Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Liputanindo.id/Richard Alkhalik.
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan defisit sebesar Rp164,4 triliun hingga akhir April 2026 setara dengan 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Purbaya, rasio defisit ini jauh lebih terkendali dibandingkan dengan catatan bulan sebelumnya yang menyentuh Nomor 0,93 persen terhadap PDB. Penurunan rasio ini sekaligus menepis keraguan sejumlah ekonom dan analis pasar terkait pelebaran defisit pada periode sebelumnya.
“Tamat April 2026, defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB,” kata Purbaya, dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Kinerja APBN akan semakin kokoh
Purbaya optimistis kinerja APBN ke depan akan semakin kokoh. Keyakinan ini ditopang keseimbangan Istimewa yang tercatat sebesar Rp28 triliun atau 31,2 persen, serta dorongan dari pos pendapatan negara yang Lanjut menunjukkan kinerja membaik.
Dia mengatakan, defisit pada periode ini merupakan Percepatan belanja negara yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju pendapatan. Hingga akhir April 2026, realisasi belanja negara telah mencapai Rp1.082,8 triliun atau 28,2 persen dari pagu yang ditetapkan dalam APBN.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: dok MI/Insi Nantika Jelita.
Secara rinci, serapan belanja negara tersebut dialokasikan Demi belanja pemerintah pusat yang terserap Rp826 triliun atau 26,2 persen, yang mencakup belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp400,5 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp425,5 triliun.
Tak hanya itu, Transfer ke Daerah (TKD) yang terealisasi sebesar Rp256,8 triliun atau 37,1 persen dan pembiayaan anggaran yang tercatat mencapai Rp298,5 triliun atau 43,3 persen turut bagian dalam belanja negara.
Pajak jadi penopang
Realisasi pendapatan negara tercatat menembus Rp918,4 triliun atau 29,1 persen dari Sasaran APBN. Penerimaan dari sektor perpajakan tetap menjadi tulang punggung Istimewa dalam menopang kas negara.
Penerimaan perpajakan mencetak Nomor Rp746,9 triliun atau 27,7 persen dari Sasaran. Adapun rincian performa penerimaan tersebut meliputi penerimaan pajak mencapai Rp646,3 triliun atau 27,4 persen. Sedangkan kepabeanan dan cukai menyumbang Rp100,6 triliun atau 29,9 persen serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menembus Rp171,3 triliun atau 37,3 persen.
