Ilustrasi. Foto: Dok MI
Jakarta: Nilai Ubah (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan terhadap dolar AS sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 17 Juni 2026, nilai Ubah rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.804 per USD. Mata Duit Garuda tersebut turun 10 poin atau setara 0,06 persen dari posisi Rp17.794 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.780 per USD. Rupiah Malah menguat sebanyak 41 poin atau setara 0,23 persen dari Rp17.841 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs Surat keterangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.826 per USD. Rupiah bergerak datar atau Tetap sama dari perdagangan sebelumnya.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Unsur eksternal menekan rupiah
Analis mata Duit Doo Financial Futures Lukman Leong menganggap rupiah melemah pascameningkatnya prospek kenaikan Bangsa Tumbuh bank sentral Amerika Perkumpulan atau Federal Reserve (The Fed) pascapertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang Tetap kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan Bangsa Tumbuh The Fed pasca FOMC,” ujar dia dikutip dari Antara, Jumat, 19 Juni 2026.
Dia menerangkan bahwa prospek tersebut muncul karena inflasi AS Demi ini berada di Bilangan 4,2 persen, Tetap jauh di atas Sasaran The Fed sebesar 2 persen.
Mengutip Anadolu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan komitmen Kepada mencapai Sasaran stabilitas harga 2 persen.
Ketika ditanya apakah The Fed dapat mempertimbangkan kembali Sasaran inflasi 2 persen, Warsh menyampaikan bahwa level tersebut tetapi menjadi tujuan jangka panjang bank sentral dan tak boleh ditinjau kembali sebelum The Fed kembali Bisa mewujudkannya.
Selain itu, indeks dolar AS disebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir. Kekhawatiran apabila pasokan minyak mentah dunia Tetap belum akan pulih akibat perang turut mendukung dolar AS, kendati kesepakatan damai tahap pertama antara AS dengan Iran turut mendukung rupiah.
“Kesepakatan damai tahap pertama ini tentunya mendukung rupiah, Tetapi Kepada jangka pendek memang fluktuasi seperti ini terjadi, investor Tetap memberikan perhatian pada prospek Bangsa Tumbuh The Fed,” kata Lukman.
Adapun sentimen domestik, keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) Kepada tetap mempertahankan status pasar Indonesia sebagai EM (emerging market) cukup melegakan dan Dapat mendukung rupiah.
Begitu pula dengan keputusan Bank Indonesia (BI) Meningkatkan BI-Rate yang dinilai sangat Krusial Kepada mendukung rupiah dan diperkirakan akan dinaikkan ke depannya Sekeliling 50 basis points (bps).
