Surabaya (Liputanindo.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin kegiatan taman tebu perdana dalam rangka program bongkar ratoon serentak di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri.
Didampingi Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Direktur Penting Sinergi Gula Nusantara Mahmudi, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa beserta Kepala Perangkat Daerah Pemprov Jatim serta Bupati / Wakil Bupati lainnua secara on line. Kegiatan kali ini menjadi Figur Konkret upaya mewujudkan swasembada gula nasional.
Alasan tak hanya melaksanakan bongkar ratoon dan tanam tebu perdana, Tetapi juga luas tanam tebu Jatim juga diperluas. Tahun 2026, Jawa Timur mendapatkan Sasaran terbesar dengan total 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 Kabupaten di 15 titik tanam. Dari sebelas daerah itu, yang areanya paling luas itu di Kabupaten Kediri, maka hari ini dipusatkan di Desa Ngletih Berbarengan Golongan Tani Tebu Semoga Jaya. Kita nandur tadi dengan doa, Insya Allah Bukan hanya produktif tapi juga berkah,” kata Khofifah.
“Eksis niat mulia Demi Dapat mencapai swasembada gula. Tahun ini targetnya adalah swasembada gula konsumsi, tahun depan diharapkan swasembada gula konsumsi maupun industri. Salah satu yang diharapkan produktifitas dan luas lahan di Jawa Timur ini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Khofifah menekankan pasca panen tebu, proses penggilingan ini harus menjadi bagian dari ekosistem. Bukan tanpa Dalih, pasca penggilingan petani Bukan Mempunyai kepastian hasil panen, ketika pelelangan Mandek Bukan adanya penawaran.
“Bagaimana pasca penggilingan, petani tebu itu berkepastian bahwa hasil panen gulanya itu terserap oleh pasar dengan harga komersial,” terangnya.
“Waktu itu saya keliling, apa penyebabnya. Rupanya kebanjiran gula rafinasi, sehingga gula dari Jatim Bukan Dapat keluar Jatim. Artinya bahwa Sasaran swasembada gula konsumsi ini harus satu paket,” ungkapnya.
“Kebijakan Pemerintah Begitu ini bahwa Demi impor gula rafinasi sudah dikurangi, dan ini diserahkan kepada BUMN sehingga monitoringnya, controllingnya, Dapat lebih mudah. Ini Demi memastikan bahwa yang diimport gula rafinasi ini Demi gula industri jangan Tiba merembes ke pasar. Kalau gula rafinasi merembes kepasar sangat mengganggu gula petani tebu,” jelasnya.
Demi itu, dirinya mengajak para petani tebu dan pemangku kepentingan Demi Maju bersinergi, berkolaborasi dan tetap diberseiringi ikhtiar dhahiran wa batinan.
“Oleh karena itu tetap diberseiringi ikhtiar dhahiran wa batinan. Panjenengan menanam, masuknya ke pabrik gula, setelah proses penggilingan gula akan dilelang, kita berharap akan disiapkan ekosistem yang betul-betul terserap oleh market,” katanya.
Gubernur Khofifah juga menekankan pentingnya percepatan program yang sebelumnya telah dicanangkan pemerintah. Ia juga menegaskan keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengawal program tersebut secara menyeluruh.
“Saya Mau menyampaikan keseriusan Jawa Timur bahwa di setiap pertemuan ini Gubernur, Wagub , Sekda itu satu paket hadir. Artinya kami punya komitmen yang kuat,” lanjutnya.
Lebih lanjut, secara nasional, program yang dicanangkan Kementerian Pertanian RI tahun 2026 menargetkan pengembangan tebu seluas 97.970 hektare. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur mendapatkan Sasaran terbesar dengan total 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
“Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur dipercaya sebagai garda terdepan dalam penguatan industri gula nasional. InsyaAllah, amanah ini akan kita jawab dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja kolaboratif,” imbuhnya.
Sebagai provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia, tambahnya, Jawa Timur Begitu ini menyumbang Sekeliling 51 persen produksi gula nasional. Bahkan, pada tahun 2025, produksi gula kristal putih Jatim mencapai 1.343.995 ton dan menjadi yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
“Capaian ini bukan hasil kerja satu pihak, tetapi buah dari gotong royong seluruh elemen, mulai dari petani, pabrik gula, pemerintah, hingga lembaga penelitian dan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor hulu dan hilir dalam mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing industri gula.
Lebih lanjut, Gubernur Khofifah menyebut Kabupaten Kediri merupakan salah satu daerah dengan potensi besar yang Mempunyai luas lahan tebu Sekeliling 25 ribu hektare dan didukung tiga pabrik gula.
“Ini merupakan kekuatan strategis yang harus Maju kita dorong agar Kediri semakin menjadi pusat pertumbuhan industri gula nasional,” katanya.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan Maju memberikan dukungan melalui berbagai program, mulai dari Sokongan alat dan mesin pertanian, penguatan irigasi, hingga mitigasi perubahan iklim.
“Kita menghadapi tantangan yang Bukan ringan, mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga persaingan Mendunia. Karena itu, kunci keberhasilan kita adalah Hasil karya dan kolaborasi,” tegasnya.
Ia berharap, tanam tebu perdana ini Pandai menjadi pemicu semangat bagi seluruh daerah sentra tebu di Jawa Timur.
“Saya berharap momentum ini menjadi pengungkit semangat Demi meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Mari kita jadikan sektor pergulaan sebagai penggerak ekonomi rakyat dan penguat kesejahteraan petani Jawa Timur,” pungkasnya.
Di sisi lain, Plt Dirjen Perkebunan Kementan Ali Jamil mengatakan tanam perdana program bongkar ratoon tebu dilaksanakan serentak di Kabupaten Kota Jawa Timur secara luring maupun daring.
“Berbarengan para petani kita lakukan tanam perdana Demi bongkar ratoon. Kediri ini punya prestasi besar mari kita dorong supaya Dapat mewujudkan swasembada gula,” Ali Jamil.
“Kinerja Jawa Timur ini sangat keren, produktivitas Niscaya tinggi Demi komoditas beras gula bahkan jagung. Atas dukungan Ibu Gubernur dan Dirut SGN, Asa kita supaya program ini Dapat sukses,” imbuhnya.
Sementara itu, Dirut SGN Mahmudi mengatakan program bongkar ratoon adalah bagian dari upaya Demi meningkatkan produksi dan produktifitas gula konsumsi Berkualitas secara regional maupun nasional.
“Ini adalah ikhtiar kita Sekalian supaya apa yang ditargetkan khususnya swasembada gula pada tahun 2026 ini Dapat tercapai,” kata Mahmudi.
“Dalam Penyelenggaraan tanam perdana ini, Eksis 11 Kabupaten Kota yang mengikuti, lokasinya Eksis di 15 titik tanam,” tutupnya.
Sebagai informasi, Gubernur Khofifah berkesempatan menyerahkan Sokongan alat dan mesin (Alsintan) kepada Golongan tani. Sokongan tersebut meliputi 2 pompa air Demi komoditas tebu, 1 paket alat dan bahan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, 1 rice transplanter, 1 handtractor rotary dan 1 cultivator. (tok/ted)
