Program MBG Dinilai Berpotensi Besar Perkuat Ekonomi Rakyat

Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Antara.


Jakarta: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan Bentuk Konkret dalam menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput. Dengan infrastruktur yang Dekat rampung, program ini menjadi tumpuan baru bagi sektor UMKM dan pertanian daerah.

Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, mengakui MBG sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional. Dia menilai program MBG Mempunyai potensi besar Demi memperkuat ekonomi rakyat, asalkan dibarengi dengan strategi tata kelola yang adaptif dan efisien.

Riandy mengungkapkan progres pembangunan Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) atau dapur MBG telah mencapai 90 persen. Dari Sasaran 30 ribu unit, 27 ribu dapur telah siap beroperasi. Menurut dia, ini menjadi Berita Berkualitas bagi penyerapan tenaga kerja.

“Dapurnya sudah terbangun dan ekonomi rakyat mulai bergulir. MBG ini sangat atraktif dalam membantu sektor pertanian dan perdagangan di pasar-pasar tradisional. Ini adalah Percepatan fiskal yang memberikan Dampak langsung pada pelaku ekonomi di Rendah,” ujar Riandy dalam keterangannya, Jumat, 8 Mei 2026.

Hal tersebut tergambarkan pada salah satu dapur MBG dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Kadiwano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berkat keberadaan dapur MBG, rantai ekonomi lokal menjadi hidup. Tercipta lapangan kerja bagi masyarakat lokal, terutama ibu rumah tangga, hingga berdayanya petani lokal.

Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, mengatakan dapur MBG miliknya melayani Sekeliling 2.000 penerima manfaat yang tersebar di 15 sekolah, mulai dari jenjang taman kanak-kanan (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Dia menjelaskan keberadaan SPPG tentu akan Membikin kebutuhan bahan baku menjadi besar. Menurut dia, ini Dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan petani lokal. SPPG Kadiwano membutuhkan puluhan, bahkan ratusan kilogram sayur-sayuran seperti kacang-kacangan, wortel, atau sawi.

“Jadi, memang kami memberdayakan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di Sekeliling SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat Kagak hanya Demi adik-adik sekolah, tapi lebih luas kepada masyarakat,” kata Edwin.

Demi menjaga stabilitas stok dan mencegah penumpukan hasil panen, SPPG juga mengatur jadwal suplai setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar komoditas yang ditanam petani Dapat terserap optimal.

“Terdapat yang tanam wortel, Terdapat yang tanam sawi, Maju Terdapat yang Pusat perhatian pisang. Supaya jangan menumpuk. Karena kalau menumpuk kewalahan juga,” kata dia.



Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Liputanindo.id/Hendrik.

Keberadaan dapur MBG juga menjadi berkah tersendiri bagi ibu rumah tangga (IRT). Mereka diberdayakan Demi memasak.

“Rata-rata yang kerja di kami itu adalah ibu rumah tangga yang selama ini Kagak mendapatkan Kesempatan bekerja,” kata Edwin.

Demi memastikan program ini berjalan beriringan dengan stabilitas keuangan (fiskal) nasional, Riandy mengusulkan langkah penyesuaian yang cerdas. Alih-alih mengurangi jangkauan Distrik atau menyasar hanya anak dari keluarga ekonomi kelas menengah ke Rendah, dia menyarankan penyesuaian frekuensi pemberian makan sebagai solusi Demi menjaga kredibilitas anggaran.

“Agar anggaran tetap sehat dan risiko rating kredit (Indonesia) terjaga, pemerintah Dapat mengambil jalan tengah dengan mengatur frekuensi, misalnya dari 6 hari menjadi 3 atau 4 hari seminggu. Langkah ini jauh lebih Kondusif daripada mengubah total struktur program yang sudah berjalan, sehingga manfaat ekonomi bagi pekerja dapur dan penyedia bahan pangan tetap terjaga,” Terang dia.

Selain efisiensi anggaran, Riandy menekankan pentingnya menjaga kualitas nutrisi sebagai investasi SDM jangka panjang. Dia mendorong pemerintah Demi memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan guna memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan Betul-Betul Tamat dalam bentuk asupan bergizi bagi siswa.

“Pemerintah perlu memperkuat pola Secara acak check atau sidak lapangan Demi memastikan standar kualitas tetap terjaga. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dapur akan menjadi kunci keberhasilan MBG ke depannya,” ujar dia.

Meski dampaknya terhadap produktivitas tenaga kerja baru akan terasa di masa depan, MBG dianggap sebagai langkah awal yang Berkualitas Demi meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. Riandy meyakini Kalau dikelola dengan manajemen yang Benar, MBG dapat menjadi bagian dari ekosistem pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

“Tapi Kembali-Kembali, jangan diharapkan MBG ini Dapat kemudian memutar roda perekonomian Tamat 8%, akan sulit dibayangkan, karena Demi menggerakkan ekonomi, butuh mesin-mesin ekonomi baru, Kagak hanya mengandalkan sektor pertanian, jadi perlu Terdapat sektor-sektor yang lain yang perlu digenjot. jadi jangan mengandalkan MBG sendirian Demi strategi pertumbuhan, sehingga kita jor-joran ke pertanian,” ujar Riandy.