RI dan Filipina jalin kerja sama perkuat rantai pasok mineral kritis

RI dan Filipina jalin kerja sama perkuat rantai pasok mineral kritis

Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia

Jakarta (ANTARA) – Indonesia dan Filipina menjalin kerja sama memperkuat rantai pasok mineral kritis ditandai penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Penandatanganan itu turut disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Serempak Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque dalam Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Kamis.

“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama Lumrah. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangan Formal di Jakarta, Jumat.

Nota Kesepahaman antara APNI dan PNIA mencakup ruang lingkup kerja sama yang bersifat strategis dan berorientasi jangka panjang, meliputi;

Pertukaran informasi dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan Dunia, juga pengembangan Serempak teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari side product (produk sampingan) industri pengolahan.

Selain itu juga Pengembangan sumber daya Mahluk Serempak Demi mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.

Menko Airlangga menjelaskan, Indonesia Begitu ini Mempunyai ekosistem hilirisasi nikel yang masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai 9,73 miliar dolar AS pada 2025.

Proyeksi investasi hingga 47,36 miliar dolar AS dan penyerapan 180.600 tenaga kerja juga ditargetkan tercapai pada 2030. Sejumlah smelter tersebut membutuhkan pasokan bijih yang Kukuh dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) Cocok yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.

“Dengan koridor ini, Filipina Enggak Tengah hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) Demi industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 Demi memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN,” tambah Menko.

Lebih lanjut, Airlangga menekankan bahwa nikel merupakan mineral kritis yang Mempunyai peran sentral dalam transisi Kekuatan.

Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan Kekuatan nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan Kekuatan (energy storage), Bagus Demi baterai kendaraan listrik (EV) maupun baterai Demi penyimpanan Kekuatan panel surya. Dengan demikian, hilirisasi nikel Enggak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran Kekuatan Kudus dan berkelanjutan.

Demi mempercepat hilirisasi, pemerintah juga Lalu mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Spesifik (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK dapat menjadi lokomotif bagi investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, serta pusat Ciptaan teknologi hilirisasi yang berstandar Global.

Adapun berdasarkan United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara Serempak menguasai 73,6 persen produksi nikel Dunia pada 2025.

Indonesia sendiri menyumbang Sekeliling 66,7 persen atau 2,6 juta ton, dan Filipina sebanyak 6,9 persen atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia Mempunyai 44,5 persen cadangan nikel dunia atau sebesar 62 juta ton, sementara Filipina Mempunyai 3,4 persen atau 4,8 juta ton.

Rekanan dagang kedua negara juga semakin erat.

Sepanjang 2025, total nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai 10,22 miliar dolar AS atau setara dengan 8,4 persen dari total nilai impor Filipina, menjadikan Indonesia sebagai Kawan dagang terbesar ketiga bagi Filipina setelah China dan Jepang.

Secara keseluruhan, Filipina merupakan Kawan dagang strategis yang krusial bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara, terutama Demi komoditas Kekuatan dan produk otomotif.

“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama Lumrah. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujarnya.