Rupiah. Foto: dok MI/Rommy Pujianto.
Jakarta: Nilai Ganti (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan, menjelang libur Hari Raya Iduladha.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 26 Mei 2026, rupiah hingga pukul 10.06 WIB berada di level Rp17.791 per USD. Mata Doku Garuda tersebut turun 47 poin atau setara 0,26 persen dari Rp17.744 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.738 per USD. Analis pasar Doku Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi kenaikan Etnis Kembang The Fed.
“Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika Yakni Christopher Waller, dia mengatakan Kalau ekspektasi inflasi menyimpang dari Sasaran, dia Enggak akan ragu Kepada mendukung kenaikan Etnis Kembang. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya Kepada Meningkatkan Etnis Kembang,” ujar dia dalam rekaman Bunyi di Jakarta.
Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai berpotensi akan Meningkatkan Etnis Kembang apabila inflasi Lagi cukup tinggi, kendati Presiden AS Donald Trump Enggak menyerukan penurunan Etnis Kembang dalam kondisi Begitu ini. Hal ini yang Membangun kemungkinan besar Etnis Kembang tetap tinggi hingga akhir 2026.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pasar tunggu rilis data PDB AS kuartal I
Seiring dengan itu, pasar turut menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2026, Lewat data perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti. Sentimen lain berasal dari optimisme pasar atas kesepakatan perdamaian antara AS dengan Iran, kendati Lagi terdapat perselisihan terkait Selat Hormuz.
“Kita harus ingat juga, apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau Enggak, karena yang lebih Krusial itu adalah tentang masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah Anggaran yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata dia.
Adapun sentimen dari internal, menurut dia, Lagi disebabkan permasalahan defisit anggaran yang menjadi momok oleh pasar.
“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya Lagi belum Dapat mengangkat sentimen positif terhadap mata Doku rupiah. Kita lihat mata Doku negara tetangga Seluruh menghijau, tapi Indonesia memerah,” ungkap Ibrahim.
