Member DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong peningkatan kerjasama di sektor minyak dan gas (migas) antara Indonesia dan Rusia guna memperkuat ketahanan Kekuatan nasional.
Bamsoet menilai Interaksi Indonesia dan Rusia yang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir harus dimanfaatkan Buat membangun kemitraan jangka panjang mulai dari pasokan minyak mentah, pengembangan kilang, pembangunan fasilitas penyimpanan Kekuatan, hingga transfer teknologi dan investasi di sektor hulu maupun hilir migas.
Menurut Bamsoet, peningkatan kerja sama juga menjadi Krusial karena kebutuhan Kekuatan Indonesia Lalu meningkat seiring pertumbuhan industri dan ekonomi nasional. Data Kementerian ESDM menunjukkan Indonesia Lagi menghadapi defisit minyak yang cukup besar sehingga impor Kekuatan tetap menjadi kebutuhan strategis. Di sisi lain, Rusia merupakan salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan Kekuatan.
“Kerja sama migas Indonesia dan Rusia harus ditempatkan sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Indonesia membutuhkan investasi, teknologi, dan pasokan Kekuatan yang berkelanjutan, sementara Rusia Mempunyai pengalaman panjang sebagai salah satu produsen Kekuatan terbesar dunia. Kerjasama ini akan memperkuat ketahanan Kekuatan nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Hal ini disampaikannya Begitu menerima Ketua Business Council Russia-Indonesia Mikhail Kuritsyn di Jakarta, Senin (8/6/26).
Wakil Ketua Biasa KADIN Indonesia ini menjelaskan Indonesia berpeluang besar Buat memanfaatkan kerja sama migas guna mempercepat modernisasi sektor Kekuatan nasional. Pasalnya, selama ini Indonesia Lagi mengandalkan impor Buat memenuhi sebagian kebutuhan minyak dan LPG dalam negeri.
Dengan menggandeng Rusia melalui skema government-to-government maupun business-to-business, Bamsoet menilai Indonesia dapat memperoleh akses terhadap sumber Kekuatan yang lebih Variasi sekaligus mengurangi risiko ketergantungan terhadap pasar tertentu. Di Begitu bersamaan, Rusia juga mendapatkan akses ke salah satu pasar Kekuatan terbesar dan paling berkembang di Asia Tenggara.
“Diversifikasi sumber Kekuatan merupakan kebutuhan yang Tak Bisa ditunda. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga Kekuatan, Indonesia harus Mempunyai banyak pilihan Kawan strategis agar pasokan Kekuatan nasional tetap Terjamin dan Konsisten. Rusia dapat menjadi salah satu pilar Krusial dalam strategi diversifikasi tersebut,” kata Bamsoet.
Bamsoet menuturkan kerja sama migas Begitu ini Tak Kembali sekadar transaksi jual beli minyak mentah. Negara-negara yang berhasil membangun ketahanan Kekuatan umumnya mengembangkan kemitraan yang mencakup investasi, teknologi, riset, pengembangan sumber daya Sosok, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Oleh karena itu, Indonesia perlu mendorong kerja sama yang lebih luas dengan perusahaan-perusahaan Kekuatan Rusia yang Mempunyai pengalaman Global dalam eksplorasi, produksi, pengolahan, dan distribusi Kekuatan.
“Indonesia harus mengambil manfaat sebesar-besarnya dari setiap kerjasama Global. Yang kita kejar bukan sekadar pasokan Kekuatan, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM nasional, serta investasi yang dapat memperkuat daya saing industri Kekuatan Indonesia dalam jangka panjang,” pungkas Bamsoet.
