Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Jakarta: Nilai Ubah (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini berhasil mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 1 Juni 2026, rupiah hingga pukul 10.12 WIB berada di level Rp17.845 per USD. Mata Doku Garuda tersebut naik 36 poin atau setara 0,20 persen dari Rp17.881 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.878 per USD. Analis pasar Doku Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
“Kepada perdagangan hari ini, mata Doku rupiah fluktuatif Tetapi ditutup melemah di rentang Rp17.800 per USD hingga Rp18.100 per USD,” Terang Ibrahim.
Gencatan senjata AS-Iran bakal diperpanjang
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan nilai Ubah rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang membaik setelah muncul laporan Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan Kepada memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, sementara negosiasi Lalu berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional. Usulan kesepakatan tersebut Tetap memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.
“Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung Cita-cita aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Tetapi, Lewat lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di Dasar tingkat sebelum konflik, sehingga Iuran pertanggungan risiko geopolitik tetap tertanam di pasar minyak,” papar Ibrahim.
Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap Informasi Istimewa yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata. Minyak mentah sempat pulih pada Kamis setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara Laskar AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar kemudian karena optimisme diplomatik muncul kembali.
Investor juga menilai latar belakang makroekonomi yang lebih luas setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan Etnis Merekah lebih tinggi Kepada waktu yang lebih lelet.
Pada Ketika yang sama, data pertumbuhan ekonomi AS tumbuh lebih lelet dari yang diperkirakan pada kuartal pertama 2026, dengan PDB hanya meningkat sebesar 1,6 persen, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,0 persen, menurut Biro Analisis Ekonomi AS.
Pada Ketika yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215 ribu Kepada pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211 ribu.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Arus modal asing berbondong-bondong ‘pulang kampung’
Sementara itu, Ibrahim menilai kebijakan bank sentral Amerika Perkumpulan (The Fed) yang menahan Etnis bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit Mendunia seperti S&P Mendunia, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar
Tingginya harga minyak Mendunia meningkatkan biaya impor Kekuatan Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) Kepada pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat Membangun pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.
Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman Kepada kebutuhan korporasi (seperti pembayaran dividen) dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah. Ditambah sentimen pasar terhadap kebijakan dan aset Indonesia.
“Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN,” papar Ibrahim.
