Ponorogo (Liputanindo.id) – Komisi D DPRD Jawa Timur turun langsung meninjau beberapa Letak longsor di jalur Primer Ponorogo–Pacitan yang sempat menutup akses beberapa waktu Lewat.
Dalam peninjauan tersebut, ditemukan sedikitnya 9 titik longsor yang tersebar di sepanjang jalur penghubung 2 Distrik tersebut. Kondisi ini dinilai bukan kejadian baru, melainkan persoalan berulang yang membutuhkan penanganan serius lintas sektor.
“Longsor yang terjadi beberapa waktu yang Lewat di Kecamatan Slahung Ponorogo Eksis 9 titik sepanjang Pacitan Ponorogo. Setelah kita amati memang daerah ini bukan kejadian baru,” kata Personil Komisi D DPRD Jatim, Diana AV Sasa, Kamis (23/4/2026).
Menurut Sasa, panggilan akrabnya, Watak geografis di jalur tersebut menjadi Elemen Primer tingginya potensi longsor. Lereng yang curam, vegetasi yang Kagak kuat menahan, serta Bangunan penahan tanah yang dinilai belum memadai memperparah kondisi di lapangan.
Dia menyebut persoalan longsor di kawasan ini bersifat kompleks dan Kagak Bisa ditangani dengan pendekatan Normal.
“Jalur ini adalah jalur yang sudah cukup sering terjadi longsor dan kalau kita lihat, lerengnya memang cukup curam, kemudian vegetasinya juga Kagak cukup kuat Kepada menahan tanah dan. Tembok penahan itu Kagak cukup kuat Kepada menahan beban-beban Tengah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sasa mengungkapkan bahwa sejumlah kajian yang pernah dilakukan menunjukkan kawasan tersebut berada di Distrik sesar aktif dan Mempunyai Watak tanah yang Kagak Konsisten.
Bahkan, diduga kawasan itu merupakan bagian dari gunung purba yang proses pelapukannya belum sempurna. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya cekungan tanah yang mudah runtuh, terutama Demi curah hujan tinggi.
“Salah satu kajiannya ditemukan bahwa di daerah ini adalah memang daerah sesar. Kemudian, diperkirakan di sini dulu Eksis gunung aktif yang purba. Gunung purba yang pelapukannya belum sempurna. Nah, sehingga Eksis semacam cekungan, cekungan tanah yang itu akan mudah runtuh,” paparnya.
Dia juga menyebut adanya potensi tekanan dari tampungan air di dalam tanah yang memperbesar risiko longsor. Salah satu solusi yang sempat dirancang adalah mengurangi beban tanah melalui rekayasa teknis seperti terasering. Tetapi, rencana tersebut terkendala status lahan yang merupakan kawasan hutan lindung Punya Perhutani.
“Nah, maka sebenarnya sudah Eksis beberapa solusi yang Mau dilakukan oleh Kolega-Kolega PU. Itu adalah dengan mengurangi beban, beban tanahnya karena Eksis tampungan air. Nah, air yang itu sangat berpotensi Kepada mendorong tanah ke Dasar,” ungkapnya.
Sasa menegaskan bahwa pihaknya akan mendorong komunikasi lintas sektoral Kepada mencari solusi terbaik tanpa melanggar aturan. Mengingat status hutan lindung Mempunyai regulasi ketat, langkah teknis harus melalui konsultasi dengan pihak terkait di tingkat pusat. Meski demikian, aspek keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas Primer.
“Nanti kita akan bantu Kepada komunikasi lintas sektoral dengan perhutani dan ke atas ya, karena hutan lindung kita harus konsul dulu apakah undang-undangnya mengizinkan. Karena kami rasa keselamatan Penduduk itu harus tetap menjadi yang Primer,” tegas Sasa.
Selain aspek keselamatan, jalur Ponorogo–Pacitan juga Mempunyai peran vital dalam mendukung konektivitas dan distribusi ekonomi antarwilayah. Apabila jalur tersebut terputus, dampaknya Kagak hanya pada mobilitas Penduduk, tetapi juga pada arus barang dan jasa. Oleh karena itu, DPRD Jatim menilai perlu Eksis langkah strategis jangka panjang.
“Apalagi jalur ini adalah jalur Primer konektivitas antar Distrik Pacitan-Ponorogo. Kalau jalur ini putus, ya sudah kita agak kesulitan Kepada arus transportasi distribusi. Ekonominya juga akan terganggu,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Madiun Dinas PU Bina Marga Jatim, Jarwoto, mengakui bahwa Elemen alam menjadi penyebab Primer terjadinya longsor di kawasan tersebut.
Curah hujan tinggi yang Berjumpa dengan struktur tanah Kagak Konsisten Membikin potensi longsor sulit diprediksi. Kondisi ini semakin diperparah dengan Watak geologi yang kompleks.
“Kalau kejadian longsor atau jalan ambles ini kan memang Elemen cuaca, hujan dan sebagainya ya. Tentunya kalau pas kondisi curah hujan tinggi, dengan kondisi struktur tanah yang Eksis di sini, potensi longsong pun tinggi,” kata Jarwoto.
Jarwoto menjelaskan, sejak 2020 pihaknya telah melibatkan berbagai akademisi dari sejumlah perguruan tinggi Kepada melakukan kajian mendalam. Hasilnya menguatkan bahwa kawasan tersebut berada di Area sesar dengan pergeseran tanah di kedalaman lebih dari 35 meter. Kondisi ini Membikin penanganan permanen menjadi sangat sulit dan berbiaya tinggi.
“Akademisi kita libatkan, Bagus dari ITS, UB, dan ini UGM yang intens dari awal. Lanjut melakukan penelitian, kajian, dan sebagainya. Nah, ini memang seperti apa yang disampaikan Bu Diana tadi, bahwasanya di sini ini area termasuk sesar bumi,” jelasnya.
Dia menambahkan, opsi penanganan permanen seperti pemancangan atau perkuatan struktur tanah dinilai Kagak efektif dalam kondisi geologi seperti ini. Bahkan, satu-satunya solusi jangka panjang yang memungkinkan adalah relokasi jalur, Tetapi membutuhkan biaya besar dan perencanaan matang.
“Ini yang kalau kita melakukan misalkan Kepada penahanan permanen seperti melakukan pemancangan, seperti satu-satunya jalan mungkin ya harus relokasi. Itu pun juga biaya tinggi sekali, karena harus merubah trasn jalan dan sebagainya,” ungkap Jarwoto.
Dengan keterbatasan anggaran yang Eksis, pihaknya Demi ini lebih Konsentrasi pada penanganan Segera ketika terjadi longsor. Upaya yang dilakukan meliputi pembersihan material dan normalisasi jalur agar Lewat lintas segera kembali berjalan.
Langkah ini dinilai sebagai solusi paling realistis dalam jangka pendek. Jarwoto memastikan, setiap kejadian longsor langsung direspons dengan Segera oleh tim di lapangan. Tujuannya agar gangguan terhadap arus Lewat lintas Kagak berlangsung Lamban. Tetapi, Di mengakui bahwa langkah tersebut Lagi bersifat sementara.
“Yang Bisa kita lakukan ya secepatnya supaya Lewat lintas Kagak terganggu, normal kembali itu saja. Jadi, begitu Eksis kejadian, kita gerak Segera segera membersihkan,” pungkasnya. [end/suf]
