OJK: Pengaruh pelemahan nilai Ganti terhadap BPR relatif lebih terbatas

OJK: Dampak pelemahan nilai tukar terhadap BPR relatif lebih terbatas

Jakarta (ANTARA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Pengaruh langsung pelemahan nilai Ganti terhadap Bank Perekonomian Rakyat (BPR) relatif lebih terbatas karena bank ini menghimpun Biaya dan menyalurkan kredit dalam mata Dana rupiah serta melayani masyarakat dan UMKM di daerah.

Selain itu, BPR juga Enggak melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing sehingga Enggak Mempunyai eksposur langsung terhadap risiko nilai Ganti sebagaimana bank Standar yang Mempunyai transaksi valas.

“Tetapi demikian, BPR tetap berpotensi menghadapi Pengaruh Enggak langsung (indirect impact),” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam jawaban tertulis di Jakarta, Rabu.

Dian merinci, Pengaruh Enggak langsung tersebut antara lain menurunnya kemampuan bayar debitur UMKM yang bergantung pada bahan baku impor atau produk impor, meningkatnya biaya produksi dan operasional pelaku usaha kecil akibat kenaikan harga bahan baku impor, serta tekanan inflasi yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat sehingga memengaruhi kinerja usaha debitur BPR.

“OJK senantiasa mendorong BPR Kepada memperkuat ketahanan dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi berbagai dinamika ekonomi, termasuk volatilitas nilai Ganti,” kata Dian.

OJK meminta BPR Kepada meningkatkan pemantauan terhadap debitur yang Mempunyai sensitivitas tinggi terhadap perubahan nilai Ganti, terutama pelaku usaha yang bergantung pada kegiatan impor atau Mempunyai keterkaitan dengan rantai pasok Mendunia.

Selain itu, BPR diminta Kepada mengidentifikasi lebih Pagi terhadap debitur yang mulai mengalami tekanan arus kas sehingga langkah mitigasi dan penanganan dapat dilakukan sebelum kualitas kredit memburuk dengan menerapkan early warning system yang ketat.

“Pada akhirnya, permodalan yang kuat menjadi bantalan Esensial dalam menghadapi peningkatan risiko. Oleh karena itu, BPR perlu memastikan tingkat permodalan dan pembentukan CKPN telah memadai,” kata Dian.

Ia menyampaikan bahwa OJK Lalu mencermati perkembangan perekonomian Mendunia yang Demi ini Lagi dibayangi gejolak geopolitik dan harga minyak yang berdampak pada eskalasi volatilitas di pasar keuangan Mendunia serta penguatan indeks dolar AS yang Membangun peningkatan fluktuasi nilai Ganti negara emerging markets.

Secara berkesinambungan, OJK juga Lalu melakukan monitoring intensif terhadap perkembangan kinerja industri perbankan.

Pelemahan nilai Ganti rupiah dapat memicu peningkatan biaya produksi dan inflasi, akibat meningkatnya biaya barang impor, yang selanjutnya dapat mempengaruhi daya beli masyarakat.

Secara keseluruhan, Dian mengatakan bahwa pelemahan rupiah belum berdampak langsung dan signifikan terhadap stabilitas sistem jasa keuangan.

Spesifik di sektor perbankan, kondisi ini antara lain ditopang oleh Posisi Devisa Neto (PDN) yang rendah dan berada jauh di Dasar ambang batas yang ditetapkan. Pada April 2026, PDN berada pada level 1,63 persen dan posisi long, jauh di Dasar threshold sebesar 20 persen.