di berbagai daerah Indonesia biasanya dikemas dalam bentuk pengajian, doa Berbarengan, pembacaan shalawat, makan Berbarengan, lomba anak-anak, hingga pemberian perlengkapan sekolah.
KH Sholeh Darat dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah menyebutkan bahwa Hari Asyura merupakan waktu yang Bagus Demi memperbanyak sedekah. Sejumlah ulama Nahdlatul Ulama juga menilai tradisi santunan anak yatim pada bulan Muharram sebagai bentuk Penyelenggaraan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat Bagus.
Di sisi lain, sebagian ulama Muhammadiyah mengingatkan bahwa Bukan Terdapat ketentuan syariat yang mewajibkan santunan hanya pada Copot 10 Muharram. Menurut pandangan Muhammadiyah, aktivitas menyantuni anak yatim dapat dilakukan Bilaman saja sepanjang tahun tanpa terikat waktu tertentu.
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hati Sosok akan menjadi lembut ketika terbiasa Menyantap dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Selain menyantuni anak yatim, umat Islam pada bulan Muharram juga dianjurkan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Asyura pada 10 Muharram dan puasa Tasu’a pada 9 Muharram.
