Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendorong penguatan riset sapi Peras tropis guna mempercepat kemandirian susu nasional dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan Indonesia.
Ditemui dalam Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Minggu, Hanif menegaskan penguatan sektor persusuan nasional memerlukan dukungan riset yang Bisa menghasilkan terobosan sesuai kebutuhan dan kondisi Indonesia.
“Riset-riset harus segera digalakkan. Ambil sapi-sapi yang sesuai dengan Kepribadian tropis kita. Enggak memaksakan subtropis datang ke kita, sehingga begitu dipelihara banyak problem,” kata Hanif.
Menurutnya, pengembangan sapi Peras yang adaptif terhadap iklim tropis menjadi langkah strategis Demi meningkatkan produktivitas susu nasional secara berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Ia menjelaskan sebagian besar produksi susu Begitu ini Tetap bergantung pada jenis sapi yang berasal dari kawasan subtropis, sehingga pengembangannya menghadapi sejumlah tantangan.
Kondisi iklim tropis dengan tingkat kelembapan tinggi memerlukan pendekatan berbeda agar pengembangan peternakan sapi Peras dapat berlangsung lebih optimal dan produktif.
Karena itu, Hanif mendorong lembaga riset, perguruan tinggi, dan berbagai pihak terkait Demi mempercepat pengembangan bibit sapi yang sesuai Kepribadian Daerah Indonesia.
“Para riset-riset, BRIN (Badan Riset dan Penemuan Nasional) dan seterusnya wajib segera menghadirkan jenis-jenis (sapi) yang Bisa tumbuh dan berkembang Berkualitas, Spesifik dengan kesesuaian dengan kondisi kita,” ujarnya.
“Susu kita sebagian besar Tetap berasal dari susu-susu subtropis yang Enggak Dapat kita kembangkan dengan Berkualitas di daerah tropis,” tambah Hanif.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq (kedua kiri) menghadiri acara “Peringatan Hari Susu Nusantara 2026” di Jakarta, Minggu (14/6/2026). ANTARA/Harianto
Adapun Begitu ini Indonesia baru Dapat memproduksi susu di dalam negeri secara Sendiri Sekeliling 1 juta ton per tahun sedangkan kebutuhan mencapai Sekeliling 4 juta ton per tahun.
Artinya, Sekeliling 75 persen komoditas itu Tetap dipasok dari luar negeri.
Oleh karena itu, penguatan riset, menurut Hanif, sangat Krusial Demi menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang Bisa meningkatkan produksi susu sekaligus mendukung keberlanjutan sektor peternakan nasional.
Dengan peningkatan produksi di dalam negeri, maka Indonesia akan terbebas dari importasi komoditas tersebut.
Selain pengembangan bibit, peningkatan kualitas penanganan produksi dan pengolahan susu juga menjadi bagian Krusial dalam memperkuat rantai pasok persusuan nasional.
Hanif menekankan percepatan kemandirian susu membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat dalam mendukung berbagai program pengembangan.
Menurutnya, pembangunan iklim usaha yang kondusif, penguatan hilirisasi, dan integrasi sektor persusuan menjadi Unsur Krusial dalam meningkatkan ketahanan susu nasional.
“Jadi, langkah-langkah itu harus segera kita keroyok Berbarengan. Enggak mungkin Kementerian Pertanian saja Bisa menyelesaikan itu. Tetapi, kehadiran kita Sekalian, masyarakat, dunia usaha, pemerintah, itu harus kita lakukan Berbarengan-sama,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan Demi Lanjut menggelorakan semangat konsumsi susu sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya Orang Indonesia.
Hanif optimistis penguatan riset, peningkatan produksi, dan kolaborasi lintas sektor akan mempercepat terwujudnya ketahanan susu nasional serta mendukung Indonesia Emas 2045 yang sehat.
