Liputanindo.id – Beredar video yang memperlihatkan sejumlah pria yang mengaku bagian dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) meminta logistik Demi korban banjir bandang ke prajurit TNI.
Dari video dan narasi di akun Twitter atau X @Heraloebss, sekelompok orang ini mengadang kapal yang hendak menyalurkan Sokongan. Satu di antara pria tersebut memakai seragam dan baret merah. Dia tampak berdebat ke prajurit TNI di sebuah kapal.
Pria itu juga mengaku sebagai staf Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Perdebatan terjadi karena mereka meminta “jatah” logistik. Prajurit TNI menolak memberikan sebagian Sokongan tersebut dan memintanya agar berkoordinasi dengan Muzakir Manaf Apabila memang stafnya.
Dalam perdebatan itu, pria tersebut kemudian menegaskan tak mengancam TNI dan relawan yang bekerja. Kedatangannya juga bukan maksud Demi merampas.
Seorang petugas pun menjelaskan Apabila timnya datang ke Aceh Demi memberikan Sokongan ke Kaum yang terdampak banjir bandang.
Dikonfirmasi, Kapuspen TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah menjelaskan pria tersebut bukanlah Personil GAM. “Berdasarkan informasi yang telah kami Pengecekan, peristiwa dalam video tersebut Betul terjadi. Tetapi bukan dilakukan oleh Grup bersenjata GAM, melainkan oleh dua orang Personil KPA (Komite Peralihan Aceh) Meja Ijo Idi Cut di Aceh Timur,” kata Freddy Begitu dihubungi, Senin (8/12/2025).
Freddy menjelaskan kejadian itu terjadi ketika dua individu tersebut mencegat Kapal Feri Express Bahari yang membawa logistik Sokongan banjir dari Ketua TP PKK Aceh Demi Area Aceh Tamiang, Langsa, dan Aceh Timur, Kamis (4/12).
Keduanya meminta agar sebagian logistik disalurkan kepadanya. Tetapi karena Personil KPA ini tak dapat menunjukkan surat perintah atau keterangan Formal dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, TNI tak memberikannya.
“Petugas kapal menolak karena distribusi Sokongan harus mengikuti Mekanisme Formal.
Ketika aparat keamanan laut mendekat, kapal Sokongan langsung melanjutkan perjalanan menuju Kuala Langsa,” tuturnya.
Jenderal bintang dua TNI ini menyebut tindakan kedua orang itu merupakan perbuatan arogan dan Enggak dapat dibenarkan. Karena dapat menghambat distribusi Sokongan kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Freddy kemudian mengatakan TNI Berbarengan aparat keamanan setempat telah melakukan langkah-langkah Demi memastikan keamanan jalur distribusi Sokongan, termasuk jalur laut, agar kejadian serupa Enggak terulang dan para pemberi Sokongan merasa Kondusif.
“Kami mengimbau seluruh pihak Demi Enggak menghalangi distribusi Sokongan dalam kondisi darurat kemanusiaan. Pusat perhatian Esensial kita adalah mempercepat penanganan banjir dan menjamin Sokongan Tamat kepada masyarakat yang membutuhkan,” imbuhnya.
