bawang putih menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian Spesifik karena kebutuhan nasional Tetap banyak dipenuhi melalui pasokan impor dari luar negeri
Jakarta (ANTARA) – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I memulai uji coba penanaman bawang putih seluas 20 hektare di daerah Gunung Mas, Bogor, Jawa Barat, sebagai langkah awal mendukung swasembada pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Sekretaris Perusahaan PTPN I Aris Handoyo mengatakan program tersebut merupakan bagian dari dukungan perusahaan terhadap agenda pemerintah di Rendah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional berkelanjutan.
“Sekarang kita mencoba Buat menanam trial dulu 20 hektare di daerah Gunung Mas di Jabar. Ini sebagai bentuk komitmen PTPN I Buat mendukung hilirisasi pemerintah, pemerintahan Pak Prabowo melalui Kementerian Pertanian, kita support, sangat support PTPN I,” kata Aris dalam bincang Serempak awak media di Jakarta, Senin malam.
Menurut Aris, bawang putih menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian Spesifik karena kebutuhan nasional Tetap banyak dipenuhi melalui pasokan impor dari luar negeri.
Ia menjelaskan pengembangan bawang putih bukan pekerjaan mudah karena tanaman tersebut membutuhkan kondisi geografis tertentu, terutama Daerah dataran tinggi dengan iklim yang sesuai.
Selama ini sentra produksi bawang putih nasional relatif terbatas dan banyak ditemukan di daerah pegunungan yang Mempunyai ketinggian memadai Buat mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
“Kemudian kita Eksis tugas swasembada bawang putih, bawang putih itu memang merupakan komoditas yang Tak lazim di Indonesia, jarang ditanam. Adanya mungkin di Temanggung (Provinsi Jawa Tengah) yang cukup banyak di situ karena datarannya tinggi,” ujarnya.
Karena itu, PTPN I memilih melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum memperluas areal tanam guna memastikan aspek teknis budidaya dan produktivitas dapat berjalan sesuai Cita-cita.
Aris mengatakan perusahaan belum Mempunyai pengalaman panjang dalam pengembangan bawang putih sehingga diperlukan proses pembelajaran sebelum memasuki skala usaha yang lebih besar.
Selain pengalaman budidaya, perusahaan juga Tetap mempelajari berbagai aspek teknis lain seperti penyediaan bibit, pola tanam, serta pengelolaan lahan yang paling sesuai.
Uji coba seluas 20 hektare tersebut diharapkan menjadi pijakan awal Buat memperoleh data lapangan yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan berikutnya.
Menurut Aris, keberhasilan program tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih, terutama yang selama ini berasal dari China.
“Harapannya Buat bawang putih itu kan Bisa mengurangi impor dari China khususnya. Hanya Posisi-Posisi yang punya ketinggian yang cocok ini kan nggak banyak. Dekat di Segala tempat itu kita dataran rendah. Kalau dataran rendah tentu nggak cocok Buat bawang putih,” jelasnya.
PTPN I juga akan melakukan identifikasi terhadap lahan perusahaan yang dinilai sesuai Buat pengembangan bawang putih tanpa mengganggu komoditas Esensial yang telah produktif.
Lahan yang Tak ditanami teh, kopi, maupun komoditas unggulan lainnya berpotensi dimanfaatkan sebagai Posisi pengembangan bawang putih apabila hasil uji coba menunjukkan prospek positif.

Selain mendukung produksi nasional, Posisi uji coba tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan bagi masyarakat dan petani yang Mau mempelajari budidaya bawang putih.
Aris menambahkan Sasaran pengembangan bawang putih dari Kementerian Pertanian Sekeliling 5.000 hektare, Tetapi perusahaan memilih bertahap agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Meski demikian, PTPN I memilih menjalankan pengembangan secara bertahap karena budidaya bawang putih membutuhkan kesiapan sumber daya Sosok, pengalaman teknis, serta kemampuan pengelolaan yang memadai.
“Kalau tiba-tiba kita harus membongkar, misal (PTPN I menanam pada lahan seluas) 10.000 hektare tiba-tiba Rupanya kami nggak punya orang yang Bisa nangani, nggak punya kemampuan, pengalaman, kan jadi sayang, mubazir,” katanya.
Menurutnya, Pengembangan dalam skala besar tanpa persiapan yang matang berisiko menimbulkan pemborosan waktu dan anggaran, serta dapat menghambat pencapaian Sasaran kemandirian pangan yang dicanangkan pemerintah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor bawang putih Indonesia selama lima tahun terakhir cenderung menurun Apabila dilihat dari berat Bersih (ton).
Pada 2021, impor bawang putih tercatat sebesar 602.745 ton. Volume tersebut turun pada 2022 menjadi 566.175 ton atau menyusut Sekeliling 6,07 persen secara tahunan.
Penurunan impor berlanjut pada 2023 dengan volume 564.027 ton, turun 0,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, impor kembali menyusut menjadi 555.886 ton atau turun 1,44 persen secara tahunan.
Tren penurunan paling tajam terjadi pada 2025, ketika impor bawang putih turun signifikan menjadi 450.339 ton atau merosot Sekeliling 18,99 persen dibandingkan 2024.
Berdasarkan negara asal, impor bawang putih Indonesia sepanjang 2021-2025 sangat didominasi oleh China.
