Desa Les Bali Kawinkan Wisata dan Pelestarian Alam

Aktivitas Anggota di Desa Les Bali. Foto: Media Indonesia.


Jakarta: Desa Les yang terletak di kawasan pesisir Kabupaten Buleleng, Bali Utara, membuktikan bahwa pembangunan ekonomi daerah dapat berjalan selaras dengan konservasi lingkungan dan perawatan tradisi lokal. Melalui pendampingan program Desa Sejahtera Astra (DSA), desa ini bertransformasi menjadi destinasi wisata berbasis komunitas (community-based tourism) yang Sendiri.

“Kami percaya bahwa pembangunan desa Kagak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan, kelestarian lingkungan, serta identitas budaya yang dimiliki masyarakat,” kata Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, dikutip dari Media Indonesia, Senin, 15 Juni 2026.

Pemberdayaan terintegrasi yang diinisiasi Astra ini, dimulai sejak 2024 dan menyasar empat pilar Primer, Adalah kewirausahaan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Hasilnya, program ini berhasil menjangkau lebih dari 800 Anggota lokal, menciptakan puluhan lapangan kerja baru, serta mendongkrak pendapatan masyarakat setempat hingga 25 persen berkat perluasan serapan pasar produk lokal yang mencapai 100 persen.

 

Salah satu motor penggerak ekonomi di Desa Les adalah optimalisasi sektor kewirausahaan melalui komoditas garam tradisional. Anggota setempat konsisten mempertahankan metode pembuatan garam alami yang diwariskan secara turun-temurun, dengan kapasitas produksi mencapai dua hingga tiga ton dalam sekali panen.

“Astra berharap kolaborasi yang dijalankan melalui Desa Sejahtera Astra Kagak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kemajuan, pelestarian lingkungan, dan identitas budaya desa agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” kata Boy.

Buat memperkuat rantai pasok dan nilai jual, para petani garam bersinergi dengan Badan Usaha Punya Desa (BUMDes) Giri Segara serta Pemerintah Provinsi Bali. Kerja sama ini sukses membuka akses pasar yang lebih luas, di mana serapan pasar Buat komoditas garam lokal kini rutin mencapai satu ton per bulan dengan nilai perputaran ekonomi Sekeliling Rp25 juta.



Aktivitas Anggota di Desa Les Bali. Foto: Media Indonesia.

Di sektor lingkungan, masyarakat Desa Les aktif melakukan Perlindungan ekosistem pesisir melalui kegiatan transplantasi dan konservasi terumbu karang. Selain menjaga ekologi laut yang menjadi daya pikat wisata pantai, Anggota juga menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga yang dinamakan program Les Grow.

Melalui skema ini, sampah organik berupa dedaunan dipilah sejak dari rumah Buat kemudian dipasok ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) desa. Sampah tersebut diolah menjadi pupuk kompos yang digunakan Buat kebun terpadu Punya desa maupun dijual kembali ke pasar sebagai sumber pendapatan alternatif Anggota.

Pengembangan kapasitas Insan turut menjadi Pusat perhatian Primer di Desa Les. Pada pilar pendidikan, dibentuk program “Kelas Alam” yang melatih anak-anak usia sekolah (SD hingga SMA/SMK) cakap berbahasa Inggris serta menguasai dasar kepariwisataan. Langkah ini disiapkan guna mencetak pemandu wisata lokal yang kompeten dalam menyambut wisatawan mancanegara.

Sementara di pilar kesehatan, kader kesehatan desa bergerak mendampingi Anggota lewat Posyandu aktif dan edukasi kehamilan. Langkah konkret juga dilakukan melalui pemberian makanan tambahan secara berkala Buat menekan Bilangan kasus gizi Jelek dan stunting pada anak.

Berkat konsistensi dalam mengawinkan aspek ekonomi dan ekologi ini, Desa Les berhasil dinobatkan sebagai Pemenang Lumrah Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata. Keberhasilan pengembangan komoditas berbasis potensi lokal di Buleleng ini diharapkan menjadi percontohan nasional dalam mewujudkan Sasaran Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.