Papua: Hari-hari penuh kekerasan di Intan Jaya – Pendeta dan ibu hamil tewas ditembak, rombongan Gereja Katolik diberondong peluru

Keluarga menangis di depan jenazah korban penembakan, Okto Tigau, Intan Jaya, Papua.

Dalam dua bulan terakhir dilaporkan setidaknya terjadi tujuh rangkaian kekerasan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Yang terbaru, pada awal Juli ini, Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau, dan anak muda Okto Tigau tewas dengan luka tembak.

Peringatan! Artikel ini memuat foto-foto yang mungkin menganggu kenyamanan Anda.

Ribuan Anggota di Sugapa, ibu kota Intan Jaya, turun ke jalan, pada Jumat (03/07), Demi memprotes rangkaian kekerasan itu. Mereka membawa berbagai poster tuntutan, termasuk mempertanyakan Ketika konflik bersenjata akan berhenti dan apakah pemerintah Indonesia akan menarik Laskar militer yang jumlahnya mereka anggap berlebihan di Intan Jaya.

Protes Anggota Intan Jaya itu berlanjut, Sabtu (04/07). Dimotori Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya, unjuk rasa itu menggugat pemerintah Demi mengusut Mortalitas sejumlah Anggota sipil yang ditembak dalam dua bulan terakhir.

Rangkaian kekerasan dan Mortalitas itu, menurut Direktur Aliansi Demokrasi Demi Papua, Latifah Anum Siregar, merupakan bagian tak terpisahkan dari operasi militer yang sedang terjadi di Intan Jaya dan beberapa episentrum konflik di Tanah Papua.

“Tujuannya Demi melemahkan kekuatan anak-anak muda, calon pemimpin lokal, dalam mengadvokasi hak-hak masyarakat sipil, karena Terdapat investasi di situ, seperti Blok Wabu,” kata Latifah ke BBC News Indonesia.

Intan Jaya, Papua, konflik

Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Bernard Ramandey, menyebut rangkaian penyerangan terhadap Anggota sipil di Intan Jaya merupakan sebuah pelanggaran HAM.

“Kami meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan Penilaian menyeluruh terhadap tata kelola keamanan dan Mekanisme tetap aparat TNI dan satuan keamanan lainnya di Papua,” ujar Frits.

Menteri Hak Asasi Orang, Natalius Pigai, menyampaikan keprihatinan atas Mortalitas Pendeta Elianus Agimbau.

“Terkait penembakan pendeta di Intan Jaya dan Papua, saya minta Panglima TNI dan Kapolri Demi mengendalikan anggotanya yang bertugas di Papua,” ujar Pigai.

Bagaimana kronologi tewasnya pendeta dan ibu hamil?

Elianus Agimbau, 20 tahun, adalah penginjil di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) di Kampung Jenetapa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya.

Elianus ditemukan masyarakat tergeletak dalam kondisi tak bernyawa di semak-semak yang ditutupi rerumputan, 1 Juli Lewat. Kementerian HAM menyebut di tubuh Elianus bersarang lima luka tembak. Terdapat pula luka sayatan di tubuhnya. Sementara satu telinganya putus dan hilang.

Elianus Agimbau, 20 tahun, adalah pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), di Kampung Jenetapa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya.

Tragedi yang menimpa Elianus berawal dua hari sebelumnya, pada 29 Juni pagi. Elianus berpamitan ke keluarganya menuju Sugapa.

“Dia bicara dengan istrinya dan keluarga. Dia minta izin naik ke Distrik Sugapa ikut pencairan Biaya kampung, setelah itu balik Kembali,” kata sepupu Elianus, Melky Agimbau, kepada BBC News Indonesia.

Melky bilang, Elianus berangkat Serempak adik laki-lakinya, Sandi Agimbua. Beberapa jam setelah berjalan kaki, mereka tiba di pangkalan ojek, Kampung Mbamogo.

Di Letak itu, sekumpulan Laskar TNI disebut Melky menghujamkan tembakan ke arah Elianus dan Sandi.

“‘Abang ini sudah kena. Adik harus cari keselamatan.’ Itu yang dia sampaikan kepada adiknya,” kata Melky seraya menirukan perkataan Sandi Agimbua.

Elianus ditemukan tergeletak tak bernyawa di semak-semak yang ditutupi rerumputan pada Rabu (01/07).

Sandi kemudian melompat ke arah tebing di Rendah jalan dan bersembunyi di hutan.

Keesokan harinya, Sandi tiba Sugapa dan melaporkan peristiwa tersebut kepada keluarganya.

Pihak keluarga Serempak tim penanganan konflik, kata Melky, kemudian menuju Letak penembakan. Di sana, mereka menemukan Elianus yang telah tak bernyawa.

Melky bilang, jenazah Elianus ditemukan tergeletak di rerumputan. “Kepalanya masuk di rumput, kakinya terangkat,” katanya.

Melky Berbicara, keluarganya hingga kini belum mendapat penjelasan Formal dari pemerintah maupun otoritas medis mengenai penyebab Mortalitas Elianus.

“Dari pihak hukum belum Terdapat yang datang Bersua keluarga,” ujarnya.

Melky Berbicara, kini situasi di Intan Jaya Lagi panas. Sekelompok Anggota Lagi mengungsi dari kampung. Mereka Tak berani kembali atau beraktivitas karena khawatir menjadi korban berikutnya.

Keterangan terkait Mortalitas Elianus juga diungkap oleh Grup swadaya pemantau konflik, Human Rights Defender Papua.

Mereka menyebut bahwa Elianus diduga ditembak oleh aparat TNI yang tengah bersiaga di Kampung Mbamogo.

Terkait informasi ini, BBC News Indonesia telah menghubungi Komando Operasi TNI Habema yang mengerahkan tentara di Intan Jaya. Tetapi hingga Informasi ini dipublikasi, mereka Tak memberikan tanggapan.

Sekelompok warga Intan Jaya mengungsi akibat konflik bersenjata yang terus meningkat dan menimbulkan korban jiwa.

Satu hari setelah penemuan jasad Elianus, 2 Juli Lewat, seorang Perempuan yang sedang hamil tujuh bulan di Sugapa, Melkiana Duwitau, juga tewas. HRD Papua menyebut Perempuan itu sedang berada di dalam rumahnya Begitu tewas terkena peluru.

“Meskipun Terdapat upaya yang dilakukan pihak rumah sakit dengan operasi, tapi mama dan anaknya ini meninggal dunia,” bunyi laporan HRD Papua.

Melkiana tertembak di bahu usai peluru menembus dinding rumahnya, honai, di Kampung Wandoga, Sugapa.

Komando Operasi TNI Habema juga Tak menjawab pertanyaan BBC News Indonesia terkait tuduhan yang diarahkan kepada mereka, terkait Mortalitas Melkiana.

Peristiwa kekerasan lainnya

Pada hari Elianus tewas ditembak, 29 Juni Lewat, terjadi pula kasus penembakan lain di Kampung Titigi, Sugapa.

Korban yang terluka adalah Daud Hagismijau dan Kiko Hagismijau. Keduanya kini disebut sedang menjalani perawatan di gereja setempat.

Sekelompok warga Intan Jaya mengungsi akibat konflik bersenjata yang terus meningkat dan menimbulkan korban jiwa.

Begitu penembakan terjadi, HRD Papua bilang, kedua korban tengah Serempak rombongan gereja. Mereka sedang dalam perjalanan pulang, usai mengambil material Demi pembangunan jembatan dan gereja Katolik.

Empat peluru dilaporkan menembus mobil yang membawa belasan orang itu.

Salah satu penumpangnya adalah Pastor Dekanat Moni Puncak, Yanuarius Yance Yogi.

“Kami Kembali buat proyek jembatan, program pemerintah pusat. Tapi kami ditembaki peluru oleh TNI,” ujar Yance ke BBC News Indonesia.

“Pertanyaannya, kami dari gereja, kok gereja sedang fasilitasi pembangunan pemerintah pusat, tapi ditembak. Tugas TNI apa di sini sebenarnya, melindungi atau menembaki masyarakat sipil?” kata Yance.

Komando Operasi TNI Habema juga Tak menjawab pertanyaan BBC News Indonesia terkait kejadian ini.

Pastor Yance Yogi mendesak agar Personil TNI yang diduga melakukan penembakan kepada rombongannya, dan juga kepada Anggota lainnya, Demi diproses secara hukum.

“Pemerintah pusat juga harus mengevaluasi keberadaan dan tugas TNI di sini, Intan Jaya,” ujar Yance.

Prajurit TNI Yonif 113/Jaya Sakti meneriakkan yel-yel usai upacara penyambutan kepulangan Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Papua Nugini.a

Pada 1 Juli pula, seorang Pria muda bernama Okto Sani Tigau asal Kampung Mamba ditemukan tewas. Pada tubuhnya terdapat beberapa luka tembak, selain jejak penyiksaan lainnya.

Jenazah Okto ditemukan di Sekeliling area dekat Pos Satgas TNI Rajawali yang menjadi markas tentara di Rendah Koops Habema.

HRD Papua menuding bahwa Okto disiksa tentara sebelum akhirnya ditembak dan meninggal dunia.

Terkait penemuan jenazah Okto Tigau, Koops Habema menyatakan “tindakan prajurit dilakukan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.”

Juru Bicara Koops Habema, Letkol Wirya Arthadiguna, menyebut tentara “mengedepankan prinsip profesional, proporsional, akuntabel, serta mengutamakan keselamatan masyarakat sipil.”

Wirya menuduh Oto berstatus kombatan karena bergabung dalam milisi TPNPB. Tetapi Human Rights Defender Papua menyanggah tuduhan itu dan menyatakan Oto merupakan Anggota sipil.

Mahasiswa Papua menggelar demonstrasi di titik nol kilometer di Yogyakarta, Indonesia, pada 31 Agustus 2019.

Komnas HAM Papua mencatat setidaknya Terdapat tujuh rangkaian kekerasan yang terjadi di Intan Jaya pada Mei-Juni 2026, Yakni:

  • 17 Mei 2026: Ledakan granat di halaman Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni Mbamogo dan melukai empat Anggota sipil;
  • 18 Juni 2026: Ledakan granat yang diduga dijatuhkan menggunakan drone terjadi di Kampung Danggoa, Distrik Agisiga, dan melukai dua Anggota sipil;
  • 27 Juni 2026: Kontak tembak TPNPB-OPM dan Satgas TNI Rajawali di Distrik Agisiga, yang menewaskan satu prajurit TNI dan melukai tiga Personil lainnya;
  • 29 Juni 2026: Penembakan mobil pastor dekenat Moni Puncak, Keuskupan Timika, Yanuarius Yance Yogi;
  • 29 Juni 2026: Penembakan di kampung Titigi, Sugapa yang menyebabkan dua Anggota sipil terluka;
  • 29 Juni 2026: pendeta GKII, Elianus Agimbau, dilaporkan tewas ditembak;
  • 29 Juni 2026: Okto Tigau dilaporkan hilang dan kemudian ditemukan meninggal dunia di Kampung Mamba.

Mengapa rangkaian kekerasan itu terjadi?

Direktur Aliansi Demokrasi Demi Papua, Latifah Anum Siregar, Menonton rangkaian kekerasan itu merupakan satu bagian dari operasi militer yang sedang terjadi di Intan Jaya dan beberapa episentrum konflik di tanah Papua.

Hal itu, kata Latifah, ditunjukkan aparat dari indikasi modus dan pola yang mereka lakukan, Yakni masuk dan membakar kampung, menggunakan pesawat, helikopter, dan drone, serta menangkap orang-orang yang dicurigai.

Latifah juga menyoroti para korban yang berasal dari kalangan gereja dan Grup anak muda.

“Jadi anak muda, tokoh Keyakinan, Grup-Grup bagian dari masyarakat sipil yang Lazim menjadi tokoh terdepan itu sengaja dihabisi, sehingga ini pelemahan Betul-Betul masyarakat sipil,” kata Latifah.

Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP), Latifah Anum Siregar.

“Apa targetnya? Bisa jadi itu Demi melemahkan masyarakat sipil karena Terdapat investasi di situ, Yakni Blok Wabu. Jadi Betul-Betul rakyat dibuat lemah, enggak Terdapat tokoh-tokoh yang nanti menjadi pemimpin masyarakat sipil Demi mengadvokasi hak-hak mereka,” kata Latifah.

Demi itu, Latifah mendesak pemerintah Demi segera menghentikan dan menarik Laskar non-organik yang melakukan operasi militer selain perang di Papua.

“Setelah itu langkah menengahnya adalah mengevaluasi kebijakan keamanan yang sangat militeristik,” ujarnya.

Senada, Ketua Sinode Daerah II Papua Tengah Gereja Kemah Injil Indonesia, Pendeta Hans Wakerkwa mengutuk keras tindakan penembakan terhadap Anggota sipil yang Tak bersenjata di Intan Jaya.

“Setiap Orang diciptakan menurut gambar dan Jenis Allah. Karena itu, Tak Terdapat Argumen yang dapat membenarkan tindakan kekerasan terhadap Anggota sipil yang Tak terlibat dalam konflik,” kata Hans.

Demi itu, Hans Berbicara, gereja mendesak pemerintah Demi melakukan penyelidikan yang independen, menyeluruh, dan transparan atas rangkaian penembakan itu.

Para aktivis Papua meneriakkan slogan-slogan saat menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta, Indonesia, 22 Agustus 2019.

Selain itu, kata Hans, pemerintah juga harus menjamin perlindungan terhadap seluruh Anggota sipil di Papua agar tragedi serupa Tak Maju berulang.

“Pemerintah harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan, keadilan, dan dialog damai dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Papua. Lewat mengevaluasi dan penarikan penembatan TNI non organik se-tanah Papua,” kata Hans.

Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Bernard Ramandey, meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan Penilaian menyeluruh terhadap tata kelola keamanan dan Mekanisme tetap aparat TNI dan satuan keamanan lainnya di Papua, khususnya di Daerah konflik.

Komnas HAM Papua menegaskan pendekatan keamanan di Papua Tak boleh hanya bersifat represif, melainkan harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan perlindungan Orang yang berbasis hak asasi Orang.

“Saya mengecam tindakan penyerangan terhadap Anggota sipil. Penyerangan ini Tak dapat dibenarkan dengan Argumen apapun. Ini merupakan pelanggaran HAM dan hukum humaniter Global,” kata Frits.

Wartawan Muhammad Ikbal Asra berkontribusi dalam artikel ini.