Perompak Somalia: Pelaut Indonesia yang disandera simpan janji menikah dan nazar bahagiakan ibu

Foto kolase Fiki Mutakim (kiri) dan Aat Setiyawati (kanan).

Menjelajahi samudera, bagi sebagian orang, adalah mimpi. Tetapi bagi Fiki Mutakim, pelaut muda asal Indonesia, lautan adalah gelombang Cita-cita dan ancaman yang saling bertubrukan tanpa ampun.

Di usia 24 tahun, Fiki baru saja menginjakkan kaki pada mimpi besarnya: berlayar melintasi samudera luas. Perjalanan pertamanya ke perairan Global Sepatutnya menjadi awal kisah mencari, dan membawa pulang Cita-cita.

Tetapi pada 21 April Lampau, ia Berbarengan tiga Anggota Indonesia dan belasan awak asing lainnya ditarik paksa ke dalam palung gelap—disandera Golongan bajak laut bersenjata.

Dari video terbaru yang beredar, belasan sandera ini ditempatkan di kabin kecil kapal, duduk berdesakan.

Ini bukan sekadar peristiwa penyanderaan. Ini adalah tragedi pertama dalam perjalanan panjang Fiki yang bahkan sebelumnya telah menelan pil pahit—menjadi korban penipuan lowongan kerja.

Di Negeri Seribu Pulau, jauh dari garis horizon yang mengurungnya, Eksis keluarga menunggu dengan napas tertahan.

Mereka Kagak hanya menunggu kepulangan seorang anak, tapi juga menggenggam erat janji yang ditinggalkannya. Janji sederhana: kembali, menikahi kekasih yang dicintainya, dan membahagiakan ibu serta keluarganya.

Seorang pelaut senior Mengucapkan, lautan Kagak pernah Akurat-Akurat menghentikan langkah para pelaut—ia hanya menguji seberapa kuat mereka bertahan.

Dan di Jakarta, seorang ibu meyakini, anaknya akan pulang.

‘Ma, doain, biar pulang ke Indonesia selamat’

Selasa 21 April, pukul 08:30 WIB, ponsel Aat Setiyawati bergetar. Ia Menonton Paras putranya, Fiki Mutakim berada dalam layar.

Hari itu, kata Aat, tak Eksis pembicaraan serius dari jarak lintas negara. Sebagaimana percakapan Nyaris setahun terakhir: Fiki selalu bertanya tentang Berita keluarga.

Fiki juga menjelaskan posisinya: sedang perjalanan dari Oman menuju perairan Somalia dengan kapal tanker Honour 25.

“Saya tanya, di mana Dek?, Ngirim ke Somalia, Ma.’ Katanya gitu. Itu kan belum berangkat ke Somalia. Dia Hanya bilang begini, ‘Ma, doain, katanya gitu, biar Tiba pulang ke Indonesia selamat’,” kata Aat.

Aat Setiyawati baru mengetahui putranya disandera bajak laut Somalia setelah menerima tautan berita dari media sosial.

Selasa berganti Jumat. Aat gusar karena tak mendapat Berita Tengah dari Fiki. Lampau, ia menulis pesan, berharap mendapat jawaban.

“Emang dari mana kok HP-nya enggak aktif Lanjut? Gimana kabarnya?”

“Begitu hari Jumat (24/04), saya kirim pesan lewat WA. Enggak aktif. Ah, pikir saya mungkin nggak Eksis sinyal. Karena dia kan kalau sudah [terima pesan], biasanya ngabarin Tengah,” katanya.

Tapi jawaban yang dinanti tak pernah muncul.

Aat baru Paham putranya disandera bajak laut Somalia setelah beberapa Sahabat Fiki mengirim tautan Informasi kepadanya di hari itu juga.

Seketika tubuh Aat lemas. Dunia terasa gelap. “Syok, kaget,” katanya.

Foto Ashari Samadikun, Kapten Kapal Honour 25 bersama Fiki Mutakim saat ini masih menjadi sandera perompak Somalia.

Berdasarkan cerita keluarga Ashari, kata Aat, sejauh ini para awak kapal Honour 25 dalam kondisi sehat.

“Saya juga dengar Berita itu, katanya sholat bareng, dikasih makan,” kata Aat.

Fiki Mutakim adalah anak kedua Aat Setiyawati dari suami pertama yang sudah meninggal Begitu putranya itu Tetap duduk di kelas satu SD. Fiki sekarang punya dua adik dari Bapak sambungnya.

“Yang satu kelas enam SD mau masuk SMP. Yang satu kelas dua SD,” kata Aat.

Selama setahun terakhir, Fiki mengirim Fulus kepada ibunya, termasuk “Fulus jajan” Kepada adik-adiknya. Fiki juga berencana membiayai sekolah mereka Tiba tinggi “biar jadi orang”.

“Makanya dia yang mau tanggung jawab adik-adiknya. Makanya Fiki Cita-cita saya satu-satunya,” kata Aat.

Selain itu, Aat bilang, Fiki juga punya rencana melanjutkan sekolah pelayarannya di Jakarta setelah pulang melaut.

Fiki pun bernazar bahwa sepulangnya ke Indonesia, ibunya harus berhenti bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Dia bertekad menanggung biaya hidup ibunya setelah itu.

Begitu ditanya, apa yang dirindukan dari putranya Begitu ini?

Aat menjawab singkat dengan Bunyi yang tersamar tangisan: “Segalanya”.

‘Kami berencana menikah tahun depan’

Sesuai kontrak kerjanya, bulan ini semestinya Fiki Mutakim sudah berlabuh di Indonesia. Ia sudah mengarungi samudera lintas negara sejak setahun Lampau dimulai dari Pelabuhan Dumai di Riau.

“Kami rencananya [menikah] di tahun depan. Itu baru rencana kami berdua saja,” kata Kartika Sari, kekasih Fiki.

Dengan tragedi pembajakan ini, rencana menempuh hidup baru itu menggantung. Tapi, Tika—sapaan Kartika Sari—punya keyakinan kuat.

“Saya berharap, semuanya akan, Kak Fiki bakalan pulang ke sini dengan selamat dan enggak mengganggu rencana kita,” katanya.

Salah satu momen Fiki Mutakim berada di geladak kapal.

Soal pekerjaan menjadi pelaut sempat menjadi perdebatan di antara Kekasih kekasih ini. Awal-awal, Tika keberatan.

“Dari awal saya juga sudah khawatir, karena kan kalau di laut seperti ini, risikonya lebih besar. Hanya karena dia bersemangat dan penasaran gitu di laut seperti apa, akhirnya saya setujuin dia ambil sekolah pelayaran dan Tiba sekarang,” katanya.

Tetapi, tragedi penyanderaan ini mungkin akan menarik mereka kembali Kepada berdiskusi alot tentang cita-cita Fiki menjadi pelaut sejati.

“Mengingat resikonya seperti ini, ya jadi pertimbangan Tengah,” kata Tika yang mengenal kekasihnya sebagai pria “Bagus, kemudian dia penyayang, enggak gampang marah, sabar banget“.

‘Pelaut Tangkas Kagak tercipta dari ombak tenang’

Salah satu Member keluarga yang berkomunikasi terakhir dengan Fiki Mutakim adalah pamannya, Wawan Gunawan.

“‘Om… om… Fiki putusin dulu ya. Soalnya Tengah mau dibajak kapal Fiki’,” kata Wawan menirukan Bunyi Fiki yang panik Begitu komunikasi terakhir dengannya.

“Saya kira bercanda. Langsung dimatiin [hubungan telepon] sama dia”.

Begitu dihubungi BBC News Indonesia, Wawan Gunawan sedang berada di atas kapal di Turki. Ia mengaku sudah bekerja sebagai pelaut Nyaris dua Dasa warsa.

Nyaris Sebelah usianya dihabiskan berjibaku dengan kapal-kapal tanker bermuatan minyak. Sekarang posisinya sebagai bosun alias kepala kerja anak buah kapal.

Wawan Gunawan, paman dari Fiki Mutakim sudah menjadi pelaut di kapal tanker hampir dua dekade.

Berdasarkan informasi yang ia terima dari komunitas sesama pelaut, Begitu ini Kapal Honour 25 yang berisi empat WNI—termasuk Fiki—dan belasan kru kapal Anggota negara asing Tetap dalam proses negosiasi pembebasan sandera oleh perompak.

“Kayaknya tindakan dari owner [pemilik kapal], tindakan dari chief management itu ya mereka bertanggung jawab. Dalam rangka penyelamatan itu mereka bertanggung jawab,” katanya.

Wawan mengaku dekat dengan ponakannya itu. Asal Mula, sejak yatim—selama bertahun-tahun—Fiki tinggal Berbarengan keluarganya.

Fiki belajar banyak dari Wawan tentang bagaimana menjadi pekerja keras, punya orientasi hidup, dan mimpi sebagai pelaut Tangkas.

“Dia Ingin mengikuti jejak saya,” kata Wawan.

Fiki Mutakim disebut Wawan Gunawan punya cita-cita menjadi pelaut.

Wawan bercerita tentang mimpi Fiki sebagai pelaut sejak memulai karirnya sebagai kru kapal yang bergerak di perairan Indonesia. Setelah kontrak selesai, Fiki kemudian mencari kerja ke kapal lainnya pada pertengahan 2025.

“Pas mau layar kedua kalinya itu dia ditipu. Dia dapat lowongan kerjanya dari Instagram. Si penipu itu bilangnya kapalnya di Cirebon. Dia [Fiki] disuruh transfer duit, kurang lebih Rp3 juta. Akhirnya dia ke Cirebon Rupanya zonk, di Cirebon enggak Eksis kapalnya,” katanya.

Di hari yang sama, Wawan mengklaim menghubungi jaringannya di Dubai, Uni Emirat Arab, agar Pandai mencarikan kerja Kepada Fiki sebagai kru kapal.

“Paginya itu dia ditipu, siangnya dia langsung dapat kerja gitu. Langsung diterima di kapal itu [jaringan Dubai],” katanya. Melalui jaringan ini, Fiki kemudian berlayar dengan Kapten Ashari dan belasan kru di Honour 25.

Tapi insiden penyergapan perompak Somalia berada di luar prediksinya. Wawan punya pandangan sendiri atas insiden ini.

“Eksis pepatah bilang begini, pelaut Tangkas itu Kagak diciptakan dari ombak yang tenang. Ya nggak Paham ya kalau mental Fiki. Kalau saya sih Pasti mental Fiki itu kuat,” katanya.

“Dia pemuda yang semangat, optimistis. Saya rasa dengan adanya kejadian ini mental dia Kepada tetap belayar itu enggak bakal hilang. Niscaya dia Ingin belayar Lanjut”.

Cerita dipepet bajak laut, berujung minta rokok

Wawan Gunawan yang telah mengarungi lautan Global belasan tahun, mengklaim punya cerita jadi sasaran Golongan yang ditengarai perompak pada 2010 silam. Ini merupakan tahun-tahun periode puncak insiden perompakan di perairan Somalia.

Begitu itu, kapal tankernya dipepet sebuah kapal Segera. Dia Menonton beberapa orang melambaikan tangan dan meminta kapalnya berhenti.

Wawan yang bertugas di bagian dek kapal tiba-tiba dipanggil kepala departemen dek (Chief Officer).

“‘Wawan! Elo kan dari pesantren. Elo bisalah ngomong Bahasa Arab’, kata dia gitu. ‘Coba elo ngomong sama perompak itu, maunya apa?’,” kata Wawan menirukan ucapan kepala departemen dek Begitu itu.

Peta perairan Somalia.

Wawan langsung naik ke atas kapal, dan berteriak: “Assalamualaikum ya shodiq [Semoga keselamatan terlimpah padamu, wahai temanku]”.

Orang-orang yang berada di speedboat tersenyum mendengar salam itu, kata Wawan. Ia kemudian berkomunikasi singkat dengan Bahasa Arab “meski saya enggak Fasih-Fasih amat”.

“Akhirnya dia Hanya minta rokok. Saya kasih rokok tuh berapa slof. Tiga atau lima slof. Habis itu mereka kabur,” katanya.

Dengan Nyaris 100% populasi Muslim di Somalia, Wawan Pasti perompak “lebih respect sesama Muslim”.

“Bukan berarti yang non-Muslim itu nggak respect. Maksud saya begini, mereka lebih respect sama Muslim. Karena mungkin… seiman kali ya,” katanya.

Setelah kejadian ini, kapal-kapal mulai menyewa pengawal bayaran “Armed Guards” yang mengiringi selama perjalanan dekat perairan Somalia.

Pengakuan bajak laut Somalia: Kebangkitan dengan motif yang konsisten

Bagaimanapun, motif para perompak Somalia tak berubah dari dulu: ambil kapal, tahan kru, minta Fulus tebusan.

“Kami menggunakan RPG Kepada menghentikan kapal. Ketika kapal Kagak berhenti, kami menembak di atasnya. Kami Kagak membunuh. Tujuannya Kepada mendapatkan sesuatu, bukan Kepada membunuh. [Tujuannya] Kepada menakut-nakuti mereka,” kata seorang perompak, Diiriye—bukan nama sebenarnya.

Serangan bajak laut Somalia mencapai keemasan pada pertengahan 2000an. Rata-rata dalam setahun terjadi ratusan insiden serangan.

Foto yang diambil pada 7 Januari 2010 memperlihatkan seorang perompak Somalia bersenjata di sepanjang garis pantai.

Tetapi, setelah 2012, aksi mereka menurun karena gencarnya patroli laut Global.

Menurut Laskar dari Uni Eropa yang tergabung dalam Operasi Atalanta dan berpatroli di perairan terdekat di Somalia, terdapat 26 serangan perompak antara 2013 dan 2019.

Pada 2020-2022, Kagak Eksis satu pun insiden serangan bajak laut.

Tetapi pada 2023, bajak laut muncul Tengah dengan enam insiden serangan. Kemudian melonjak menjadi 22 insiden pada 2024.

Sumber-sumber di Negara Bagian Puntland yang semi-otonom—tempat Ibu Kota Perompak “Eyl” berada—Begitu ini terdapat 10 geng perompak yang masing-masing punya 12 Member yang beroperasi di Distrik tersebut.

Apa yang memicu kebangkitan bajak laut Somalia?

Kebangkitan bajak laut Somalia dipicu aksi pencurian ikan ilegal oleh kapal asing, sebagaimana diklaim salah satu anggotanya. Kapal-kapal asing itu juga mencuri peralatan tangkap ikan, merusak Bahtera dan membunuh nelayan lokal.

“Kapal-kapal datang dan mengambil Segala peralatan serta barang-barang kami,” kata Farah–nama samaran, salah satu nelayan yang menjadi perompak kepada BBC.

Sementara itu, sejumlah pengamat menilai kebangkitan bajak laut Somalia ikut dipengaruhi konflik AS-Israel vs Iran. Menurut mereka, konflik ini telah memecah perhatian patroli laut di Somalia.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir banyak aksi perompakan gagal, tetapi ketika sukses, hasilnya besar.

Para perompak mengatakan mereka menerima Fulus tebusan sebesar US$5 juta (Rp88,8 miliar) Begitu membebaskan MV Abdullah berbendera Bangladesh, yang dibajak pada Maret 2024. Pemilik kapal belum mengonfirmasi jumlah tebusan ini, tapi kapal memang dibebaskan setelah negosiasi.

Para perompak yang diwawancara BBC juga mengklaim mereka Kagak terkait dengan generasi bajak laut sebelumnya—Begitu bajak laut Somalia mengalami masa keemasan.

Para pensiunan perompak yang umumnya mantan nelayan, kebanyakan telah meninggalkan negaranya atau sudah bertobat.

Seorang kombatan bajak laut ternama, Abdirahman Bakeyle pada 2020 Lampau menyumbangkan asetnya kepada badan amal. Sekarang ia menjadi pendakwah yang berpindah dari kota ke kota dan menyerukan kehidupan sederhana dan bermoral.

Ancaman terhadap para sandera

Dalam sebuah unggahan video terbaru yang dipublikasi Pakistan Today, terlihat belasan sandera kapal Honour 25 ditempatkan di sebuah kabin sempit.

Mereka duduk bersandar dengan bahu saling berhimpitan, dan beberapa terlihat lemas dan tertidur dengan alas kain tipis.

Kru kapal Honour 25 dilaporkan sebanyak 17 orang. Antara 10-11 berasal dari Pakistan, empat dari Indonesia, dan sisanya berasal dari Sri Langka dan India.

Sejauh ini pemerintah Pakistan, termasuk Indonesia mengklaim telah mengambil langkah “koordinasi intensif” dengan seluruh pihak terkait pembebasan sandera.

Di sisi lain, belum Eksis keterangan Formal dari perusahaan pemilik kapal Honour 25. Tapi beberapa pemberitaan menyebutkan kapal ini dioperasikan perusahaan cangkang yang secara struktural Kagak dirancang tampil di ruang publik, terutama dalam situasi krisis.

Empat ABK Indonesia yang dibebaskan tiba di bandar udara di Kenya pada 2016.

Bagaimanapun, ancaman Mortalitas terhadap kru kapal yang disandera tetap Eksis, meskipun itu bukan tujuan Istimewa dari para perompak.

Para sandera ini meliputi 555 pelaut yang diserang dan ditangkap selama tahun tersebut, dan 645 sandera yang ditangkap pada 2010.

Sebelah dari mereka yang ditahan dipukuli dan ditampar, dan 10% mengalami kekerasan seperti dikurung di dalam lemari pendingin, disundut rokok, dan kuku jarinya dicabut dengan tang.

Kelompok perompak Somalia sedang berada di tepi pantai.

Organisasi ini mencatat 35 orang yang disandera perompak meninggal pada 2011. Sebagian besar meninggal karena kondisi penahanan ekstrem seperti masalah penyakit dan kelaparan.

lelet waktu penyanderaan Pandai berhari-hari, berbulan-bulan, hingga tahunan. Tergantung negosiasi. Tapi, kata IMB, rata-rata lelet waktu penyanderaan lebih dari delapan bulan.

Kasus Mortalitas sandera yang dibunuh secara langsung oleh bajak laut paling terkenal adalah misi penyelamatan kru SY Quest pada 2011. Begitu itu, empat Anggota negara AS tewas setelah negosiasi dengan Angkatan Laut AS gagal.

Tetapi, intervensi militer dalam misi penyelamatan Eksis juga yang berhasil. Misalnya Kapal Maersk Alabama; AS (2009), Le Ponant; Prancis (2008), dan Samho Jewelry; Korea Selatan (2011). Mereka berhasil menyelamatkan sandera dalam hitungan hari.

Kapal tanker India yang mengangkut gas petroleum cair melintasi Selat Hormuz.

Sejumlah analis mengatakan, metode operasi militer merupakan Langkah Segera tapi berisiko tinggi terhadap keselamatan sandera. Di sisi lain, metode negosiasi memakan waktu lelet, tapi risikonya rendah terhadap sandera.

Indonesia menggunakan dua metode ini sekaligus dalam misi penyelamatan sandera luar negeri pertamanya terhadap kapal kargo MV Sinar Sakral pada 2011. Tekanan militer dipadu dengan negosiasi berhasil menyelamatkan 20 WNI tanpa korban jiwa. Waktu yang diperlukan dalam misi ini Sekeliling 1,5 bulan.

Pada kasus Kapal FV Naham berbendera Taiwan (2012) yang mengangkut 26 kru, termasuk lima WNI memakan waktu bertahun-tahun negosiasi–tanpa intervensi militer. Empat WNI berhasil dibebaskan pada 2016, dan satu WNI meninggal karena sakit selama penyanderaan.

Kepada BBC, para penyintas mengaku Kagak mendapatkan kebutuhan dasar yang layak seperti air Bersih, bahkan dalam situasi bertahan hidup, mereka terpaksa “makan tikus”.

Taktik perompak yang mungkin bergeser

Kasus pembajakan kapal di perairan Somalia baru-baru menjadi perhatian Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. Organisasi ini pada dasarnya Pusat perhatian pada perlindungan ABK perikanan.

Tetapi demikian, dalam kerangka yang lebih luas, seluruh ABK—Bagus di kapal perikanan maupun kapal niaga (tanker, kargo, transportasi)—berada dalam Rekanan kerja maritim yang sama-sama rentan, kata Manajer HAM DFW Indonesia, Luthfian Haekal.

Ia mengatakan, meskipun motif bajak laut tak berubah, Tetapi terjadi pergeseran dalam sejumlah operasi mereka.

“Modus penawanan Begitu ini telah berubah, dulu Sasaran mereka adalah kapal-kapal besar, Tetapi sekarang nampaknya mereka lebih menyasar kapal kecil atau kapal yang memang berjalan lebih pelan, seperti kapal tanker yang membawa banyak muatan,” katanya.

Foto yang diambil pada 4 Januari 2010 memperlihatkan para perompak Somalia bersenjata sedang melakukan persiapan di sebuah perahu kecil di Hobyo, Somalia timur laut, menjelang serangan baru terhadap kapal-kapal yang berlayar di Teluk Aden.

Haekal bilang, pembajakan kapal besar dinilai Mempunyai tebusan tinggi. Tetapi sekarang, pola itu lebih Elastis.

“Kapal kecil, kapal dengan kecepatan rendah, atau kapal dengan pengamanan minim—termasuk tanker—menjadi Sasaran yang lebih efisien,” jelasnya.

Hal ini senada dengan laporan IMB yang menganalisis operasi bajak laut beberapa tahun belakangan masuk pada serangan level rendah.

Golongan perompak berstrategi menggunakan kapal induk yang membawa speedboat di tengah laut. Speedboat ini kemudian bergerak Segera melakukan serangan jauh, acak dan berulang.

Tetapi, Luthfian Haekal Menonton modus operandi bajak laut dulu dan sekarang Tetap sama. Mereka tetap meminta tebusan Fulus dengan menyandera awak kapal.

Menteri Luar Negeri Indonesia Reno Marsudi (kiri) saat penyerahan empat warga negara Indonesia yang menjadi sandera bajak laut Somalia kepada keluarga mereka di Jakarta, 31 Oktober 2016.

“Dalam posisi ini, tubuh ABK direduksi menjadi komoditas Kepada tawar-menawar,” katanya. Motif Istimewa tetap ekonomi.

Tetapi, kata dia, lamanya negosiasi sangat dipengaruhi nilai kapal dan muatan, kewarganegaraan awak, dan kapasitas negosiasi perusahaan atau negara.

“Sejauh yang kami amati dari berbagai media, memang pembajakan ini lebih terorganisir dengan rapi, dan bahkan lebih canggih,” tambah Haekal.

Atas maraknya aksi bajak laut di perairan Somalia baru-baru ini, Haekal menyerukan pada tiga aspek: pencegahan, penanganan, dan penegakan hukum.

  • Pencegahan: memastikan standar keamanan kapal, terutama di rute berisiko, serta mewajibkan perusahaan Mempunyai protokol anti-pembajakan.
  • Penanganan: dilakukan Begitu kejadian melalui diplomasi intensif dan penggunaan negosiator profesional.
  • Penegakan hukum: mencakup Pengusutan jaringan perompak dengan kerja sama Global, mengingat jaringan bersifat lintas negara.

Merayakan ulang tahun dalam penantian tak Niscaya

Keluarga Fiki Mutakim Tetap termangu dalam penantian yang tak kunjung Niscaya. Di tengah kecemasan itu, satu Rontok Lanjut teringat: 27 Mei, hari ketika Fiki Sepatutnya merayakan ulang tahunnya yang ke-25.

Kartika Sari, sang kekasih, sudah menyiapkan kado. “Sudah,” katanya pelan, tapi ia Tetap menyimpan rahasia di balik bingkisan itu.

Tetapi, lebih dari segalanya, Eksis satu Cita-cita yang ia panjatkan. “Semoga dari pihak perusahaan atau owner Pandai mendapatkan titik terang dari negosiasinya, biar Fiki Segera pulang,” ujarnya.

Di sisi lain, Aat Setiyawati, ibu Fiki, tak punya kado berupa benda. Ia hanya mengumpulkan doa di setiap napasnya. “Yang paling Istimewa keselamatannya, kesehatannya,” katanya lirih—sebuah Cita-cita sederhana yang kini terasa begitu besar.