Menkeu Purbaya andalkan kas dan SAL Kepada stabilkan pasar obligasi

Purbaya sebut Panda Bond lebih menarik dari Dim Sum Bond

Mungkin belum kami aktifkan bond stabilization fund, tapi stabilisasi harga bond dulu. Beda rupanya, kalau bond stabilization fund itu kalau krisis

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengurungkan rencananya Kepada mengaktifkan Biaya stabilisasi obligasi atau bond stabilization fund (BSF) dan memilih Kepada mengandalkan kas pemerintah serta Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, menjelaskan Biaya stabilisasi obligasi atau BSF didesain Kepada menjadi penyangga ketika terjadi krisis.

Sementara Demi ini, menurut dia, Indonesia Tak dalam kondisi krisis ekonomi.

“Mungkin belum kami aktifkan bond stabilization fund, tapi stabilisasi harga bond dulu. Beda rupanya, kalau bond stabilization fund itu kalau krisis, baru kita panggil semuanya. Ini kan nggak krisis,” kata Purbaya.

Kepada menstabilkan harga obligasi, Purbaya bakal mengoptimalkan seluruh instrumen yang Eksis, termasuk manajemen kas serta SAL. Dia menilai kedua instrumen itu sudah cukup Kepada mengendalikan harga Surat Berharga Negara (SBN).

Dengan demikian, dia Tak berencana melibatkan lembaga maupun institusi lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Kepada Demi ini.

“Kita kelola kas saja supaya bond lebih Kukuh. Yang kita Guna Bisa SAL, Bisa kas kita. Jadi, nanti unit perbendaharaan saya akan lebih aktif, dia akan seperti perbendaharaan di sektor swasta,” tuturnya.

Menkeu mengungkapkan rencana mengaktifkan Biaya stabilisasi obligasi pada Rabu (6/5). Langkah tersebut bertujuan menjaga pasar surat utang tetap Kukuh dan Tak mudah digoyang investor asing.

Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai Ubah rupiah.

Ia menilai tekanan di pasar obligasi dalam beberapa bulan terakhir dipicu arus keluar modal asing dari pasar surat utang domestik yang mendorong kenaikan imbal hasil (yield) secara Segera.

Dalam konteks itu, Purbaya mulanya menyiapkan BSF Kepada menstabilkan pasar obligasi atau surat utang dengan membeli kembali (buyback) SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.

Strategi itu dilakukan Kepada menjaga imbal hasil SBN agar tetap Kukuh, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang Tak mengalami kerugian modal (capital loss).