Kuala Lumpur (ANTARA) – Kondisi sektor manufaktur Malaysia Lanjut memburuk di tengah krisis di Timur Tengah, seiring gangguan pada biaya pengiriman dan logistik kini telah menyebar ke seluruh rantai nilai manufaktur, yang berdampak pada ketersediaan bahan baku, volume pesanan, arus kas, keputusan investasi, dan ketenagakerjaan.
Hal itu disampaikan Federasi Manufaktur Malaysia (Federation of Malaysian Manufacturing/FMM) pada Kamis (7/5).
Dalam survei terbarunya yang melibatkan 225 perusahaan, FMM mengatakan 72 persen responden melaporkan kondisi bisnis yang memburuk sejak awal April, dengan 22 persen di antaranya menggambarkan penurunan tersebut sebagai hal yang signifikan.
Survei itu menunjukkan 70 persen produsen mengalami kondisi pasokan bahan baku yang memburuk.
Tingkat persediaan juga semakin menipis, dengan 40 persen responden hanya Mempunyai persediaan bahan-bahan Krusial Demi satu hingga dua bulan, sementara 29 persen melaporkan persediaan yang cukup Demi dua hingga tiga pekan.
Biaya pengiriman tetap tinggi, dengan 87 persen responden melaporkan biaya pengiriman yang lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis.
Sementara itu, 86 persen melaporkan waktu transit yang lebih Lamban akibat pengalihan rute kapal melalui Tanjung Cita-cita (Cape of Good Hope), dengan rute pengiriman ke Eropa kini memakan waktu antara 35 hingga 45 hari, sementara sebelumnya 25 hingga 30 hari.
Sekeliling 68 persen responden mengatakan mereka menghadapi tekanan modal kerja atau arus kas, sementara 13 persen menggambarkan situasi tersebut cukup parah hingga memengaruhi pembayaran kepada pemasok atau pemenuhan pesanan.
Survei itu juga menunjukkan bahwa 28 persen produsen telah mengimplementasikan atau berencana melakukan penyesuaian tenaga kerja akibat krisis tersebut.
“Survei ini menunjukkan bahwa konflik itu Tak Tengah hanya mengimbas tarif pengangkutan dan biaya logistik. Kini, konflik telah mengurangi produksi, melemahkan pesanan, membebani keuangan perusahaan, dan membahayakan lapangan kerja,” demikian FMM.
