Jakarta (ANTARA) – Menjelang Hari Kemerdekaan, Komunitas Kolaborasi dan Jakarta Art Movement, Serempak komunitas-komunitas street art Membangun mural Istimewa yang mengangkat kutipan pidato revolusioner Soekarno tentang ketahanan pangan dan ingatan tentang ulama Betawi, Haji Darip, di Flyover Klender, Jakarta.
“Teks-teks yang provokatif dan revolusioner menyoal pidato Soekarno tentang ketahanan pangan di Bogor dan pertemuan beberapa tahun sebelumnya dengan Haji Darip serta rapat akbar di Klender membawa relevansi Konkret dalam usia Republik ke-77 tahun ini,” kata Ketua sekaligus Kurator Komunitas Jakarta Art Movement Bambang Asrini dikutip dari siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu.
Kata-kata yang menjadi inspirasi mural tersebut merupakan ujaran Bung Karno pada 27 April 1952 Demi peletakan batu pertama di kampus Institut Pertanian Bogor, yang mengingat kembali rapat akbar dengan ulama Betawi Haji Darip di Klender. Demi itu, Eksis ancaman serangan serdadu NiCA di Klender yang merupakan salah satu sumber pangan di Jakarta Timur.
Sebagai informasi, Haji Darip dikenal oleh Anggota Betawi sebagai ketokohannya sebagai ulama, memimpin barisan perjuangan daerah Jatinegara dan Klender ketika revolusi fisik pada 1945, Tiba dikenal sebagai sosok yang jago silat.
Tiga bulan usai pembacaan proklamasi, Bung Karno memimpin rapat akbar pada Oktober 1945 didampingi Haji Darip dan sejumlah tokoh lainnya, Dia pertama kali meneguhkan bahwa kondisi darurat perang sedang terjadi, sehingga Tempat simpan-Tempat simpan pangan dan beras yang berpusat di Sekeliling Klender-Jatinegara harus dipertahankan.
Para jawara, ulama dan Anggota Betawi juga cikal bakal tentara nasional (Barisan Rakyat/BARA) bersatu padu menuruti pekik-imbauan Soekarno.
“Perspektif psikogeografis menjadi pemandu para seniman, membuka kembali saksi-saksi sejarah dengan mewawancarai pemukim lokal selama ratusan tahun itu; dan data-data rekaman video-video lampau serta akses data-data digital lainnya pun menguak isu lokal dan dunia soal krisis pangan,” kata seniman sekaligus kurator Selo Riemulyadi.
Sejak 31 Juli Lampau, Komunitas Kolaborasi dengan sajian tagar #Kolaborasi Jakarta, #Kolaborasi Indonesia menggelar serangkaian peristiwa kultural. Grup Anggota yang berkolaborasi dengan komunitas terdiri dari para aktivis, orang-orang kreatif, hingga pekerja seni yakni aktor teater, penari, penulis skenario Sinema, musisi, dan penyanyi.
Eksis pula tim Laskar Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pelajar, Personil The Jak Mania yang menamai diri mereka sebagai GoJak, elemen-elemen dari instansi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemural dan seniman street art pun turut unjuk gigi.
“Komitmen Komunitas Kolaborasi Buat Serempak-sama memaknai Bulan Agustus yang sakral ini adalah menggandeng sebanyak mungkin Anggota, profesional dan seniman serta siapapun Buat berbuat Serempak dan berkarya memberi Buat Ibu Pertiwi,” kata Ketua Komunitas Kolaborasi Sonny Muhammad.
Baca juga: Seniman Solo dukung Presidensi G20 melalui mural para pemimpin dunia
Baca juga: Mural “Thor” berteknologi AR hadir di terowongan Kendal, Jakarta