Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mengkritik rencana Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang mengusulkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, pada Selasa (2/7/2026).
Kritik tersebut disampaikan menyusul wacana BGN Buat memperluas jangkauan program MBG ke luar negeri, seperti dilansir dari Detikcom. Pihak DPR menilai usulan tersebut Bukan sejalan dengan prioritas pemenuhan gizi yang Demi ini Tetap mendesak di dalam negeri.
“Pertama, saya menyayangkan wacana anak Indonesia yang sekolah di Arab Saudi mau dikasih MBG. Wacana tersebut sangat Bukan relevan dengan tujuan Istimewa program MBG Buat meningkatkan asupan gizi kepada anak-anak sekolah di dalam negeri, serta ibu hamil, ibu menyusui dan balita,” kata Yahya kepada wartawan, Selasa (2/7/2026).
Yahya meminta BGN Buat lebih Pusat perhatian membenahi tata kelola domestik. Berdasarkan catatannya, Tetap terdapat sejumlah kendala operasional pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Nasional (SPPG), termasuk Intervensi kasus keracunan makanan dan belum terpenuhinya standardisasi kesehatan.
“Kedua, saya mengingatkan kepala BGN Buat Pusat perhatian kepada peningkatan kualitas MBG dengan meningkatkan pengawasan yang ketat terhadap SPPG karena Tiba sekarang Tetap banyak terjadi kasus keracunan,” tambahnya.
DPR juga menyoroti bahwa realisasi Sasaran penerima manfaat di Indonesia Demi ini belum mencapai Nomor maksimal. Dari Sasaran puluhan juta anak, cakupan program nasional dipandang Tetap membutuhkan percepatan yang signifikan sebelum merambah ke negara lain.
“Saya minta kepala BGN mengejar Sasaran 82 juta penerima manfaat pada tahun 2026. Sekarang Tetap Sekeliling 60 juta penerima manfaat. Jangan Membikin wacana yang Bukan perlu dan Bukan relevan Buat dilaksanakan,” kata Yahya.
Politisi tersebut juga mempertanyakan standardisasi pemilihan Posisi luar negeri Apabila program tersebut dipaksakan berjalan. Menurutnya, Tetap Eksis Distrik lain dengan populasi anak pekerja migran yang lebih besar yang belum tersentuh kebijakan serupa.
“Sasaran di dalam negeri saja belum terpenuhi sudah mengalihkan perhatian kepada isu yg Bukan Krusial. Kenapa yang menjadi perhatian anak Indonesia yang sekolah di Arab Saudi? bagaimana dengan anak Indonesia yang sekolah di negara lain seperti Malaysia yang jumlahnya Malah lebih banyak,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana melontarkan wacana ini Demi mengunjungi Sekolah Indonesia Jeddah yang menampung Sekeliling 1.081 anak pekerja migran. Rencana tersebut muncul setelah berdialog dengan para siswa dan guru di Posisi.
“Saya diminta datang ke sekolah Indonesia Jeddah di mana di situ Eksis kurang lebih 1.081 anak-anak pekerja migran yang didik di sekolah Indonesia Jeddah, dan saya kira ini program yang bagus karena Pandai Membikin anak-anak pekerja migran itu punya Cita-cita masa depan,” kata Dadan, dikutip, Selasa (2/6).
Menurut keterangan BGN, kunjungan tersebut disambut antusias oleh Sekeliling 100 siswa dan 56 guru. Dalam pertemuan itu, para pelajar secara langsung menyampaikan keinginan mereka Buat mendapatkan fasilitas yang sama dengan anak-anak di tanah air.
“Mereka spontan Mau menikmati program yang dirasakan oleh Mitra temannya di Indonesia,” katanya.
BGN menyatakan akan membawa usulan ini ke tingkat eksekutif guna mendapatkan arahan lebih lanjut. Rencana di Jeddah ini diproyeksikan sebagai skema percontohan sebelum diterapkan ke Distrik konsentrasi pekerja migran lainnya.
“Jadi kita tadi datang Buat Menonton dan nanti saya akan laporkan ke Presiden apakah dimungkinkan kita Membikin Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di sekolah Indonesia Jeddah. Dan juga mungkin nanti Eksis juga pekerja-pekerja migran di Malaysia dan di kebun-kebun dan sebagainya, ini Pandai menjadi suatu pilot project,” katanya.
