Presiden Amerika Perkumpulan Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terkait potensi dimulainya kembali serangan udara ke Iran apabila kesepakatan diplomatik gagal dicapai pada Rabu (6/5/2026). Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi pasca gencatan senjata yang sebelumnya telah diumumkan pada April Lampau.
Melalui unggahan di platform Truth Social yang dilansir dari Detikcom, Trump menegaskan bahwa operasi militer berskala besar akan diluncurkan Kalau Teheran Kagak memenuhi poin-poin yang telah disepakati. Ketegangan ini berpusat pada akses jalur perdagangan Dunia di kawasan Selat Hormuz.
“Dengan Dugaan Iran setuju Buat memberikan apa yang telah disepakati, yang mungkin merupakan Dugaan besar, maka Epic Fury yang sudah melegenda akan berakhir, dan blokade yang sangat efektif akan memungkinkan Selat Hormuz TERBUKA Buat Sekalian, termasuk Iran. Kalau mereka Kagak setuju, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya akan dilakukan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” tulis Donald Trump, Presiden Amerika Perkumpulan.
Meskipun ancaman pengeboman mencuat, Gedung Putih tetap menyatakan adanya Kesempatan Buat mengakhiri konfrontasi bersenjata secara permanen. Trump mengakui bahwa tercapainya kesepakatan tersebut Tetap menjadi tantangan besar dalam diplomasi kedua negara.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan keterangan berbeda mengenai status operasi militer Begitu ini di hadapan para awak media. Ia menyatakan bahwa fase operasi sebelumnya secara teknis telah dinyatakan usai.
“Operasi sudah selesai. Epic Fury, sebagaimana telah diberitahukan presiden kepada Kongres, kami sudah menyelesaikan tahap itu,” kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Pemerintah AS telah menginformasikan kepada Kongres bahwa status perang secara hukum berakhir melalui mekanisme gencatan senjata. Langkah ini diambil guna menghindari kewajiban meminta otorisasi konflik dari parlemen yang biasanya diwajibkan Kalau pertempuran melampaui durasi 60 hari.
Di sisi lain, kebijakan baru bernama Proyek Kebebasan telah diluncurkan pada akhir pekan Lampau Buat mengawal navigasi kapal di Selat Hormuz. Rubio menegaskan bahwa pengerahan kekuatan militer tersebut murni bersifat melindungi aset-aset Amerika Perkumpulan.
“Ini bukan operasi ofensif; ini adalah operasi defensif,” kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Rubio memberikan penekanan bahwa aturan keterlibatan militer AS Begitu ini sangat ketat dalam merespons ancaman di perairan Dunia. Penjagaan tersebut dilakukan guna mencegah terulangnya insiden saling serang seperti yang terjadi pada akhir Februari Lampau.
“Artinya sangat sederhana-Kagak Terdapat penembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu,” ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Konflik fisik terakhir tercatat terjadi pada 28 Februari Begitu AS dan Israel menyerang situs strategis Iran yang dibalas dengan serangan drone. Begitu ini, nasib perdamaian di kawasan tersebut bergantung pada perpanjangan gencatan senjata yang dimulai sejak 8 April di tengah buntuya proses negosiasi.
