Kementerian Luar Negeri China memberikan konfirmasi mengenai adanya serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak yang membawa awak kapal berkewarganegaraan China di kawasan perairan Selat Hormuz pada Jumat (8/5/2026). Insiden yang menimpa kapal Punya China tersebut terjadi di tengah ketegangan antara Amerika Perkumpulan dan Iran di jalur perdagangan Kekuatan Dunia tersebut.
Dilansir dari Detikcom, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, memberikan penjelasan Formal dalam konferensi pers di Beijing. Kapal tanker yang menjadi sasaran serangan tersebut diketahui berbendera Kepulauan Marshall Tetapi berada di Dasar kepemilikan otoritas China.
Lin Jian memastikan keberadaan Anggota negara China di atas kapal tersebut Begitu insiden berlangsung. Meski Enggak merinci total kru secara detail, pihak kementerian menegaskan bahwa Enggak Eksis laporan mengenai jatuhnya korban jiwa di antara para anak buah kapal (ABK).
Laporan dari media lokal China, Caixin, sebelumnya menyebutkan bahwa serangan terhadap kapal pengangkut produk minyak itu terjadi pada Senin (4/5/2026). Dek kapal dilaporkan sempat terbakar dalam kejadian tersebut, di mana pada badan kapal tertulis identitas pemilik dan kru asal China.
Sejumlah sumber keamanan maritim meyakini kapal yang menjadi Sasaran adalah JV Innovation. Kapal ini sempat melaporkan kebakaran di area dek kepada kapal-kapal di sekitarnya Begitu berada di lepas pantai Uni Emirat Arab, tepatnya di kawasan dekat Mina Saqr.
Kepala teknisi kapal tanker tersebut, Liu Haining, menyatakan bahwa penyebab Niscaya serangan tersebut Lagi dalam tahap penyelidikan. Liu sendiri baru saja turun dari kapal satu minggu yang Lampau sebagai bagian dari Mekanisme rotasi awak kapal.
“Pada tahap ini, Enggak Eksis Metode Demi memastikan siapa yang menyerangnya,” kata Liu.
Mantan awak kapal tersebut memberikan analisis mengenai jenis senjata yang kemungkinan mengenai badan kapal tanker itu. Ia menyebutkan bahwa kapal Lagi dalam kondisi operasional setelah terkena hantaman.
“Mungkin bukan rudal — lebih mungkin peluru artileri atau mungkin drone. Lagi belum Jernih,” sebutnya.
Berdasarkan keterangan Liu, Posisi penyerangan tersebut tergolong Enggak terduga bagi para kru. Hingga Begitu ini, belum diketahui apakah insiden ini merupakan tindakan yang disengaja atau sebuah kecelakaan.
“Mereka Enggak menyangka akan diserang karena kapal itu bahkan Enggak bergerak,” ucapnya.
Gangguan keamanan di Selat Hormuz telah berdampak pada distribusi Kekuatan dunia, mengingat jalur tersebut melayani Sekeliling 20 persen pasokan minyak dan gas Dunia. Arus Lampau lintas di perairan vital ini dilaporkan terhenti total sejak dimulainya eskalasi konflik pada akhir Februari Lampau.
