Kolaborasi SDM hingga Integrasi Data Diperlukan Buat Optimalisasi Zakat

Zakat. Foto: Ilustrasi Antara


Jakarta: Kolaborasi sumber daya Mahluk (SDM) hingga integrasi data diperlukan. Terutama, Buat mengoptimalisasi pemanfaatan potensi zakat di Indonesia.

“Potensi zakat Indonesia mencapai Sekeliling Rp340 triliun, Tetapi realisasinya Tetap Sekeliling Rp44 triliun. Kolaborasi SDM, jaringan, serta integrasi data muzakki menjadi kunci Buat meningkatkan capaian tersebut,” kata Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat, 12 Juni 2026.

Hal itu diungkap Sodik dalam Leaders Talk 2026 di Tower BSI, Rabu, 10 Juni 2026. Agenda tersebut diinisiasi Perhimpunan Zakat (FOZ) Serempak Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) dan BAZNAS.

Sebanyak 89 lembaga Member FOZ turut hadir dalam Perhimpunan yang berlangsung guyub dan khidmat tersebut. Dalam kesempatan itu, dipaparkan bahwa kolaborasi  diperkuat melalui sinergi dengan sektor perbankan syariah.

Bank Syariah Indonesia (BSI) menyatakan komitmennya dalam mendukung digitalisasi pengelolaan zakat, termasuk pengembangan pusat digital yang dapat dimanfaatkan oleh BAZNAS daerah dan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ). Langkah ini diharapkan Bisa memperkuat efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas pengelolaan Biaya zakat.

 

Sekretaris Lumrah POROZ, Angga Nugraha, menegaskan langkah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) menjadi tonggak Krusial dalam menyatukan gerakan zakat nasional. “Potensi zakat yang sangat besar membutuhkan kesatuan langkah. MoU ini menjadi pijakan Buat memperkuat sinergi antar-lembaga,” kata Angga.

Dalam sesi keynote, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko Pemberdayaan Masyarakat RI, Dyah Tri Kumolosari, mengungkapkan bahwa sebanyak 2,2 juta jiwa Tetap berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem. Ia menekankan bahwa penguatan kolaborasi zakat menjadi bagian Krusial dalam strategi pengentasan kemiskinan melalui pendekatan pemberdayaan berbasis data.

“Potensi zakat akan berdampak signifikan Kalau dikelola berbasis data dan terintegrasi. Pusat perhatian intervensi pada desa dan Distrik prioritas harus diperkuat Buat mendorong graduasi kemiskinan,” kata Dyah.

Diskursus dalam ‘Zakat Talk’ turut menyoroti pentingnya menurunkan ego sektoral antar lembaga. Direktur Zakat dan Wakaf Kementerian Keyakinan RI, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan kolaborasi menjadi prasyarat Istimewa agar zakat dapat dikelola lebih efektif dan berdampak luas.



Zakat. Foto: Ilustrasi Antara

Sementara itu, Ketua Lumrah FOZ, Wildhan Dewayana, memperkenalkan pendekatan dual track activities dalam penguatan zakat nasional. Yakni, penguatan kinerja internal lembaga serta optimalisasi kinerja kolektif dalam ruang kolaborasi. Pendekatan ini ditopang oleh empat pilar Istimewa: komunikasi, harmonisasi, integrasi, dan konektivitas ekosistem.

Isu integrasi data menjadi sorotan Istimewa dalam sesi kedua bertajuk ‘Selaras Gerakan Zakat Melalui Data’. Perhimpunan ini menghasilkan komitmen Serempak Member FOZ Buat membangun platform dashboard pendataan zakat nasional. Penandatanganan nota kesepakatan terkait platform data tersebut menjadi langkah konkret menuju pengelolaan zakat yang lebih terintegrasi.

Ketua Bidang Penemuan dan Literasi FOZ, Eko Muliansyah, menekankan transformasi digital zakat Enggak Kembali berfokus pada pembangunan aplikasi semata. Melainkan, pada pembangunan ekosistem data Serempak.

“Yang dibutuhkan Begitu ini bukan kesempurnaan sistem, melainkan kesediaan Buat memulai. Data yang terintegrasi akan mengubah tumpukan informasi menjadi lompatan Pengaruh,” kata Eko.