Pada periode 1970 hingga 1980, ribuan anak Indonesia diadopsi ke Belanda. Tak sedikit adopsi itu ditempuh dengan Metode-Metode melawan hukum. Sebagian dari mereka kini berusaha Kepada mendapatkan kewarganegaraan Indonesia.
Nama yang tertulis di akta kelahirannya adalah Scipio Jean Luc.
Empat Dasa warsa berselang, dia mengubahnya menjadi Indra Jaya Laksana.
Berkas kependudukan mencatat secara Formal bahwa Indra merupakan Penduduk negara Belanda. Tetapi, dia Tak merasa demikian.
Tak lelet selepas lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 1982, Indra dibawa ke Belanda dalam rangka adopsi. Dia Tak pernah Mengerti Persona orangtua aslinya.
“Yang sebenarnya terjadi adalah identitas saya dihapus seluruhnya,” ungkapnya kepada BBC News Indonesia, awal April 2026.
“Mereka memutus Seluruh Rekanan dengan keluarga Asal saya.”
Seiring bertambahnya usia membikin Indra menyadari betapa yang dialaminya dulu kala balita bukan adopsi, melainkan penculikan.
Kini, Indra berupaya meraih kembali apa yang telah dihilangkan darinya, yang dia anggap Sebaiknya melekat kepadanya: status Penduduk Indonesia.
Jalannya berliku, dan Indra Tak sendirian.
Bandung, 1982
Pertama kali Info itu tiba di kedua telinga Indra ialah ketika umurnya Lagi 10 tahun.
Bapak angkatnya, seorang Belanda bernama Armene Manuel Oudkerk Pool, memberitahu bahwa Indra bukan anak kandungnya. Orangtuanya yang Asal berada di negara yang berjarak belasan ribu kilometer dari Belanda: Indonesia.
Begitu Indra memperoleh informasi tersebut, dunia kecilnya yang senantiasa dibayangkan mendekati ideal seketika lenyap tanpa jejak.
Bangunan yang dia lihat dipenuhi kehangatan Malah berisikan tumpukan kebohongan yang ditutupi kain gelap.
Indra tak pernah paham apa Argumen Bapak angkatnya mengeluarkan pengakuan itu. Yang Indra ingat, Ketika Bapak angkatnya menyelesaikan kalimat, dia amat terkejut serta tak Bisa bereaksi yang lain.
“Saya kemudian mengunci diri di dalam Bilik. Saya merasa sangat takut karena apa yang selama ini saya rasakan Rupanya Pas,” kenang Indra.
Di Belanda, Indra tinggal Berbarengan Bapak angkatnya. Dalam banyak kesempatan, ibu Bapak angkatnya turut pula mengasuhnya. Di mata Indra, mereka orangtuanya. Indra memanggilnya dengan ‘Bapak’ dan ‘ibu.’
Ikatan yang terjalin antara mereka, sebut Indra, Tak berjalan alamiah sebagaimana Rekanan orangtua serta anak pada umumnya. Indra telah merasakannya, tapi tak Bisa mendeskripsikannya secara rinci. Dalam benak Indra, sosok yang kerap dijumpai di Belanda, yang mengisi hari-harinya, bukanlah Bapak maupun ibunya yang sebenarnya.
Indra menyimpan rapat-rapat pikirannya. Dia berusaha melanjutkan masa kecilnya Tiba akhirnya Informasi serupa ombak besar datang sekaligus menggulungnya.
Pengakuan Bapak angkatnya menghadirkan Mega pekat yang mengikuti Indra ke manapun dia melangkah. Di luar, Indra sering kali murung dan bergumul dengan bermacam kecemasan, kekecewaan, hingga—yang paling menonjol—kemarahan.
“Seluruh orang seperti Mengerti bahwa saya adalah anak adopsi, sementara saya sendiri Tak. Lampau, siapa yang Dapat saya percaya?” tanya Indra.
“Saya mulai berpikir siapa sebetulnya orang-orang ini? Dan, siapa saya sesungguhnya?”
Indra tak dapat menepis segala yang muncul di kepalanya. Persepsi publik Belanda terhadap anak adopsi amat negatif, Indra berpendapat.
Mereka yang diadopsi tak jarang diartikan “anak kotor” yang orangtuanya “Tak menginginkan mereka.” Indra khawatir dirinya bakal bernasib sama.
Di tengah pergulatan itu, Bapak angkatnya mengajaknya pergi berlibur ke Indonesia, tepatnya di Medan, Sumatra Utara, pertengahan 1990.
Awalnya, tatkala menginjakkan kaki di Medan, Indra Tak betah. Apa yang dijumpainya jauh berbeda dengan di situasi di Belanda. Seminggu setelahnya, Indra mulai menikmati.
Kedatangan di Indonesia membikinnya menyaksikan langsung tempat kelahirannya. Dia Bersua anak-anak sebayanya dan percaya bahwa “di sinilah semestinya saya berada,” Indra menekankan.
Sayang, ketidaksamaan secara kultural, dari bahasa Tiba gaya berpakaian, membuatnya terhalang berinteraksi dengan anak-anak Indonesia yang dia temui.
“Saya Tak Dapat bermain Berbarengan mereka. Saya terlihat berbeda. Dari situ, saya berpikir, saya Tak mau memakai baju-baju ‘Barat’ Kembali,” cerita Indra.
“Saya Mau memakai sandal, dan bukan sepatu seperti yang saya Guna selama di Belanda,” tambahnya seraya tertawa.
Momen di Indonesia tak ubahnya obat atas luka yang Indra hadapi. Kendati demikian, luka itu menyeruak Kepada kedua kali Ketika dia harus pulang ke Belanda.
Hari-hari usai berkunjung ke Indonesia bergulir seperti realita di penjara, Indra mengibaratkan. Dia Mau terbang ke Indonesia, tapi Tak tercapai. Sementara di lain sisi, kekecewaannya menjelma rentetan pertanyaan yang dia lontarkan ke Bapak angkatnya.
Kenapa Anda bawa Saya Belanda?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah melahirkan jawaban, dibiarkan menggantung tanpa kepastian.
Rekanan dengan Bapak angkatnya perlahan merenggang, serta kemudian memburuk. Keduanya kerap terlibat pertengkaran yang memaksanya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Memasuki remaja, Indra limbung. Dengan bagasi masa Lampau yang penuh kepahitan, Indra sempoyongan mengarahkan hidupnya.
“Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Anda, sebagai anak yang Lagi sangat muda, merespons itu Seluruh? Itu hal yang sangat sulit,” paparnya.
“Karena sebagai anak yang belum dewasa, Anda Tak punya Donasi atau Metode Kepada menghadapi kejadian-kejadian itu.”
Kegamangan yang dialami Indra, pada waktu bersamaan, mendorong keluarnya bayangan akan figur ibu kandungnya. Indra memendam amarah Alasan ibunya dinilai menelantarkannya dengan memberikan hak asuh kepada orang Belanda.
Mengapa dia tak pernah mengirimiku surat?
Perjalanan Indra guna mencari jawaban ihwal latar belakangnya ditempuh dengan cukup panjang. Bertahun-tahun kemudian, perbincangan mengenai asal-usul Indra cenderung mengendap dalam sunyi.
Pada 2019, Bapak angkatnya meninggal dunia. Sebelum pergi selamanya, Bapak angkatnya Berbicara kepada Indra terdapat beberapa Berkas adopsi yang disimpan di rumah. Indra mencarinya. Di titik ini, niat Indra Kepada menemukan ibu kandungnya muncul permukaan.
Di sudut-sudut ruangan yang hampa, bukan karena Kematian sang Bapak angkat melainkan imajinasi yang Ringkih atas entitas keluarga, tangan Indra bergerak menelusuri eksistensi Berkas yang dimaksud. Dia membongkar kardus demi kardus yang tergeletak. Hatinya berdebar menanti apa yang dia gapai setelahnya.
Di salah satu boks, jemari Indra menyentuh sebuah amplop berwarna putih yang tergerus Era, yang lantas membuatnya menjadi sedikit kecoklatan akibat lembap. Dia membuka amplopnya dan satu foto terjatuh ke Alas.
Indra mengambilnya. Matanya menatap Persona Perempuan yang sebelumnya Sekadar Dapat dia terka dalam samar. Raut rupanya begitu Jernih serta memancarkan terang. Kepada kali pertama, Indra mengetahui sosok ibu yang melahirkannya.
Peristiwa tersebut sempat membikin Indra gundah perihal rencananya. Dia berpikir Kepada mengurungkan komitmen menemui ibunya secara langsung. Dia tak siap andaikata perjumpaan dengan sang ibu Malah meneteskan perih kepada luka batinnya yang Lagi belum kering seluruhnya.
Di antara kebimbangan yang perlahan menyusup, seorang Rekan memberinya Info: dia hendak pergi ke Indonesia. Indra diajak.
Rekan Indra, yang mengikuti kisah hidupnya, menjamin kalau dia bersedia menemani dalam mencari jejak keluarga aslinya. Dia mempunyai kenalan di Indonesia yang sangat mungkin Dapat membantu.
Setelah menimbang, Indra, pada 2023, memutuskan bergabung dengan kawannya ke Indonesia. Di sana, Indra menuju Bandung, yang disebut dalam akta pencatatan sipil sebagai tempat kelahirannya.
Perjalanan Indra Tak sia-sia. Indra menemukan klinik tempat dia dilahirkan. Dia juga Dapat bersua keluarga besar sang ibu, termasuk Keluarga-saudaranya.
Dalam momen itu, Indra teringat pernyataan Bapak angkatnya. Ketika Indra bertanya di mana tepatnya dia berasal, Bapak angkatnya menjawab dengan penuh kebohongan; bahwa tempat Kelahiran Indra sudah Tak Kembali Terdapat.
Di luar perayaan kecil yang Indra nantikan kedatangannya, terdapat satu hal yang Tak terealisasi.
“Rupanya ibu kandung saya sudah meninggal. Saya terlambat,” ucapnya lirih.
Selama dua bulan Indra menetap di Indonesia. Dia berjumpa orang-orang baru serta belajar sekaligus beradaptasi dengan lingkungan yang dia anggap sebenar-benarnya rumah. Indra nyaman berdiri dan membaur Berbarengan mereka.
Berdasarkan Berkas Formal bertajuk “Surat Penyerahan Bayi” tertanggal Juli 1982, dijelaskan ibu Indra, Rohani, berstatus janda sejak 1974.
Berkas menulis bahwa Rohani Bersua dan berkenalan dengan Armene Manuel Oudkerk Pool Sekeliling akhir 1981. Keduanya dikatakan menjalin Rekanan tapi tak menikah. Dari Rekanan itu, Indra lahir.
Berkas tersebut terpacak Formal serta diakui negara. Di atas kertas, Seluruh tampak dilindungi hukum.
Tetapi, di balik itu, Indra mengetahui bahwa yang terjadi di depan muka belum tentu menyajikan gambaran yang utuh.
Indra belakangan memperoleh informasi dari keluarga besar ibunya kalau tali Rekanan antara ibunya dan Armene Tak pernah berlangsung.
Dengan demikian, isi Berkas adopsi yang Membangun Armene dapat memboyong Indra ke Belanda sejatinya fiktif.
Proses adopsi dirinya, menurut Indra, melibatkan pihak ketiga yang berperan sebagai perantara.
Perantara ini, imbuh Indra, menetapkan tarif kepada Armene Kepada mengadopsi anak Indonesia. Dia pula yang mengurus Seluruh keperluan administratif di Indonesia agar terlihat sesuai dengan Mekanisme.
Berangkat dari situ, Indra tak pernah menganggap dirinya diadopsi; dia korban perdagangan bayi yang dicabut dari akar kehidupannya.
“Masalahnya ialah mereka ‘membeli’ kami ketika kami Lagi anak-anak. Kami menjadi semacam properti, bahkan properti yang Formal,” tutur Indra.
“Dan properti itu diberi nama, diberi identitas baru.”
Mengapa Armene datang ke Indonesia sebelum Indra lahir?
Armene, menurut Indra, punya keterkaitan terhadap Indonesia. Bapak Armene, seorang tentara KNIL, pernah tinggal di Bandung Tiba setidaknya pascakemerdekaan. Setibanya di Belanda, dia sulit mengikis kedekatannya dengan Indonesia. Kisah mengenai Indonesia senantiasa diulang kepada Armene.
Mengurus dan membesarkan anak Indonesia Lampau dibaca oleh keluarga Armene sebagai upaya memperpanjang keterhubungan emosional dengan negara bekas jajahan.
Seusai melahirkan Indra, Rohani menyerahkan hak asuhnya kepada Armene, dipicu Elemen keterbatasan ekonomi. Armene sendiri, merujuk Berkas yang sama, ditetapkan menjadi “Bapak kandung” bagi Indra.
Rohani mengambil pilihan itu dengan sadar dan percaya Armene Bisa mengurus Indra secara Bagus tanpa suatu kurang apa pun. Rohani juga menyatakan Tak bakal menuntut Armene, sehubungan adopsi, di masa mendatang.
Indra bertekad lepas dari lingkaran yang selama puluhan tahun menjeratnya dengan bermacam ketidakpastian. Satu Metode yang dapat membantunya membebaskan diri ialah menjadi Penduduk Indonesia.
“Saya Mau mengambil kembali status WNI (Penduduk Negara Indonesia) saya karena itu diambil tanpa persetujuan saya,” tegasnya.
‘Darah kami darah Indonesia’
Ana Maria van Valen berpisah dengan keluarga aslinya Ketika berusia Nyaris tiga tahun. Dia diadopsi oleh keluarga di Belanda yang menginginkan kehadiran anak Perempuan. Ketika Ana diangkat, keluarga tersebut telah Mempunyai tiga orang putra.
Selama di Belanda, sulit bagi Ana Kepada menyebut dirinya adalah Penduduk negara Belanda. Dia selalu merasa sebagai orang Indonesia, dan hal itu dilontarkannya kepada orangtua yang mengadopsinya.
Pada umur 12 tahun, Ana mengutarakan rencananya Kepada Bersua dengan orangtua kandungnya. Ibu angkatnya menyetujui permintaan Ana serta bakal mengizinkannya pergi kalau sudah ditetapkan masuk kategori dewasa—18 tahun.
Enam tahun kemudian, ibu angkatnya menepati janji. Ana diperbolehkan terbang ke Indonesia. Berkas adopsi menunjukkan Ana lahir di desa yang berlokasi di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.
Perjalanan menuju ke sana memerlukan waktu dua jam dari pusat kota. Setibanya di tujuan, rombongan Ana mendatangi kantor kepala desa. Ana bertanya kepadanya apakah mengenal ibunya. Kepala desa mengiyakan dan Ana diarahkan ke alamat bersangkutan.
Yang terjadi berikutnya “seperti rollercoaster,” ucap Ana. Dia berjumpa dengan ibunya. Tanpa banyak menduga-duga, Ana seketika menegaskan bahwa sosok di hadapannya merupakan ibu kandungnya.
“Dia begitu mirip denganku, dan Saya berpikir Tak perlu Kembali tes DNA,” kenangnya kala dihubungi BBC News Indonesia.
“Saya Dapat Menyaksikan bahwa dia adalah ibuku.”
Tak berhenti di situ, Ana Bersua Bapak biologisnya, juga Keluarga-saudaranya yang lain. Selepas belasan tahun menyimpan pergulatan batin mengenai masa lalunya, Ana Bisa Senang. Segala pertanyaan yang membayanginya telah terjawab.
Pertemuan dengan keluarga aslinya kemudian berandil dalam membulatkan tekadnya Kepada menetap di Indonesia. Usai momen tersebut, Ana membangun hidup di Indonesia. Sekarang, dia sudah tinggal di Indonesia sepanjang lebih dari 10 tahun.
Orangtua yang mengadopsinya di Belanda, awalnya, Tak sepakat dengan pilihan Ana. Ibu angkatnya takut kehilangan Ana. Ana Lampau memberikan pengertian supaya sang ibu tak menghalanginya lantaran Ana berhak memutuskan apa pun yang berkorelasi atas perjalanan hidupnya.
Di Indonesia, Ana mendapati tantangan berupa masa penyesuaian diri yang diakuinya Tak mudah ditempuh. Dia mesti memulai segalanya dari Nihil Alasan terpisah dengan Indonesia dalam kurun waktu yang Tak sebentar. Ana kehilangan fondasi yang cukup signifikan mencakup keluarga, budaya, hingga Religi.
Secara bersamaan, Ana membuka pintu kepada mereka yang bernasib sama dengannya. Dia membantu anak-anak yang dulunya diangkut ke Belanda Kepada menelusuri keluarga kandungnya di Indonesia.
“Kami tiba di Belanda dan mendapati keadaan bahwa mereka adalah orangtua, keluarga, kami. Kami Tak punya pilihan selain menerima hal tersebut,” tandasnya.
Keterlibatan dengan para penyintas membikin Ana memperoleh cerita pilu yang kurang lebih seragam: tentang anak-anak yang sengaja dipisahkan dari orangtua aslinya di Rendah payung adopsi. Tak sedikit yang mengalami trauma begitu Mengerti mereka bukan keturunan langsung dari keluarganya di Belanda.
Beberapa kasus memperlihatkan anak-anak hasil adopsi tak mau mencari keberadaan keluarga kandungnya karena narasi Tak baik yang disebarkan orangtua angkat mereka; bahwa Bapak atau ibunya berperilaku negatif. Pendek kata, mereka—orangtua aslinya—bukan panutan.
Ana berpendapat kasus perdagangan bayi Indonesia ke Belanda dengan Penyamaran adopsi adalah situasi yang rumit serta ditentukan bermacam Elemen yang saling mendukung satu sama lain.
Di Belanda, Anna menerangkan, permintaan (demand) Kepada pengasuhan anak dari luar negeri amat tinggi yang lantas disambut sebagai Kesempatan bisnis oleh perantara di Indonesia maupun Belanda itu sendiri. Keduanya membentuk pasar (market) yang menguntungkan serta manipulatif.
Teladan yang terdekat terjadi pada Ana. Ibu angkatnya berkisah proses membawa Ana ke Belanda bermula dari kantor adopsi. Sang ibu mengatakan hendak mengadopsi anak Perempuan yang umurnya di atas satu tahun. Permintaan ibu angkatnya Lampau diteruskan ke jaringan di Indonesia.
Perantara di Indonesia menginformasikan anak dengan kriteria yang dicari sudah ditemukan. Ana yang dipilih. Kepada calon keluarga adopsi, Ana diklaim yatim piatu. Keluarga adopsi menyetujui proposal yang ditawarkan. Ana ke Belanda.
Baru bertahun-tahun setelahnya, ibu angkatnya mengetahui Ana bukanlah seorang yatim piatu. Dia mempunyai Bapak serta ibu kandung yang Lagi hidup.
“Ibu asuhku Tak Dapat membayangkan kesedihan yang harus dialami ibu kandungku di Indonesia,” ungkap Anna.
“Dia begitu sedih sudah memisahkan Saya dengan keluarga asliku.”
Waktu berlalu. Walaupun Ana sudah merengkuh jawaban atas Seluruh pertanyaan yang membebaninya, tapi Lagi Terdapat satu misi Kembali yang belum terpenuhi: menjadi Penduduk negara Indonesia.
Selama ini, Ana—serta anak korban adopsi ilegal yang lain—dipandang oleh hukum Indonesia sebagai Penduduk negara asing (WNA) dengan paspor Belanda. Kepada Dapat menetap jangka panjang di Indonesia, Ana mesti menggenggam Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) atau pindah kewarganegaraan.
Guna mewujudkan keduanya, prosesnya tak sebentar. Dalam urusan KITAS, misalnya, anak korban adopsi harus mengajukan permohonan paling lelet 30 hari setelah kedatangan. Mereka diwajibkan membawa sejumlah persyaratan, satu di antaranya surat dari sponsor.
Yang dimaksud sponsor ialah perusahaan (apabila tujuannya bekerja), universitas (sekolah), hingga keluarga WNI.
Pengurusan KITAS Tak gratis. Biaya yang dipatok tergantung berapa lelet masa berlakunya KITAS. Rentangnya berada di Bilangan Rp750.000 Tiba Rp12 juta.
Sedangkan opsi selanjutnya, ganti Penduduk negara atau naturalisasi, setali tiga Duit. Mengacu Pasal 9 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, syarat mendapatkan status WNI meliputi tinggal 5 atau 10 tahun berturut-turut di Indonesia, Tak berkewarganegaraan ganda, hingga berpenghasilan tetap.
Persyaratan yang ditetapkan pemerintah Indonesia tergolong berat bagi anak-anak korban adopsi, menurut Ana. Dari aspek finansial, ambil Teladan, Duit yang dikeluarkan Kepada mengurus Berkas Formal tidaklah murah. Sebelum KITAS, Terdapat biaya akomodasi (transportasi, visa, atau penginapan) yang apabila ditotal hasilnya cukup terasa di neraca pengeluaran masing-masing individu.
Lampau Kepada sponsor penjamin KITAS, sambung Ana, Tak Seluruh anak korban adopsi berhasil menemui keluarga kandungnya di Indonesia.
Sementara poin “tinggal di Indonesia selama 5 hingga 10 tahun berturut” dalam ketentuan mendapatkan status WNI juga dianggap sebagai hal dilematis Kepada para penyintas. Dengan menetap di Indonesia, anak korban adopsi tak punya jalur pintas selain meninggalkan kehidupan mereka di Belanda.
“Persoalannya, banyak dari mereka yang sudah bekerja. Apakah mereka langsung akan memperoleh pekerjaan di Indonesia Kepada bertahan hidup?” tambah Ana.
Ana pernah menyampaikan kendala anak korban adopsi dalam mengurus kewarganegaraan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda. Pihak KBRI menanggapinya dengan keterangan bahwa posisi mereka ialah diaspora.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Yvonne Mewengkang, Ketika dikonfirmasi BBC News Indonesia, menegaskan “Kelahiran di Indonesia Tak Mekanis menjadikan seseorang berstatus WNI.”
Ketika kami menyodorkan kondisi para penyintas adopsi Belanda, Yvonne tetap berpijak pada “pengaturan kewarganegaraan sejalan dengan undang-undang yang berlaku.”
“Tentunya Terdapat proses yang dapat dilakukan oleh yang bersangkutan, di antaranya dengan mengajukan permohonan kewarganegaraan Indonesia,” imbuhnya.
“Kemlu, tentunya, akan senantiasa berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait, khususnya Kementerian Hukum, Kepada Maju memantau perkembangan isu ini.”
Kendati berhadapan dengan tembok yang tinggi, Ana mengaku bakal Maju mengupayakan tercapainya perlakuan yang sama Kepada anak korban adopsi yang hendak mencari status WNI.
Selama beberapa tahun belakangan, korban adopsi Belanda rutin menyambangi berbagai instansi pemerintah dalam rangka advokasi. Mereka bahkan sudah mempersiapkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto sehubungan birokrasi kewarganegaraan yang susah Kepada mereka tembus.
Ana berharap pemerintah Indonesia mengakui eksistensi mereka sebagai Penduduk negara tanpa harus disodorkan bermacam syarat yang memberatkan.
Dasar argumen Anna Jernih belaka: mereka Tak meminta Kepada diadopsi dan pindah ke Belanda. Dalam Fakta yang lain, mereka Malah kehilangan Indonesia.
“Saya sangat menginginkan bahwa Indonesia Memperhatikan kami dalam kaitannya dengan korban perdagangan Insan, bahwa kami Tak Kembali Dapat menjadi WNI,” terang Anna.
“Kami lahir di Indonesia. Darah kami adalah darah orang Indonesia.”
Kejahatan yang sistemik
Pertama, setelah Perang Dunia II. Di masa ini, banyak anak asuh—sebagian Yahudi—yang menjadi korban perang datang ke Belanda. Pengaturan Formal soal adopsi belum tersedia mengingat mayoritas masyarakat Lagi memandangnya secara tabu. Aturan adopsi sendiri baru diteken pemerintah pada 1956 lewat Dutch Adoption Act.
Ikatan hukum antara anak asuh serta orangtua kandungnya Tak terputus secara permanen. Alhasil, anak adopsi Dapat dikembalikan kepada orangtua kandungnya walaupun sudah diurus bertahun-tahun oleh keluarga asuhnya.
Berikutnya, yang kedua, terjadi pada Dasa warsa 1960 hingga 1970. Pemerintah Belanda mendirikan lembaga adopsi yang pertama, Stichting Interlandelijke Adoptie (SIA). Pendirian SIA sejalan dengan kian terbukanya penerimaan atas adopsi.
Realitas sosial yang berkembang di masyarakat Belanda, waktu itu, turut memengaruhi keterbukaan terhadap adopsi. Kecamuk perang yang muncul di berbagai negara di luar Eropa seperti Bangladesh serta Vietnam mendorong keluarga di Belanda Kepada mengangkat anak-anak dari Kawasan tersebut.
Kehadiran televisi membantu dalam distribusi informasi. Bilangan adopsi antarnegara pun meningkat sejak awal 1970-an.
Masuk ke 1980-an, yang ketiga, tren adopsi antarnegara “secara bertahap menurun” setiap tahunnya, mengutip Committee on the Investigation of Intercountry Adoption.
Pemicunya adalah krisis ekonomi yang melahirkan pengangguran di ranah domestik. Kemudian, Bunyi kritis yang melaporkan praktik Tak baik dari proses adopsi makin mudah dijumpai melalui pemberitaan di media massa.
Terakhir, hasil penelitian ilmiah mengenai Rekanan trauma dan masalah penyesuaian anak adopsi mulai banyak dipublikasikan.
Lantas di mana posisi Indonesia dalam adopsi antarnegara yang diterapkan Belanda?
Pada 1973, adopsi pertama dari Indonesia tiba di Belanda. Dalam rentang satu Dasa warsa setelahnya, total anak Indonesia yang diangkat keluarga Belanda menyentuh Nyaris 3.100. Puncak adopsi terjadi sejak 1979 Tiba 1981 dengan rata-rata 500 anak dibawa ke Belanda per tahunnya.
Perantara Bagus di Belanda maupun Indonesia memainkan kontribusi signifikan dalam adopsi. Mereka berbentuk yayasan atau panti asuhan seperti Flash, SOC, Mulia, Melatti, Immanuel, Heerebout, SBA, hingga Mitra Anak. Di samping yayasan, individual turut ambil bagian. Pernah Terdapat satu orang Indonesia mengurus Tiba ratusan adopsi.
Pemilihan Indonesia sebagai negara adopsi tak lepas dari Elemen historis, bahwa Belanda pernah menjajah di sana. Meski Indonesia telah menggapai kemerdekaan, perspektif superior tetap melekat.
Mereka menawarkan tur kepada orang-orang yang telah meninggalkan bekas koloni Belanda beberapa Dasa warsa sebelumnya. Di Indonesia, mereka menunjukkan pemandangan anak-anak terlantar serta kelaparan di jalanan yang seketika membikin para turis Belanda merasa jijik.
Anak-anak ini dianggap bukti betapa kemerdekaan Kepada Indonesia datang terlalu Segera. Info ihwal kondisi di negara koloni menyebar di masyarakat Belanda. Dari sini, Schrover meneruskan, Bangunan orangtua yang “Bagus” dan “Tak baik” terbangun. Orang-orang Belanda Memperhatikan keluarga Indonesia tak cakap mengurus anak sehingga mereka akan “menyelamatkannya” dengan mengadopsi.
lelet laun, adopsi Belanda dan Indonesia membuka tabir kelam yang bertumpu pada praktik-praktik culas: pemalsuan Berkas, manipulasi administrasi, hingga pemaksaan kehendak. Pemanfaatan ekonomi merupakan garis akhir yang dituju.
Desember 1980. Penipuan besar-besaran terungkap: bidan Indonesia dicokok aparat setelah 18 bayi ditemukan di loteng di kediamannya. Bayi-bayi ini, sedianya, bakal diadopsi oleh Kekasih dari negara-negara Barat, terutama Belanda.
Sang bidan dikabarkan memperoleh 1.000 gulden Kepada satu anak, sementara orangtua kandungnya diberi 200 gulden. Bidan bekerjasama dengan perantara Belanda yang Tak dikenal.
Tak lelet berselang, publik kembali digegerkan dengan kasus adopsi Belanda. Penduduk Indonesia menggugat adopsi yang menimpa putrinya bernama Kurniawati. Kurniawati disebut diculik dari tempat tinggalnya, dijual lewat perantara, serta berakhir di panti asuhan Kasih Bunda.
Dari panti asuhan, Kekasih Belanda membawa Kurniawati dengan pintu adopsi. Namanya berubah menjadi Miyah. Orangtua asuh Kurniawati Tak mengetahui bahwa anak adopsinya Lagi mempunyai orangtua kandung.
Gugatan Bapak Kurniawati ditolak, tapi itu sudah cukup menempatkan pemerintah Indonesia serta Belanda dalam posisi saling bersitegang.
Selepas gugatan Tak diterima, pemerintah Indonesia menggunakan Metode diplomatik Kepada menekan Belanda. Keimigrasian Indonesia menghentikan sementara waktu penerbitan visa perjalanan bagi anak-anak yang diadopsi ke Belanda. Secara penerapan, kegiatan adopsi Tak boleh dilakukan.
Pemerintah Belanda sendiri meminta kasus Kurniawati tak dipolitisasi lantaran pertaruhannya adalah Rekanan kedua negara. Kedutaan Besar Belanda di Jakarta menekankan kasus Kurniawati harus dipisahkan dari aktivitas adopsi yang lebih luas.
Pada akhirnya, kedua pemerintahan tak mencapai titik temu penyelesaian sengketa Kurniawati. Kurniawati tetap berada di Belanda Berbarengan orangtua asuhnya.
Kendati demikian, pengungkapan kasus Kurniawati menciptakan Dampak domino. Praktik-praktik lancung adopsi anak diseret ke publik. Salah satunya melibatkan panti asuhan Kasih Bunda, di mana Kurniawati sempat singgah.
Pengelola Kasih Bunda ditangkap aparat karena pemalsuan Berkas serta pencurian anak. Petingginya dihukum enam bulan penjara. Pemerintah juga menyetop operasional panti.
Selama bertahun-tahun, pengurus panti memfasilitasi adopsi ilegal ke Belanda. Modus operandinya yakni membawa anak-anak dari orangtua kandung dengan dalih Palsu. Orangtua disuguhi janji sang anak bakal pulang tatkala usianya sudah 18 tahun. Janji itu tak pernah terlaksana.
Pengelola panti, di sisi lain, dalam pengurusan Berkas, terbukti memanipulasi tanda tangan orangtua kandung dari anak yang diadopsi.
Penelitian Schrover menerangkan tindakan-tindakan ilegal dalam adopsi antarnegara di Belanda demi kepentingan profit bergerak menuruti hukum dasar ekonomi: permintaan serta penawaran. Perdagangan anak berkedok adopsi merupakan akibat dari permintaan yang dua kali lebih tinggi ketimbang penawaran.
Perdebatan ihwal adopsi antarnegara menjadi isu Krusial di Belanda, terlebih usai pemerintah—pada 2021—menyatakan permintaan maafnya kepada para korban.
Permintaan Ampun pemerintah Belanda didorong oleh laporan dari Committee on the Investigation of Intercountry Adoption yang menggarisbawahi adopsi anak-anak di luar Belanda sepanjang 1967 hingga 1998 ialah kejahatan sistemik.
Tak sekadar Indonesia, anak-anak korban adopsi berasal dari Brasil, Bangladesh, Kolombia, Tiba Sri Lanka. Komite menjelaskan pemerintah Belanda serta lembaga adopsi memahami praktik-praktik ilegal di luar negeri dan Tak menempuh tindakan pencegahan yang memadai.
Sepasang momentum itu turut memotivasi para penyintas dalam merengkuh keadilan. Mereka menuntut kompensasi atas apa yang dialami dulu dengan menggugat pemerintah Belanda ke pengadilan.
Sayang, pengadilan Tak mau mengabulkan gugatan anak-anak korban adopsi.
Mahkamah Akbar Belanda, melalui keputusannya, menilai, yang pertama, tindakan negara Belanda mesti dievaluasi sesuai hukum dan Kebiasaan yang berlaku pada era itu. Kedua, Berkas adopsi anak-anak antarnegara Tak memuat inkonsistensi maupun bentuk pelanggaran, mengacu Mahkamah Akbar Belanda.
Elvira berargumen bahwa Mahkamah Akbar Belanda sebaiknya mempertimbangkan keadaan Tertentu Kepada kasus anak-anak korban adopsi.
Berkas adopsi memang sering kali Tak mengandung kesalahan. Tetapi, yang perlu digarisbawahi, Berkas itu telah masuk dalam sistem adopsi yang menyembunyikan asal-usul pelanggaran anak yang diadopsi sebagai hasil adopsi ilegal.
Lampau Alasan terjadi pada masa lampau, korban adopsi Tak Bisa memberikan bukti yang dibutuhkan guna memperlihatkan pelanggaran dalam kasus mereka yang “Sebaiknya diakui atau ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan,” tutur Elvira.
“Akibatnya, bagi banyak korban yang diduga menjadi korban adopsi ilegal, mencari kompensasi hukum menjadi tantangan yang Nyaris Tak dapat diatasi. Kasus ini menyoroti kebutuhan mendesak Kepada memikirkan bentuk-bentuk reparasi nonhukum lainnya,” pungkas Elvira.
Ketika diadopsi ke Belanda, Sekeliling 1971, Casmat van Bloppoel Lagi berusia tiga bulan. Dia Tak pernah mengenali kedua orangtuanya. Petunjuk tentang masa lalunya hanya bersandar pada tempat kelahirannya: di sebuah desa di Pekalongan, Jawa Tengah.
Beranjak remaja, Casmat Kepada pertama kalinya mengunjungi Indonesia. Dia berupaya mencari orangtua aslinya. Casmat Tak berhasil lantaran ketidakakuratan data di dalam Berkas.
Terlepas dari itu, dia menemukan sisi “Indonesia”-nya yang, menurut pengakuannya, Tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Perkenalan Casmat dengan Indonesia lantas membikinnya Meletakkan cita-cita: kelak, Kalau telah cukup bekal, dia Mau kembali serta menetap di Indonesia.
“Perasaan ‘pulang’ itu sulit digambarkan. Bagi saya, Kalau Anda Tak pernah menemukan asal-usul Anda, Anda Tak akan pernah mengenali perasaan semacam itu,” ucapnya kepada BBC News Indonesia.
“Ketika pertama kali di Indonesia, saya merasakan sebuah keajaiban, dan seketika sisi Indonesia saya melepaskan diri dari identitas Barat yang sebelumnya melekat ke saya.”
Kehidupan Casmat di Belanda usai diadopsi, sebetulnya, amatlah hangat. Hubungannya dengan orangtua asuhnya, misalnya, “sangat Bagus” serta “menyenangkan,” demikian Kasmat mendeskripsikan.
Tapi, dia menambahkan, “Terdapat sesuatu yang terasa kurang.”
Pada 2014, Casmat menikah dengan orang Indonesia dan sejak itu membangun ulang kehidupannya. Kalau ditotal, dia sudah di Indonesia selama lebih dari satu Dasa warsa.
Kiwari, Casmat telah menggenggam Berkas-Berkas pribadi Krusial seperti Surat Izin Mengemudi (SIM), Kartu Tanda Penduduk (KTP) sementara, Tiba rekening bank.
Walaupun begitu, kendala bukannya Tak Terdapat. Ketika berurusan dengan bank Kepada membuka rekening jenis tertentu, ambil Teladan, Casmat awalnya melewati rangkaian tahapan secara mulus.
Masalah dihadapi kala tiba di pemeriksaan akhir. Data Casmat dinilai Tak cocok karena kepemilikan KTP sementara. Casmat Lagi dilihat sebagai Penduduk negara asing (WNA).
Hal sama dialami Ketika mengurus status kewarganegaraan. Casmat tergolong “orang asing” sekalipun akta kelahirannya memperlihatkan dia berasal dari Indonesia.
Terdapat satu pengalaman yang melekat kuat di ingatan Casmat. Dalam proses Pembuktian administrasi di banyak keperluan, pertanyaan yang sering disodorkan adalah nama ibu kandung. Casmat bingung meresponsnya.
Ibu kandung yang dimaksud apakah ibu yang melahirkannya, atau ibu yang mengadopsinya di Belanda, kira-kira begitu yang terngiang di kepalanya.
Casmat memberi Mengerti bahwa dia “Tak Mempunyai jawaban yang Niscaya.” Terkadang dia memakai nama ibunya di Belanda, terkadang ibu kandungnya.
Berbagai pengalaman tersebut menyadarkan Casmat betapa dia “Tak sepenuhnya diterima utuh menjadi orang Indonesia.”
“Dalam kehidupan sehari-hari, Anda Dapat seperti orang Indonesia pada umumnya. Tetapi, dalam hal-hal formal Anda akan ditolak,” ujarnya.
Casmat lantas membandingkannya dengan kebijakan naturalisasi yang masif diterapkan organisasi sepakbola Indonesia, PSSI, kepada pemain-pemain Belanda keturunan Indonesia. Casmat berpandangan proses yang mereka lewati Kepada diangkat WNI singkat belaka.
“Dan itu adalah sesuatu yang bagi kami sangat sensitif, karena kami 100% orang Indonesia. Kami berasal dari Indonesia. Dan ketika kami Menyaksikan hal seperti itu, kami merasa sangat Tak adil. Kami Mau diakui oleh pemerintah Indonesia,” tegasnya.
Casmat tak dapat memastikan bagaimana ujung dari perjalanannya menggapai status Penduduk negara Indonesia. Yang Jernih, dia punya cita-cita yang tak dapat ditawar.
“Saya berharap Dapat tinggal di sini selamanya. Menutup lingkaran kehidupan yang dimulai dari lahir di Indonesia, dan semoga suatu hari nanti saya juga Dapat berpulang di Indonesia, tempat di mana tubuh saya berasal,” tuturnya.
Di balik sebuah nama
Saya akhirnya Dapat berjumpa langsung dengan Indra setelah sebelumnya hanya bertatap muka melalui layar. Kami Bersua di Bogor di suatu siang yang mendung pada pertengahan April 2026.
Indra mengaku Anjlok hati kepada Bogor karena suasananya yang Segar. Dia Bisa menghabiskan waktu berjam-jam Kepada Termenung di Kebun Raya atau berjalan tanpa arah mengelilingi sudut-sudut perkotaan.
Bagi Indra, hal itu merupakan eskapisme, Metode dia “berdamai” dengan masa Lampau, mengobati luka maupun trauma yang dihasilkan dari proses adopsi.
Di tengah perjuangan yang dia lakukan, saya bertanya kepadanya: apa yang membikinnya Mau memperoleh kewarganegaraan Indonesia?
Tanpa menepikan pengalaman getir yang pernah dia lalui, saya melanjutkan, apa yang sebetulnya dia cari dengan menjadi Penduduk negara Indonesia?
Perbincangan di media sosial memperlihatkan Tak sedikit Penduduk negara Indonesia yang memasang Asa Kepada tinggal di luar negeri lantaran bermacam kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan khalayak luas.
Dalam satu titik, celotehan-celoten itu menggunung dan berubah semacam gejala: ‘Kabur Aja Dulu.’
Indra tertawa menyimak perkataan saya. Dia Tak memungkiri Fakta tersebut. Dia pun mengikuti dinamika di internet yang dipenuhi keresahan-keresahan Penduduk negara Indonesia.
Tetapi, Indra menekankan upayanya Kepada mendapatkan kewarganegaraan Indonesia didorong pencarian atas keadilan. Pengalaman adopsinya bukan sebatas adopsi Normal. Dia dicabut dari akarnya, dipisahkan dari keluarga aslinya, dan Seluruh diselesaikan tanpa dia bersedia memberikan persetujuan.
Dia hendak merebut Kembali apa yang dulu dihilangkan oleh sisa-sisa kolonialisme: masa kecilnya, tawa riangnya, juga kebahagiaannya.
Mentari Nyaris terbenam kala kami memutuskan berpisah. Bogor menjadi titik singgahnya sebelum dia meneruskan perjalanan ke Belanda. Rencananya, dia akan menetap di sana setidaknya hingga Agustus Kepada membereskan sejumlah urusan, termasuk menjual apartemen miliknya.
Setelahnya, dia bakal balik ke Indonesia dan kembali memperjuangkan status kewarganegaraannya.
Di sela-sela itu, saya teringat penjelasan Indra perihal perubahan namanya.
Mundur sedikit ke belakang, beberapa tahun silam, seorang Rekan mengusulkan agar nama aslinya diganti. Sebuah nama merepresentasikan laku hidup Insan, Tak terkecuali tentang Asa atau mimpi yang dipanjatkan, demikian Rekan tersebut menerangkan.
Kawannya menyodorkan Indra Jaya Laksana sebagai identitas yang patut dia bawa.
“Nama ini punya Arti semoga perjalanan saya selalu terang dan mendapatkan kebaikan. Semoga saya Dapat meraih apa yang sebelumnya hilang dari diri saya,” pungkasnya.
