Seorang prajurit Israel yang memukul patung Yesus dengan godam di Lebanon akan menerima hukuman 30 hari penahanan militer, kata Laskar Pertahanan Israel (IDF). Hukuman yang sama dijatuhkan kepada prajurit yang memotret insiden tersebut.
IDF menyatakan bahwa kedua prajurit tersebut—yang identitasnya Bukan disebutkan—akan “dicabut dari tugas tempur” menyusul hasil penyelidikan.
Enam tentara lainnya yang berada di Posisi kejadian dan gagal melakukan intervensi atau melaporkan peristiwa tersebut akan ditangani secara terpisah, tambah IDF.
Dalam pernyataannya pada Selasa (21/04), IDF mengatakan bahwa penyelidikan atas insiden itu telah “menentukan bahwa perilaku para tentara tersebut sepenuhnya menyimpang dari perintah dan nilai-nilai IDF” serta menyampaikan “penyesalan mendalam atas insiden tersebut”.
IDF juga menyebutkan bahwa pasukannya telah mengganti patung yang rusak tersebut “dalam koordinasi penuh dengan komunitas setempat” beberapa waktu Lampau.
IDF menegaskan bahwa operasinya di Lebanon diarahkan “semata-mata” terhadap Grup Hizbullah yang didukung Iran “serta Grup-Grup teroris lainnya, dan bukan terhadap Penduduk sipil Lebanon”.
Foto yang memperlihatkan seorang prajurit Israel memukul patung Yesus dengan godam di Lebanon selatan telah memicu kecaman luas di dunia maya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan dirinya “terkejut dan sedih” atas apa yang terjadi.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengatakan: “Kami meminta Ampun atas insiden ini dan kepada setiap umat Kristen yang perasaannya terluka.”
Penduduk setempat mengatakan patung itu berada pada sebuah salib di luar rumah sebuah keluarga di pinggiran Debel, salah satu dari sedikit desa yang penduduknya Lagi bertahan selama Israel memerangi Hizbullah.
Bukan insiden pertama
Kepala jemaat Debel, Pastor Fadi Flaifel, mengatakan kepada BBC: “Kami sepenuhnya menolak penodaan terhadap salib, simbol Bersih kami, dan Segala simbol keagamaan.”
“Ini bertentangan dengan deklarasi hak asasi Mahluk, dan Bukan mencerminkan peradaban,” lanjut Pastor Fadi Flaifel.
Dia mengklaim tindakan serupa pernah terjadi sebelumnya.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa gambar yang beredar di media sosial itu Asal, dan mengatakan pihaknya Menyantap insiden tersebut “dengan sangat serius dan menekankan bahwa perilaku prajurit tersebut sepenuhnya Bukan sejalan dengan nilai-nilai yang diharapkan dari pasukannya”.
“Langkah-langkah yang Benar” akan diambil terhadap pihak-pihak yang terlibat, tambah militer Israel (IDF), seraya mengatakan mereka bekerja sama dengan komunitas Kristen Demi “mengembalikan patung tersebut ke tempatnya”.
Ribuan tentara Israel Lalu menduduki Daerah di Lebanon selatan setelah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada Jumat (17/04).
Gencatan senjata itu menghentikan enam pekan pertempuran antara Israel dan Grup Hizbullah. Kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Kecaman dari umat Kristen di AS
Info tentang serangan terhadap patung Yesus di Lebanon mendorong Duta Besar AS Demi Israel, Mike Huckabee—yang merupakan seorang pendeta Kristen Protestan—menulis di X bahwa “konsekuensi yang Segera, berat, dan terbuka diperlukan”.
Para komentator sayap kanan di AS dengan Segera mengecam foto prajurit Israel dan patung Yesus tersebut.
“Mengerikan,” tulis Matt Gaetz, mantan penasihat Presiden Donald Trump dan mantan Member Kongres, ketika ia mengunggah ulang foto itu.
Mantan Member Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, juga membagikan foto tersebut dan menulis: “‘Sekutu terbesar kami’ yang setiap tahun menerima miliaran dolar pajak dan senjata kami.”
Komentar-komentar itu sejalan dengan Telaah pendapat yang menunjukkan penurunan dukungan terhadap Israel di AS. Sebuah survei baru-baru ini oleh lembaga kajian Pew Research Center yang berbasis di AS, menyebutkan 60% orang dewasa AS Mempunyai pandangan negatif terhadap Israel, naik dari 53% tahun Lampau.
Pandangan tersebut menguat akibat sejumlah insiden yang dilakukan Israel.
Bulan Lampau, kepolisian Israel mencegah pemimpin tertinggi Katolik Roma di Yerusalem memasuki Gereja Makam Sakral Demi mengadakan misa pada Minggu Palma. Kepolisian Israel mengatakan hal ini dilakukan karena kekhawatiran keselamatan selama perang dengan Iran.
Huckabee menyebut insiden tersebut sebagai “tindakan kelewatan yang disayangkan dan menimbulkan Akibat besar di seluruh dunia”.
Tindakan Restriksi Israel dan Pelarangan terhadap para pemuka Keyakinan Kristen Demi masuk ke gereja, menurutnya, “sulit Demi dipahami atau dibenarkan”.
‘Permusuhan terbuka’
Laporan tahun 2025 oleh Rossing Center, sebuah organisasi berbasis di Yerusalem yang bertujuan mendorong Rekanan lintas Keyakinan di Tanah Bersih, menyebut adanya “lonjakan dalam permusuhan terbuka terhadap Kekristenan”, yang dikaitkan dengan “pendalaman polarisasi dan tren politik ultra-nasionalis yang berkelanjutan”.
Tetapi, penilaian itu ditepis oleh pejabat Israel.
PM Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa “populasi Kristen di Israel berkembang Bukan seperti di tempat lain di Timur Tengah”.
Ia melanjutkan: “Israel adalah satu-satunya negara di kawasan di mana populasi Kristen dan standar hidupnya meningkat. Israel adalah satu-satunya tempat di Timur Tengah yang menjunjung kebebasan beribadah bagi Segala.”
Israel memulai operasi militer pada 2 Maret. Negara itu menuding Hizbullah memulai konfrontasi dengan menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran setelah Israel dan AS melancarkan perang terhadap Teheran pada akhir Februari.
Operasi militer Israel di Lebanaon menyebabkan lebih dari satu juta Penduduk Lebanon mengungsi dan lebih dari 2.290 orang tewas, termasuk 177 anak-anak dan 100 tenaga kesehatan, menurut otoritas Lebanon.
Sebanyak 13 tentara Israel dan dua Penduduk sipil tewas akibat serangan Hizbullah pada periode yang sama, menurut pejabat Israel.
