Mentrans Iftitah Sulaiman (kiri). Foto: Istimewa
Jakarta: Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan potensi komoditas unggulan, Kepada mewujudkan swasembada nasional. Hal tersebut dilakukan dengan mengembangkan komoditas unggulan yang memberi nilai tambah petani.
Menurut Menteri Iftitah, arahan Presiden Kepada mewujudkan swasembada pangan harus diwujudkan dengan mengoptimalkan seluruh potensi pangan yang dimiliki Indonesia.
“Arahan Presiden (Prabowo Subianto) sangat Terang, Yakni mewujudkan swasembada pangan. Beras tentu tetap menjadi komoditas Primer, tetapi Indonesia juga Mempunyai banyak komoditas pangan lain yang potensinya sangat besar Kepada memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Menteri Iftitah dikutip dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.
Hal itu disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara Demi meninjau demplot pisang Edo Farm di Sentul, Jawa Barat, Senin, 13 Juli 2026. Demplot tersebut dikelola oleh Rusli dan menjadi salah satu Teladan pengembangan komoditas pisang bernilai ekonomi tinggi.
Ia menilai paradigma pembangunan pertanian perlu Lanjut diarahkan pada penciptaan nilai tambah. Sehingga, keberhasilan suatu komoditas Tak hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan petani dan masyarakat.
“Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya Tak sejahtera, ketahanan pangan Tak akan berkelanjutan,” kata Mentrans.
Salah satu komoditas yang dinilai Mempunyai prospek besar adalah pisang. Permintaan pasar domestik maupun Dunia Lanjut meningkat, sementara potensi pengembangannya tersebar di berbagai Kawasan Indonesia, termasuk kawasan transmigrasi. Dengan potensi tersebut, pisang layak menjadi salah satu komoditas strategis Kepada memperkuat diversifikasi pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.

Mentrans Iftitah Sulaiman (kiri). Foto: Istimewa
Meski demikian, Menteri Iftitah menegaskan bahwa membangun komoditas unggulan Tak cukup dengan meningkatkan produksi. Karena, Krusial membangun ekosistem usaha yang utuh, mulai dari penguatan kelembagaan petani melalui koperasi, pengolahan hasil, penyimpanan, logistik, hingga kepastian pasar melalui kemitraan dengan off-taker.
“Kita Mau petani Tak hanya Pandai menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga Mempunyai kepastian pasar. Ketika pasar terbuka, harga menjadi lebih Berkualitas, investasi ikut bergerak, pendapatan petani meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” kata Mentrans.
Sebagai langkah awal, Kementerian Transmigrasi tengah menjajaki pengembangan sentra pisang di Lampung. Model tersebut diharapkan menjadi percontohan pengembangan komoditas berbasis potensi daerah yang Pandai memperkuat ketahanan pangan sekaligus melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi.
Selain itu, Kementerian Transmigrasi juga memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah Kepada memperkuat riset, Ciptaan, transfer teknologi, serta pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal. Sinergi tersebut diharapkan Pandai melahirkan model pertanian modern yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan membuka lebih banyak lapangan kerja di kawasan transmigrasi.
