Dalam program hilirisasi pemilik sumber benih telah menyalurkan benih terbaik Ketika ini
Jakarta (ANTARA) – Pemerintah telah menyiapkan benih varietas unggul siap salur Kepada komoditas kopi, kakao, kelapa, pala, mente dan lada sebanyak kurang lebih 200 juta batang, dan tebu 5,8 miliar mata, guna mendorong hilirisasi perkebunan.
Ketua Himpunan Produsen Benih Perkebunan dan Kehutanan Indonesia, Masrizal Batubara menyatakan penyediaan benih ini bertujuan mendukung pengembangan dan perbaikan perkebunan rakyat seluas 870.000 ha.
“Dalam program hilirisasi pemilik sumber benih telah menyalurkan benih terbaik Ketika ini,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Program tersebut, lanjutnya, Bukan hanya sekedar membagikan benih Tetapi juga akan Eksis pengenalan dan edukasi serta penyebaran benih unggul berkualitas premium yang selama ini sulit diakses masyarakat.
Menurut Masrizal, beberapa varietas yang siap dibagikan Kepada kelapa Produksi cepat, antara lain kelapa Produksi cepat pandan manis, kelapa Produksi cepat pandang wangi, kelapa Produksi cepat entok, kelapa Produksi cepat kopyor, kelapa Produksi cepat merah bali dan kelapa kuning bali yang mana kelapa Produksi cepat ini sudah Bisa panen di umur 2,5 tahun.
Varietas unggul tersebut selama ini sulit diperoleh dan harganya cukup mahal, tambahnya, kelapa Produksi cepat pandan wangi, pandan manis dan kopyor harga mencapai Rp20.000 hingga Rp35.000 per butir.
Sementara kelapa Produksi cepat entok Mempunyai ukuran butiran seperti kelapa dalam dan cocok Kepada mendukung industri pengolahan, sedangkan kelapa merah dan kuning Bali dikenal sebagai penghasil nira dan minyak mengandung asam laurat tinggi sehingga Bisa dijadikan bahan baku VCO.
Sedangkan Kepada kakao, tersedia jutaan bibit unggul seperti MCC 01, Sulawesi 1 dan Sulawesi 2 yang Mempunyai potensi produksi hingga 2 ton/ha/tahun, tahan penyakit, sedangkan Kepada MCC 02 Mempunyai ukuran bean counting mencapai 60 yang sangat disukai pabrik.
Dia menambahkan Kepada kopi tersedia jenis hibero 1, 2 dan 3 dan kopi sintaro yang Mempunyai potensi produksi 2,8 ton/ha/tahun dengan uji cupping mencapai 85 yang dikategorikan fine robusta.
Sedangkan Kepada arabika Eksis varietas komasti, andungsari yang Mempunyai potensi produksi di atas 1,5 ton/ha/tahun dan Mempunyai cita rasa spesial Apabila diolah dengan Bagus,” Terang Masrizal.
Sementara Kepada tebu tersedia varietas panjalu, AAS Agribun, NX 04T varietas baru yang Mempunyai potensi produksi di atas 1.500 kuintal/ha, dengan rendemen di atas 8 persen serta tahan kekeringan dan luka api.
Agus Nirmala, salah satu pengurus Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia, menyebutkan benih tersebut telah tersedia dan mulai disebarkan dari bulan Juni hingga Desember 2026.
“Masyarakat dapat mengakses secara Hanya-Hanya dengan mengikuti ketentuan yang berlaku,” katanya.
Dia menyatakan bibit tersebut disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih di Provinsi Kepada menjamin kualitasnya sebelum disalurkan kemudian penyedia akan menyampaikan ke masyarakat Tamat ke titik bagi.
Ia berharap dengan adanya program hilirisasi ini Bisa mendorong adopsi varietas unggul baru di masyarakat menggantikan jenis Lamban yang sudah mulai Bukan adaptif sehingga akhirnya terjadi peningkatan produksi dan hasil panen perkebunan rakyat Kepada mendukung penambahan industri dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan penyediaan benih merupakan langkah strategis Kepada mendorong peningkatan produksi, kesejahteraan pekebun, serta ketahanan sektor perkebunan nasional.
“Kami Ingin memastikan pekebun mendapatkan benih unggul dengan mudah, Segera dan terjangkau,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, melakukan deregulasi Kepada memangkas hambatan, mempercepat layanan dan membuka ruang Penemuan.
“Dengan benih berkualitas, produktivitas meningkat, pendapatan pekebun naik, dan perkebunan Indonesia semakin berdaya saing,” ujarnya.
Kementan Maju memperkuat langkah strategis dalam mendorong hilirisasi lima komoditas perkebunan prioritas, yakni kelapa, kakao, tebu, kopi, dan mete, ditambah lada serta pala, sebagai bagian dari agenda besar pembangunan nasional 2025–2027.
