Ini merupakan sinyal yang Jernih bahwa sepak bola Jerman Ingin kembali menjadi dirinya sendiri, Dapat dibilang begitu. Bukan sekadar Bajakan atau peniru gaya, melainkan tim dengan karakternya sendiri. Bukan kebetulan bahwa Nagelsmann berulang kali menyebut “pekerja” dalam konteks ini, Yakni para pemain yang rela berkorban demi kepentingan Berbarengan. Ia menginginkan pemain-pemain yang mungkin kurang cemerlang secara teknis, Tetapi Mempunyai kepribadian yang lebih kuat. Sikap ini sejalan dengan tradisi tim-tim yang dulu dihormati oleh Lineker.
Nagelsmann telah memanggil Robert Andrich dari Bayer Leverkusen, gelandang Brighton Pascal Gross, dan Grischa Promel dari Hoffenheim Buat menjadi ‘pekerja’nya. Waldemar Anton dan Nico Schlotterbeck dari Borussia Dortmund juga termasuk di antaranya, Tetapi keduanya Lagi harus membuktikan diri di timnas Jerman. Joshua Kimmich dan Leon Goretzka, yang merupakan bagian dari skuad reguler, serta Jonathan Tah dari Bayern Munich, telah bergabung dengan Antonio Rudiger dan kapten RB Leipzig David Raum dalam mengambil langkah ini juga.
Definisi “pekerja” menurut Nagelsmann merujuk pada pemain yang menonjol karena kekuatan lari, tekel, dan keandalan taktis. Mereka kurang bertanggung jawab atas momen-momen kreatif dan lebih berfokus pada stabilitas, keamanan, serta menjaga struktur tim. Andrich, Gross, dan Promel mewakili tipe pemain ini karena mereka menutup ruang, mencari Kesempatan Buat melakukan tekel, dan tetap hadir bahkan dalam fase-fase intensitas tinggi.
Duo Dortmund, Anton dan Schlotterbeck, Berbarengan Kekasih bek tengah berpengalaman Tah dan Rudiger, membawa ketangguhan fisik dan kemampuan antisipasi ke lini pertahanan, mewakili keandalan dan keterampilan komunikasi yang kuat. Kimmich dan Goretzka berperan Krusial di lini tengah berkat posisi, lari, dan peran kepemimpinan mereka. Bagi Nagelsmann, para pemain ini merupakan komponen sentral dari tim yang berfungsi, yang lebih Konsentrasi pada kerja kolektif dan ketahanan daripada kecemerlangan individu.
Pada Begitu yang sama, Nagelsmann menyadari bahwa mentalitas terbentuk melalui struktur dan kepemimpinan. Idealnya, hal ini akan menghasilkan stabilitas psikologis di antara para pemain, yang kemudian dapat diubah menjadi keluwesan bermain di lapangan.
“Yang Krusial adalah agar tim lain kembali Memperhatikan kami sebagai negara sepak bola. Secara Biasa, saya Ingin kami naik bus dan berangkat ke pertandingan dengan Seluruh orang berpikir: ‘Tentu saja kami akan menang hari ini, kami adalah Jerman, kami adalah negara sepak bola, kami akan menang,’” Jernih Nagelsmann kepada Blickpunkt Sport lebih dari setahun yang Lewat.
