Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan Pusat Finansial Global Indonesia (PFII) mulai beroperasi tahun 2026.
“Kita lihat nanti Eksis PP (Peraturan Pemerintah) segala Ragam belum disusun. Kita harapkan peraturan terlaksana 6 bulan,” kata Purbaya usai menghadiri konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026 di Jakarta, Selasa.
Sebagaimana diketahui, dalam rapat paripurna Selasa (21/7), DPR RI telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) PFII menjadi Undang-Undang. Dengan disahkannya RUU ini, Indonesia Mempunyai landasan hukum Demi pembentukan kawasan PFII yang diharapkan dapat menarik investasi skala Dunia.
Menurut dia, kondisi ketidakpastian ekonomi Dunia Ketika ini Bahkan meningkatkan kebutuhan para investor akan keberadaan pusat finansial Global.
“Operasinya kita harap secepatnya. Kita Dapat usahakan tahun ini. Kenapa? Karena ini kan uncertainty-nya lebih tinggi. Di situlah demand Demi pusat finansial meningkat,” jelasnya.
Adapun Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal menegaskan bahwa penyusunan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Global Indonesia (PFII) Bukan dilakukan secara tergesa-gesa, meski harus dipercepat demi menangkap Kesempatan perpindahan Anggaran Dunia agar masuk ke Indonesia.
“Ya Bukan buru-buru juga. Memang ini kan merupakan perintah dari Undang-Undang P2SK,” kata Hekal Ketika dijumpai wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa.
Hekal, yang juga merupakan Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU PFII, menjelaskan penyusunan undang-undang ini merupakan amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang harus diselesaikan dalam waktu tiga bulan.
Ia mengungkapkan bahwa semula, ketentuan mengenai PFII direncanakan dimuat dalam UU P2SK. Tetapi karena cakupannya cukup besar, pembahasannya dipisahkan menjadi undang-undang tersendiri.
“Tapi memang ini menjadi program yang agak kita dahulukan,” kata Hekal.
Ia menambahkan bahwa Indonesia Mau memanfaatkan Kesempatan perpindahan Anggaran Dunia di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Apabila Indonesia terlambat, Kesempatan tersebut berpotensi beralih ke negara lain yang juga tengah mengembangkan pusat keuangan Global.
“Karena di negara-negara lain banyak yang baru saja juga melahirkan financial center baru. Kita dengar di Uzbekistan baru melahirkan (pusat keuangan), di Vietnam malah meluncurkan dua (pusat keuangan) sekaligus. Jadi kita memang agak dalam proses balap-balapan,” Jernih dia.
