Madinah (Liputanindo.id) – Jemaah haji Indonesia diminta mewaspadai suhu panas di Makkah dan Madinah yang diprediksi mencapai 39 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah selama musim haji 2026. Tenaga kesehatan dr. M Fathi Banna Al Faruqi mengingatkan bahwa udara kering di Arab Saudi mempercepat penguapan cairan tubuh yang sering kali Kagak disadari oleh jemaah karena keringat yang langsung menguap.
Guna mencegah Kekurangan air, jemaah disarankan menerapkan pola minum berkala sebanyak dua teguk setiap 10 menit tanpa menunggu rasa Kehausan. Selain menjaga asupan cairan, penggunaan pelembap bibir sangat dianjurkan Buat mencegah luka pecah-pecah yang dapat mengganggu asupan Daya serta aktivitas ibadah di Tanah Bersih.
Jemaah haji Indonesia yang sedang berada di Tanah Bersih diimbau Buat mewaspadai kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi selama musim haji 2026 yang diperkirakan tetap panas dengan tingkat kelembapan rendah. Berdasarkan pantauan kesehatan di lapangan pada Senin (20/4/2026), suhu siang hari di Makkah telah menyentuh Bilangan 39 derajat Celsius, sementara di Madinah berkisar pada suhu 38 derajat Celsius.
Kondisi ini memicu risiko gangguan kesehatan serius bagi para tamu Allah Apabila Kagak diantisipasi dengan kesiapan fisik yang matang. Tenaga kesehatan dari Tim Kesehatan Penyelenggara Ibadah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara, dr. M Fathi Banna Al Faruqi, menjelaskan bahwa Watak udara kering di Makkah dan Madinah merupakan Unsur Istimewa yang mempercepat penguapan cairan tubuh.
“Perbedaan suhu dan kelembapan ini perlu diantisipasi, karena udara kering Membikin cairan tubuh lebih Segera menguap dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” ujar dr. Fathi Ketika ditemui di area hotel Daker Bandara, Kota Madinah.
Bahaya Kekurangan air Tersembunyi
Masalah kesehatan yang paling sering muncul adalah Kekurangan air ringan yang kerap Kagak disadari oleh jemaah. Tanda khas cuaca di Arab Saudi Membikin keringat langsung menguap tanpa terasa, sehingga jemaah sering kali Kagak merasa kegerahan Tetapi cairan tubuh sebenarnya telah berkurang drastis.
Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah kondisi bibir yang kering dan pecah-pecah. Apabila dibiarkan, bibir yang pecah tersebut dapat menjadi luka terbuka atau sariawan yang berisiko terinfeksi dan mengganggu pola makan jemaah.
“Ketika bibir pecah atau sariawan, jemaah menjadi Kagak nyaman Ketika makan. Dampaknya, asupan Daya berkurang dan kondisi Kekurangan air Bisa semakin parah,” Terang dr. Fathi.
Penurunan Daya ini tentu sangat berisiko bagi jemaah asal berbagai daerah, termasuk jemaah dari Jawa Timur yang harus menjaga stamina Buat menjalani rangkaian ibadah yang padat.
Strategi Minum 2 Teguk Tiap 10 Menit
Sebagai langkah pencegahan yang efektif, tim kesehatan menekankan pentingnya hidrasi secara berkala. Jemaah dilarang menunggu rasa Kehausan muncul sebelum meminum air. dr. Fathi memperkenalkan pola minum sedikit demi sedikit Tetapi rutin agar cairan tubuh tetap Kukuh.
“Disarankan minum dua teguk setiap 10 menit. Metode ini menjaga cairan tubuh tetap Kukuh tanpa Membikin jemaah terlalu sering ke Bilik kecil,” katanya.
Pola ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan meminum air dalam jumlah besar sekaligus, yang Malah akan memicu frekuensi buang air kecil berlebih dan berpotensi mengganggu kenyamanan jemaah Ketika beribadah di masjid atau dalam perjalanan.
Selain pola minum, jemaah juga diwajibkan Buat selalu membawa botol minum sendiri yang berisi air putih atau air zamzam. Buat perlindungan eksternal, penggunaan pelembap bibir seperti lip balm atau produk berbasis petroleum jelly sangat disarankan guna melindungi permukaan kulit dari paparan udara panas yang menyengat.
“Langkah-langkah sederhana ini Krusial agar jemaah tetap sehat dan Bisa menjalankan ibadah dengan optimal,” pungkas dr. Fathi. Dengan suhu yang cenderung ekstrem tersebut, kesadaran individu Buat menjaga kesehatan menjadi kunci kelancaran ibadah haji 2026. [ian/but]
