Waktu membaca: 9 menit
Rencana kerja sama antara Indonesia dengan Amerika Perkumpulan Demi memanfaatkan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai “bengkel Dunia” pesawat Hercules/C-130 Mempunyai risiko keamanan nasional yang besar ketimbang keuntungan secara finansial, kata pengamat.
Ahli penerbangan dari Aviatory Indonesia, Ziva Narendra, mengatakan Bandara Kertajati beroperasi penuh dengan konsep penerbangan sipil dan Kagak mempunyai kapasitas pertahanan maupun militer yang memadai.
Sementara, lebih dari 90% populasi pesawat Hercules/C-130 yang beroperasi di seluruh dunia merupakan varian berspesifikasi militer yang tentunya harus mendatangkan personel militer atau kontraktor militer asing.
“Di situlah muncul risiko keamanannya,” kata Ziva.
Personil Komisi I DPR, TB Hasanuddin, juga meminta pemerintah berhati-hati terkait kerja sama tersebut.
Menurut dia, kerja sama itu Kagak Pandai dipandang sekadar proyek industri Biasa, melainkan Mempunyai dimensi strategis, pertahanan, hingga kedaulatan negara yang harus dikaji secara menyeluruh.
Kepala Biro Informasi Pertahanan di Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, mengatakan pembahasan proyek ini Tetap dalam tahap awal.
Rico mengklaim, rencana Bandara Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat Hercules/C-130 Kagak bertujuan membangun pangkalan militer AS di Indonesia.
Bagaimana awal mula ide itu muncul?
Tawaran Demi menjadikan Indonesia sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat Hercules/C-130 muncul dalam Rapat Kerja Serempak antara Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin dengan Komisi I DPR dan TNI pada Selasa (19/05).
Di situ, Sjafrie menyebut Menteri Perang Amerika Perkumpulan, Pete Hegseth, menawarkan kerja sama agar Indonesia menjadi tempat pemeliharaan pesawat angkut Hercules/C-130 se-Asia.
Pete Hegseth, klaimnya, bersedia menanggung seluruh biaya yang dibutuhkan.
“Dia (Pete Hegseth) menawarkan dan ini Kagak Terdapat di negara ASEAN. Dia menawarkan, ‘Bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami?’,” kata Sjafrie.
“Saya lapor (ke) Bapak Presiden, beliau katakan, ‘kasih Kertajati’. Nah kita sedang bekerja Demi itu,” dia menambahkan.
Dalam kesempatan berbeda, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Rico Ricardo Sirait, membenarkan soal tawaran dari AS tersebut.
Ia Berbicara, Demi ini terdapat rencana Demi menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) Hercules/C-130 di Asia.
Bandara Kertajati dipilih karena mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan yang disebutnya sudah memadai.
Rencananya, pengembangan Bandara Kertajati sebagai MRO atau hub pemeliharaan Pesawat Hercules/C-130 se-Asia dilakukan secara bertahap.
Hal itu, sambungnya, sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional.
Soal nilai investasi dari proyek ini, Rico mengklaim pemerintah belum Mempunyai rincian Formal.
Yang Niscaya, ia bilang seluruh aktivitas tetap tunduk pada kedaulatan Indonesia, hukum nasional, serta mekanisme lintas kementerian dan lembaga, terkait pengaturan ruang udara, keselamatan penerbangan, dan Mekanisme masuk pesawat asing.
Bandara Kertajati terbesar di Indonesia, bagaimana nasibnya kini?
Bandara Dunia Jawa Barat (BIJB) Kertajati, di Majalengka, Jawa Barat, diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2018.
Ide pembangunan bandara ini muncul sejak awal tahun 2000-an karena Bandara Udara Husein Sastranegara dianggap sudah terlalu padat.
Studi kelayakannya dimulai Sekeliling 2003, dan pembangunan besar dimulai pertengahan 2010-an.
Bandara ini Mempunyai runway Sekeliling 3.000 x 60 meter, Pandai melayani pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 dan Airbus A330, mempunyai puluhan parking stand, serta dirancang juga Demi penerbangan haji, umrah, dan kargo.
Pandai dibilang, Bandara Kertajati termasuk salah satu bandara terbesar di Indonesia dari sisi luas area yang dikembangkan Demi kapasitas jangka panjang hingga Sekeliling 29 juta penumpang per tahun.
Tetapi, sejak beroperasi hingga kini, Bandara Kertajati seperti Wafat suri gara-gara lokasinya yang jauh dari pusat kota Bandung dan konektivitas transportasi yang semula belum optimal.
Itu mengapa, jumlah penumpang yang mendarat di Bandara Kertajati sempat rendah dan beberapa maskapai menghentikan rute penerbangannya.
Sepanjang 2024, Bandara Kertajati melayani Sekeliling 413.240 penumpang. Bilangan ini naik Sekeliling tiga kali lipat dibanding 2023 yang Sekeliling 135.000 penumpang.
Belakangan, pemerintah mencoba menghidupkan Bandara Kertajati dengan Metode: membuka rute Dunia, penerbangan haji dan umrah, pengembangan kawasan industri Rebana Metropolitan, juga pusat perawatan pesawat atau MRO.
Apa risiko Demi Bandara Kertajati menjadi pusat perawatan pesawat Hercules?
Ahli penerbangan dari Aviatory Indonesia, Ziva Narendra, mengatakan meskipun Bandara Kertajati dikembangkan sebagai pusat perawatan pesawat, tapi konsep awalnya hanya Demi pesawat sipil.
Sementara itu, lebih dari 90% populasi pesawat Hercules/C-130 yang beroperasi di seluruh dunia merupakan varian berspesifikasi militer, yang tentunya harus mendatangkan personel militer atau kontraktor militer asing.
Apabila Bandara Kertajati disulap menjadi ‘bengkel Dunia’ Demi pesawat-pesawat militer maka Mempunyai risiko keamanan nasional.
Apalagi di sana Kagak Terdapat kapasitas pertahanan maupun militer yang memadai Demi mengawasi gerak-gerik personel militer maupun kontraktor militer asing.
“Nanti siapa yang mengawasi mereka dan memastikan bahwa mereka selama masa aktivitasnya itu berada dalam koridornya,” ujar Ziva Narendra.
“Saya Memperhatikan banyak kompleksitas di sini, bukan berarti saya menuduh mereka nanti menyelundupkan senjata atau apa… atau Terdapat Laskar masuk lewat Jawa Barat, enggak se-ekstrem itu.”
“Tapi, saya menyebutnya ‘bocor halus’.”
“Jadi ketika bandara sipil digunakan Demi pekerjaan atau misalnya aktivitas yang digunakan Demi aset militer, akan Terdapat konsekuensi atau risikonya,” ia menambahkan.
Adapun kekhawatiran soal Bandara Kertajati bakal menjadi basis atau pangkalan militer AS, menurutnya terlalu berlebihan.
Alasan, kalau Ingin membangun pangkalan militer Terdapat banyak Letak yang lebih strategis ketimbang Jawa Barat.
Selain itu Demi menjadi pangkalan militer sebuah negara juga harus Terdapat pengiriman personel maupun aset militer yang cukup signifikan.
“Kemudian mendirikan barak, Terdapat batalion, atau skuadron, misalnya. Jadi harus Terdapat investasi aset berupa sumber daya Mahluk atau peralatan yang besar Demi Pandai disebut pangkalan militer,” jelasnya.
Atas dasar itulah, ia menilai penggunaan Bandara Kertajati sebagai ‘bengkel Dunia’ pesawat militer seperti Hercules/C-130 kurang Betul dan bakal mengorbankan risiko keamanan ketimbang mendapat keuntungan secara ekonomi maupun politik.
Selain itu, perkiraannya, pengguna pesawat Hercules/C-130 di Distrik Asia Kagak lebih banyak daripada Amerika Perkumpulan dan Eropa.
“Saya Memperhatikan keuntungan ekonomi atau politiknya Kagak sebanding dengan risiko keamanannya.”
Menurut Ziva, pemerintah Pandai menjajaki Letak lain Apabila Ingin melanjutkan kerja sama ini tanpa mengorbankan risiko keamanan nasional.
Dia mencontohkan Bandara Halim Perdanakusuma yang merupakan pangkalan militer Punya TNI AU Tetapi juga mengelola operasional sipil. Begitu pun pangkalan Penting TNI AU seperti di Surabaya, Jawa Timur; Makassar, Sulawesi Selatan; dan Batam.
Bandara-bandara tersebut, baginya, lebih Betul lantaran Mempunyai personel pengawasan militer yang Jernih dan sesuai.
“Dan Jernih juga peruntukan ruang udaranya.”
Apakah penempatan itu melanggar aturan Indonesia?
Personil Komisi I DPR, TB Hasanuddin, meminta pemerintah berhati-hati terkait persetujuan menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat perawatan pesawat Hercules/C-130 seperti yang diusulkan pemerintah Amerika Perkumpulan.
TB Hasanuddin menilai kerja sama tersebut Kagak Pandai dipandang sekadar proyek industri penerbangan Biasa, melainkan Mempunyai dimensi strategis, pertahanan, hingga kedaulatan negara yang harus dikaji secara menyeluruh.
Ia juga menilai perlu Terdapat kejelasan mengenai cakupan operasional MRO tersebut. Alasan, apabila fasilitas itu hanya digunakan Demi pesawat-pesawat Hercules/C-130 Punya militer Amerika Perkumpulan yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, maka hal itu berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan politik strategis.
“Apabila fasilitas tersebut Tertentu Demi mendukung operasional pesawat militer Amerika Perkumpulan di kawasan Asia, maka persepsinya Pandai berkembang sebagai bentuk pangkalan militer AS di Indonesia,” kata TB Hasanuddin.
“Ini tentu harus dicermati karena dapat berbenturan dengan peraturan perundang-undangan serta prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia,” sambungnya.
Lebih dari itu, dia Berbicara bahwa tawaran tersebut datang dari Menteri Perang AS, bukan dari perusahaan pabrikan pesawat Hercules sebagai kerja sama industri murni.
Karenanya, aspek kepentingan strategis militer AS sangat kuat dalam rencana tersebut.
Politikus PDI Perjuangan ini juga menyoroti status Bandara Kertajati yang selama ini merupakan bandara sipil.
Menurut dia, apabila digunakan sebagai pusat perawatan pesawat militer asing, maka perlu Terdapat penyesuaian regulasi, tata kelola, serta pengaturan zonasi yang Jernih.
“Bandara Kertajati Demi ini berstatus bandara penerbangan sipil. Kalau nanti menjadi pusat perawatan pesawat militer, tentu harus Terdapat pengaturan yang Jernih agar Kagak mengganggu fungsi pelayanan penerbangan sipil Demi masyarakat Jawa Barat,” ungkapnya.
Di sejumlah negara, katanya, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Filipina, kerja sama MRO dengan Amerika Perkumpulan memang dilakukan Demi mendukung operasional pesawat militer AS di kawasan Indo-Pasifik.
Tetapi, fasilitas tersebut umumnya ditempatkan di kawasan industri Tertentu atau fasilitas Punya industri perawatan pesawat domestik.
Itu mengapa, dia meminta pemerintah memastikan adanya manfaat Konkret bagi industri pertahanan nasional, khususnya PT Dirgantara Indonesia.
“Prinsip utamanya adalah menjaga kedaulatan negara, memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas, serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri,” ia melanjutkan.
Apa sikap pemerintah?
Hingga Demi ini pembahasan terkait proyek penyiapan Bandara Kertajati menjadi pusat pemeliharaan pesawat Hercules/C-130 Tetap dalam tahap awal.
Tetapi, kata Kepala Biro Informasi Pertahanan di Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, kerja sama ini sangat strategis karena akan memberikan Dampak Bagus bagi penguatan pertahanan Indonesia.
Salah satunya, Indonesia semakin mudah dalam membangun kerja sama dan Interaksi diplomasi dengan negara-negara Asia pengguna pesawat angkut Hercules.
“Langkah ini juga sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional,” sebutnya.
Kendati demikian, Rico Kagak menjelaskan secara rinci seperti apa progres pembangunan MRO itu. Dia juga Kagak menjelaskan tenggat waktu pembangunannya.
Sementara, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, memastikan lahan di kawasan Bandara Kertajati cukup memadai Demi dibangun pusat MRO.
Demi ditanya lebih lanjut mengenai pabrikan asal Amerika Perkumpulan (AS), Lockheed Martin yang membangun fasilitas MRO di sana, Dudy membuka kemungkinan tersebut. Menurutnya, Kementerian Pertanahan akan bekerja sama dengan pihak penyelenggara.
“Ya Demi kalau dari Kementerian Pertahanan itu akan melakukan pengadaan Hercules. Biasanya mereka akan bekerja sama termasuk diantaranya penyelenggaran maintenance. Kalau memang pabrikan menyetujui ya mereka Niscaya sudah Terdapat perbicaraan,” terang Dudy.
