Ilustrasi. Foto: Dok MI
Jakarta: Nilai Ganti (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini. Mata Duit Garuda terpantau melemah di tengah penguatan dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 25 Maret 2025, rupiah hingga pukul 09.10 WIB berada di level Rp16.620 per USD. Mata Duit Garuda tersebut melemah 53 poin atau setara 0,32 persen dari Rp16.567 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah melemah 70 poin atau 0,42 persen menjadi Rp16.619 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya di posisi Rp16.550 per USD.
(Ilustrasi dolar AS. MI/Pius Erlangga)
Rupiah fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar Duit Ibrahim Assuaibi memperkirakan kurs rupiah akan bergerak fluktuatif Tetapi ditutup melemah. Ia memperkirakan rupiah Eksis direntang Rp16.550 Tiba dengan Rp16.620 per USD pada Selasa, 25 Maret 2025.
Ia menyebut beberapa Dalih yang memengaruhi gerak rupiah. Ibrahim mengatakan banyaknya perusahan yang bangkrut Ketika ini, berimbas terhadap PHK besar-besaran. Hal itu Membikin Lebaran pada tahun ini Tetap dibayangi sentimen daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih sejak akhir tahun Lampau.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut dari Mei hingga September 2024, yang Rupanya berlanjut ke dua bulan pertama 2025 ini.
“Lebaran merupakan periode musiman yang selalu diharapkan oleh pelaku usaha Kepada dapat meningkatkan bisnisnya, sekaligus momentum yang diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat,” kata Ibrahim.
Ia menunjukkan perputaran Duit selama periode Lebaran biasanya cenderung meningkat dibandingkan bulan-bulan Biasa, seiring dengan naiknya aktivitas belanja masyarakat, perjalanan wisata, dan konsumsi barang serta jasa.
Menurutnya, bagi dunia usaha, Lebaran selalu menjadi salah satu pendorong Krusial bagi sektor ritel, pariwisata, akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi. Sementara itu, aktivitas mudik juga akan memberikan Dampak berantai terhadap sektor-sektor tersebut.