Polri Pastikan Bukan Eksis Sabotase dalam Kasus Listrik Padam di Sumatera

Tim gabungan Bareskrim Polri dan PT PLN (Persero) memastikan Bukan Eksis indikasi sabotase dalam peristiwa Tewas lampu massal atau blackout di sejumlah Kawasan Sumatera pada Jumat (22/5) malam. Insiden tersebut diduga kuat terjadi akibat Unsur teknis dan pengaruh cuaca ekstrem.

Penyelidikan mendalam dilakukan oleh aparat kepolisian Serempak pihak otoritas listrik Kepada mengungkap penyebab Penting gangguan massal ini. Berdasarkan laporan hasil Pengusutan sementara yang dilansir dari Detikcom, pemadaman total tersebut berdampak signifikan pada sejumlah fasilitas publik termasuk lampu penerangan jalan dan Lewat lintas di pusat Kota Medan.

Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim), Irjen Nunung Syaifuddin, memaparkan Intervensi awal timnya mengenai kerusakan infrastruktur kelistrikan yang menjadi titik awal gangguan.

“Tamat dengan Ketika ini Dapat kami pastikan Bukan ditemukan Eksis ya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut,” ujar Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Aparat penegak hukum menyimpulkan hal tersebut setelah Menonton kondisi fisik dari kabel transmisi yang terputus di lapangan.

“Dugaan sementara mengarah pada Unsur teknis dan cuaca yang ekstrim yang menyebabkan gangguan sistem kelistrikan,” sambung Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Tim penyidik menilai kerusakan yang terjadi lebih menyerupai Pengaruh dari tekanan alamiah ketimbang pemotongan secara sengaja menggunakan alat tertentu.

“Kenapa kami Dapat pastikan kalau ini bukan sabotase, karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini Bukan rapi. Dia lebih bersifat berbentuk serabut,” tegas Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Polisi juga telah memanggil sejumlah saksi Kepada memperkuat akuntabilitas dari proses pembuktian ilmiah ini.

“Jadi kalau itu sabotase, Niscaya potongan potongannya lebih rapi (bekas potongan alat),” lanjut Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Mekanisme pemeriksaan dipastikan berjalan terbuka guna menghindari spekulasi liar di tengah masyarakat.

“Seluruh proses Pengusutan kami lakukan secara profesional, transparan dan komprehensif Kepada memastikan penyebab Penting kejadian secara ilmiah dan akuntabel,” Jernih Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Petugas di lapangan telah memeriksa Tower 175 dan 176 jaringan transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi yang mengalami kerusakan kabel SUTET 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumpeh.

“Tamat dengan Ketika ini, Dapat kami pastikan Bukan ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada Unsur teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan,” kata Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Pusat Laboratorium Forensik kini sedang meneliti beberapa kemungkinan teknis yang menyebabkan kabel tersebut hancur.

“Adapun dugaan sementara penyebab terputusnya kabel transmisi Tetap dalam proses pendalaman dengan beberapa kemungkinan, antara lain Unsur mekanik akibat gesekan dan pengaruh angin, Unsur panas akibat sambungan Lenggang yang menimbulkan rongga, maupun Unsur tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem,” Jernih Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Meskipun Pengusutan Tetap berjalan, pihak otoritas memastikan pasokan daya bagi masyarakat kini telah kembali ke sedia kala.

“Ketika ini kondisi sistem kelistrikan di Kawasan Sumatera telah berhasil dipulihkan sepenuhnya. Dan berdasarkan keterangan Formal dari PT PLN, pasokan listrik di seluruh Kawasan Sumatera telah kembali normal 100 persen serta beroperasi dengan Kondusif dan Konsisten,” ucap Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Di sisi lain, Direktur Transmisi PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan rincian kronologi runtuhnya sistem interkoneksi akibat fenomena tegangan tinggi.

“Kami dari PT PLN Persero menyampaikan permohonan Ampun sebesar-besarnya, terutama kepada masyarakat di Kawasan daerah Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga ke Aceh atas terjadinya gangguan listrik yang terjadi pada hari Jumat yang Lewat,” kata Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Menurut penjelasan manajemen, kendala bermula Ketika cuaca Bukan baik memicu lepasnya dua sirkuit Penting di jalur timur kelistrikan Sumatera.

“Terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5. Ini merupakan input-an menuju jalur 500 kV di bagian timur. Akibat hujan lebat dan angin kencang, kedua sirkuitnya trip sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem,” Jernih Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Putusnya sirkuit tersebut memaksa daya besar berpindah mendadak ke jalur barat sehingga memicu ketidakstabilan frekuensi yang masif.

“Perpindahan arus tadi tersebut, itu menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi. Jadi tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada Ketika itu, karena berpindahnya ke arah 275 kV tadi,” Jernih Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Sistem pengaman Mekanis kemudian memisahkan diri demi mencegah kerusakan perangkat kelistrikan yang jauh lebih parah.

“Nah, ketika osilasi tersebut Tamat pada satu tahap teknikal tertentu, maka di jalur barat tadi, di jalur 275 kV tadi, itu juga perlu mengisolasikan diri agar jangan Tamat power swing tadi itu menyebabkan gangguan yang lebih luas. Nah kemudian di titik tersebut, arah Muara Bungo ke Sungai Rumbai, dua sirkuit juga trip,” lanjut Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Pemisahan ini berakibat pada ketimpangan beban, di mana Kawasan utara mengalami keruntuhan sistem secara beruntun akibat kekurangan pasokan pembangkit.

“Apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit Eksis yang Bukan tahan, kemudian trip, Lewat terjadi domino effect, trip satu,” terang Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Akibatnya, pemadaman total Bukan terhindarkan bagi jutaan pelanggan di lima provinsi bagian utara Sumatera.

“Kemudian, pembangkit-pembangkit lain frekuensinya semakin turun. Kemudian, akhirnya pembangkit-pembangkit di bagian utara trip Sekalian, sehingga pelanggan-pelanggan kami di Jambi, di Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh mengalami pemadaman,” sambung Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Guna mencegah risiko serupa di masa mendatang, manajemen akan mengintensifkan mitigasi dengan alat pemantau suhu pada titik-titik rawan.

“Tentunya kami melakukan Pengawasan double. Kami menggunakan infrared Kepada Menonton apakah sambungan kabel mulai panas berlebih atau Bukan. Kalau ditemukan kenaikan suhu 10 hingga 15 derajat di atas normal, kami langsung lakukan pemeliharaan Spesifik,” imbuh Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).