Ilustrasi ekonomi indonesia. Foto- Dok istimewa
Jakarta: Transformasi perekonomian Indonesia disebut mesti berbasis pada modernisasi. Sehingga, Pandai menciptakan pengusaha nasional yang kompetitif di tengah perubahan ekonomi Dunia.
Transformasi itu, disebut dapat dicapai melalui pemikiran Soemitro Djojohadikoesoemo, ekonom paling berpengaruh di Indonesia yang kerap disebut sebagai “Soemitronomics”. Pemikiran tersebut Mempunyai relevansi kuat dalam arah pembangunan ekonomi Indonesia modern.
“Esensi Soemitronomics adalah transformasi ekonomi dari berbasis komoditas Penting menuju ekonomi industri modern melalui perencanaan negara, penguatan kapasitas nasional, dan penciptaan pengusaha domestik,” kata calon Ketua Lazim Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong, dalam keterangan tertulis, Minggu, 17 Mei 2026.
Hal itu diungkap Anthony dalam kuliah Lazim Serempak BPD HIPMI Bali, BPC HIPMI se-Bali, HIPMI Perguruan Tinggi (HIPMI PT), pengusaha muda Bali, serta kalangan akademisi, yang digelar di Universitas Udayana, Bali, pada Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut Anthony, Soemitronomics Enggak sekadar berbicara mengenai intervensi negara dalam ekonomi. Melainkan, sebuah paradigma pembangunan yang menempatkan negara sebagai arsitek transformasi struktural ekonomi nasional.
Anthony menjelaskan bahwa pemikiran Soemitro lahir dari kesadaran bahwa negara berkembang Enggak dapat sepenuhnya menyerahkan proses industrialisasi kepada mekanisme pasar bebas. Dalam teori pembangunan ekonomi, pendekatan tersebut dikenal sebagai developmental state atau negara pembangunan, di mana pemerintah Mempunyai peran aktif mengarahkan investasi, melindungi industri strategis, dan membangun fondasi industrialisasi jangka panjang.
Menurutnya, model seperti itu pernah berhasil diterapkan di Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok dalam fase awal industrialisasi mereka.“Pasar Krusial Kepada efisiensi, tetapi sejarah menunjukkan Enggak Terdapat negara industri besar yang tumbuh tanpa peran strategis negara pada fase awal pembangunan industrinya,” katanya.
Anthony menilai Indonesia Ketika ini menghadapi tantangan yang mirip dengan era awal pembangunan pasca-kemerdekaan, yakni ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah, rendahnya produktivitas industri nasional, dan Penguasaan teknologi asing dalam rantai nilai Dunia.
Karena itu, ia menilai hilirisasi sumber daya alam yang Ketika ini dijalankan pemerintah merupakan bentuk modern dari semangat Soemitronomics, yakni upaya menciptakan nilai tambah domestik dan memperkuat basis industri nasional.
Tetapi, Anthony mengingatkan bahwa hilirisasi Enggak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah semata. Menurutnya, Indonesia harus melanjutkan transformasi menuju penguasaan teknologi, riset, dan Penemuan industri.
“Dalam perspektif ekonomi pembangunan modern, nilai tambah terbesar bukan Kembali pada komoditas, tetapi pada teknologi, intellectual property, data, dan Penemuan. Karena itu industrialisasi Indonesia harus naik kelas,” ujarnya.

Calon Ketua Lazim Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong. Dok. Istimewa
Anthony juga menyoroti pentingnya penciptaan national champion atau perusahaan nasional berskala Dunia. Ia menilai Soemitro sejak awal memahami bahwa kedaulatan ekonomi membutuhkan kelas pengusaha nasional yang kuat, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi berbasis modal asing.
Menurutnya, tantangan Indonesia Ketika ini bukan hanya menarik investasi asing, tetapi memastikan transfer teknologi, penguatan industri lokal, dan tumbuhnya perusahaan domestik yang Pandai masuk dalam rantai pasok Dunia.
“Kalau Indonesia hanya menjadi basis produksi tanpa penguasaan teknologi dan kepemilikan industri nasional, maka kita hanya naik secara statistik ekonomi, tetapi belum Akurat-Akurat berdaulat secara ekonomi,” katanya.
Anthony menambahkan bahwa tantangan terbesar Indonesia Ketika ini adalah keluar dari middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah. Menurutnya, sejarah menunjukkan negara yang berhasil keluar dari jebakan tersebut adalah negara yang Pandai melakukan transformasi industri dan penguasaan teknologi secara konsisten.
“Indonesia membutuhkan arah pembangunan jangka panjang yang konsisten. Soemitronomics mengajarkan bahwa pembangunan ekonomi Enggak Dapat hanya mengikuti siklus politik jangka pendek, tetapi membutuhkan visi negara yang berkelanjutan,” ujar Anthony.
