Surabaya (Liputanindo.id) – Member Komisi D DPRD Jawa Timur, Diana AV Sasa mendesak pemerintah segera melakukan reorientasi anggaran menyusul meningkatnya cuaca ekstrem di musim pancaroba. Menurut dia, langkah ini krusial Buat mengantisipasi Dampak bencana yang semakin sering terjadi akibat perubahan pola iklim.
“Ini bukan rutinitas tahunan. Sistem kita belum siap menghadapi pola ekstrem yang datang tiba-tiba,” tegas Sasa sapaan lekatnya, Senin (13/4/2026).
Sasa menyampaikan, peringatan dari BMKG terkait potensi hujan lebat, angin kencang, dan petir harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola cuaca yang membutuhkan respons kebijakan lebih adaptif.
“Kita harus membaca ini sebagai sinyal serius, bukan sekadar peringatan Lazim. Dampaknya sudah Konkret dirasakan masyarakat,” tutur dia.
Fenomena cuaca yang berubah Segera dari panas terik ke hujan deras dalam waktu singkat meningkatkan risiko bencana. Mulai dari banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur menjadi ancaman yang harus diantisipasi sejak awal.
“Kita gagal mengatur Aliran air sejak awal,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan ini.
Menurut Sasa, pendekatan pembangunan selama ini Tetap berfokus pada perbaikan setelah bencana terjadi. Dia mendorong pemerintah beralih ke strategi pencegahan yang lebih terencana dan terintegrasi.
“Ke depan, pembangunan harus berbasis mitigasi, bukan hanya respons darurat. Ini soal keselamatan masyarakat,” ujar mantan aktivis PMII ini.
Dalam pembahasan APBD mendatang, Komisi D akan mengusulkan penguatan anggaran di sektor pengelolaan air. Infrastruktur seperti embung, kolam retensi, dan rehabilitasi saluran irigasi dinilai menjadi solusi jangka panjang.
“Anggaran harus diarahkan ke infrastruktur air yang Bisa mengendalikan risiko sejak awal, bukan hanya memperbaiki kerusakan,” ucapnya.
Dia juga menegaskan pentingnya sinergi antarorganisasi perangkat daerah dalam menghadapi perubahan iklim. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar kebijakan berjalan efektif di lapangan.
“Kalau Tak terintegrasi, program Tak akan berdampak maksimal. Seluruh pihak harus bergerak Serempak,” kata dia.
Sasa mengingatkan, tanpa perubahan kebijakan, daerah rawan akan Maju mengalami siklus bencana berulang. Dia menilai pengelolaan air Sebaiknya menjadi kekuatan, bukan sumber masalah.
“Ini adalah kegagalan kita memanfaatkan air sebagai sumber daya yang Sebaiknya Dapat menyelamatkan petani,” pungkasnya.[asg/ted]
