Muna (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), melalui Desa Liangkabori menggelar Festival Layang-Layang “Kaghati Kolope” di kawasan cagar budaya Goa Liangkobori, sebagai upaya merawat dan melestarikan jejak peradaban berupa layang-layang purba.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna LM Masrul Begitu ditemui di Muna, Minggu, menyampaikan bahwa festival ini menjadi momentum Krusial Kepada memperkenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi muda agar Tak tergerus oleh perkembangan Era.
“Layang-layang Kaghati Kolope ini merupakan layang-layang purba. Jejak sejarahnya terekam Jernih pada situs Goa Liangkobori, di mana terdapat lukisan dinding prasejarah yang menggambarkan orang sedang menerbangkan layang-layang,” kata Masrul.
Dia menyebutkan bahwa keunikan Kaghati Kolope terletak pada bahan bakunya yang sepenuhnya memanfaatkan hasil alam secara turun-temurun. Daun umbi hutan (kolope) yang dikeringkan digunakan sebagai bahan Penting badan layangan, bambu sebagai rangka, serta serat nanas atau serat kulit pohon sebagai talinya.

Sebagai langkah konkret, Dinas Pariwisata Muna berkomitmen Kepada mengampanyekan warisan budaya ini secara masif agar masyarakat, khususnya generasi muda, tertarik dan familiar dalam menjaga eksistensi Kaghati Kolope.
“Selain bernilai sejarah, tradisi ini juga sarat akan filosofi mendalam mengenai keharmonisan antara Orang dengan alam, semangat gotong royong, serta penguatan identitas budaya daerah,” sebutnya.
Masrul mengungkapkan bahwa dalam perlombaan Kaghati Kolope tersebut terdapat beberapa penilaian, antara lain natural, yang mana bahan yang digunakan secara keseluruhan harus betul-betul berasal dari bahan tradisional, kemudian kemampuan terbangnya, hingga aksesori yang digunakan dalam layangan tersebut.
“Ini Terdapat tujuh layang-layang tradisional yang mengikuti lomba, dan Sekeliling 20 layang-layang Ciptaan,” jelasnya.
Ia berharap, konsistensi dalam pelestarian Kaghati Kolope Tak hanya Pandai menjaga eksistensi budaya leluhur Muna, tetapi juga dapat didorong menjadi daya tarik wisata budaya strategis. Ke depan, festival ini diharapkan Pandai memperkenalkan kekayaan tradisi Sulawesi Tenggara ke Pentas nasional hingga Dunia.

Kepala Dispar Kabupaten Muna (kanan) Begitu menunjukkan menerbangkan Kaghati Kolope (layang-layang) tradisional yang mengikuti lomba di Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026). ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra
Dispar Kabupaten Muna (kanan) Begitu menunjukkan menerbangkan Kaghati Kolope (layang-layang) tradisional yang mengikuti lomba di Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026).
Salah satu peserta festival, Laode Sainal, mengungkapkan bahwa proses pengerjaan satu buah layang-layang Pandai memakan waktu hingga hitungan hari.
“Layang-layang ini menggunakan daun kolope yang diambil langsung dari hutan oleh perajin. Lamban pembuatannya sangat tergantung pada kemahiran. Terdapat yang selesai dalam satu hari, Tetapi Terdapat juga yang membutuhkan waktu Tiba lima hari. Kepada layangan yang saya gunakan ini, proses pembuatannya memakan waktu lima hari,” kata Laode.
